Harga XRP tetap berada di bawah tekanan selama beberapa minggu terakhir, dengan beberapa upaya pemulihan gagal mendapatkan momentum. Menjelang akhir 2025, altcoin ini terus tertekan oleh momentum bearish setelah mencatat tahun yang secara keseluruhan sedikit negatif.
Permintaan spot yang lemah serta partisipasi ritel yang hati-hati membebani pergerakan harga. Tapi, minat institusional muncul sebagai kekuatan utama penstabil XRP, sehingga mencegah penurunan lebih dalam meskipun tekanan jual terus berlangsung.
XRP jadi favorit institusi
Sepanjang 2025, investor institusional telah menjadi pendukung paling konsisten XRP. Berdasarkan data CoinShares, XRP mencatat arus masuk sebesar US$70 juta pada pekan yang berakhir 27 Desember. Ini mendorong total arus masuk bulan berjalan menjadi US$424 juta, yang menandakan alokasi modal yang stabil bahkan saat harga turun.
SponsoredMenariknya, XRP mampu mengungguli aset digital yang kapitalisasinya lebih besar di periode yang sama. Bitcoin mencatat arus keluar sebesar US$25 juta, sedangkan Ethereum mengalami arus keluar yang jauh lebih besar yakni total US$241 juta.
Butuh insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Sepanjang tahun, XRP menarik arus masuk senilai US$3,3 miliar, yang menandakan kepercayaan institusional tetap terjaga meskipun volatilitas dan ketidakpastian hukum masih menghantui pasar aset kripto secara luas.
ETF XRP Tunjukkan Kekuatan
Dukungan institusional meluas hingga ke produk ETF XRP yang baru saja diluncurkan tahun ini, tidak hanya di exchange-traded product tradisional saja. Sejak awal debutnya, ETF XRP belum pernah mencatat satu hari pun arus keluar bersih. Hanya satu sesi perdagangan yang berakhir flat tanpa arus masuk, yang menunjukkan konsistensi permintaan yang luar biasa kuat.
Kepada BeInCrypto, Ray Youssef, CEO aplikasi kripto NoOnes, menekankan bahwa investor institusional menjalankan strategi yang terstruktur dan berjangka panjang.
“Akumulasi XRP pada awal Desember adalah positioning strategis oleh partisipan pasar untuk memanfaatkan momentum ETF. Seperti halnya siklus peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum sebelumnya, investor institusional biasanya mengakumulasi aset sebelum harga mulai mencerminkan perkembangan itu,” papar Youssef.
Dia juga menyampaikan bahwa saat ini, XRP dipandang sebagai aset high beta dengan proposisi nilai yang kuat.
“[Hal ini] berkat peningkatan partisipasi pelaku institusional dalam perdagangan asetnya, sehingga membuatnya makin mainstream. Meski harga masih lemah, trader tetap menganggap harga saat ini sebagai peluang masuk yang sesuai demi menangkap potensi pertumbuhan ketika performa XRP pada akhirnya mencerminkan momentum ETF tersebut,” ujar Youssef.
Holder XRP yang Menolak untuk Menjadi Holder
Holder jangka panjang masih menjadi kelompok penting memasuki 2026. Secara historis, kelompok ini berperan menstabilkan pasar saat terjadi penurunan. Selama setahun terakhir, para holder jangka panjang silih berganti antara akumulasi dan distribusi, mencerminkan ketidakpastian terhadap prospek menengah XRP.
Pada kuartal IV 2025, aktivitas jual mendominasi perilaku holder jangka panjang. Pergeseran ini menunjukkan kepercayaan investor yang biasanya tahan banting terhadap volatilitas mulai menurun. Bila kondisi ini berlanjut ke 2026, XRP berpotensi menghadapi risiko penurunan yang lebih tinggi. Distribusi berkelanjutan dari holder jangka panjang sering kali mendahului periode konsolidasi panjang atau koreksi yang lebih dalam.
Harga XRP Mungkin Akan Memulai 2026 dengan Pergerakan Ringan
Pada waktu publikasi, harga XRP diperdagangkan di kisaran US$1,87 usai mengalami penurunan sebesar 38% selama kuartal IV 2025. Secara year-to-date, performa altcoin ini turun 9,7% dari harga pembukanya. Sepanjang Desember, gagal tercipta momentum positif yang membuat sentimen bearish justru menguat saat penutupan tahun.
Meski begitu, 2026 bisa jadi memiliki arah berbeda. Ray Youssef menuturkan bahwa Januari, bahkan mungkin sepanjang kuartal pertama, akan masih stagnan untuk XRP.
“XRP kemungkinan akan terus berkonsolidasi dan bergerak antara US$2 hingga US$2,50 pada Januari dan kuartal I 2026, kecuali muncul katalis ekonomi makro utama. Pasar masih belum pulih dari volatilitas dan gangguan geopolitik yang disebabkan oleh hubungan dagang yang menegang. Banyaknya episode deleveraging serta risk-off membuat trader ragu untuk menambah eksposur arah sebelum seluruh tekanan pasar benar-benar hilang,” terang Youssef.
Tujuan utamanya tetap memulihkan kerugian baru-baru ini. Kenaikan harga yang konsisten di atas US$3,00 diperlukan untuk membangun kembali struktur bullish dan membuka jalan menuju all-time high US$3,66.
Sponsored SponsoredSkenario penurunan masih relevan jika tekanan jual semakin kuat. Konsolidasi yang berlanjut, ditambah permintaan yang menurun, bisa mendorong XRP lebih rendah. Breakout yang tegas di bawah level support US$1,79 kemungkinan akan membawa harga ke area US$1,50. Pergerakan seperti ini akan membatalkan pandangan bullish-netral dan memperkuat dominasi bearish.
Faktor musiman juga menambah kewaspadaan.
“XRP kurang berkinerja di bulan Desember karena kelemahan struktur pasar yang lebih luas. Pengetatan likuiditas, minat risiko yang lemah, dan sentimen bubble AI yang menyebabkan aksi jual hingga menular ke aset berisiko tinggi dan seluruh pasar aset digital, telah mengurangi efek musim yang biasanya positif. Pasar kripto alami performa kuartal IV terburuk dalam hampir 7 tahun,” terang Youssef lebih lanjut.
Sejarah performa XRP selama 12 tahun terakhir menunjukkan Januari memberi rata-rata kenaikan 3%. Tapi, imbal hasil median justru mencatat penurunan 7,8%, menandakan kerap terjadi underperformance.
Jadi, kecuali sentimen pasar dan perilaku investor berubah secara signifikan, prediksi harga XRP menunjukkan bahwa harga kemungkinan akan sulit naik selama awal 2026 sebelum tren arah yang lebih jelas muncul.