Bitcoin (BTC) sudah naik 6,54% sejauh ini di tahun 2026, memperlihatkan tanda-tanda awal kekuatan di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung serta kembalinya rasa optimistis pasar secara hati-hati.
Seiring pemulihan berlanjut, seorang analis telah mengidentifikasi level krusial yang bisa menentukan apakah Bitcoin bertransisi dari struktur bearish ke tren bullish baru di tahun 2026.
SponsoredBitcoin Perpanjang Reli Awal 2026
Meski rasa takut pasar masih terasa di akhir 2025, awal tahun baru ini dimulai dengan langkah kuat bagi Bitcoin dan pasar aset kripto secara lebih luas. Pada hari Senin, aset kripto terbesar ini melonjak menembus US$95.000, harga yang belum pernah tercapai sejak awal Desember.
Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di harga US$93.230, mencatatkan kenaikan 0,69% dalam 24 jam terakhir. Pasar aset kripto yang lebih luas juga menguat, dengan beberapa sektor mencatatkan lonjakan signifikan, karena minat risiko secara perlahan mulai kembali.
Para analis menilai kenaikan ini terjadi karena gabungan beberapa faktor, termasuk adanya alokasi baru di tahun baru setelah aksi jual terkait pajak di akhir tahun, meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah serangan AS ke Venezuela, dan sentimen pasar yang terus membaik.
Pergeseran sentimen ini juga didukung oleh arus masuk kuat ke exchange-traded fund (ETF). BeInCrypto melaporkan bahwa pada 5 Januari, ETF menarik dana hampir US$695 juta, menjadi arus masuk harian terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Sponsored SponsoredApa yang Bitcoin Butuhkan untuk Bullish Trend Reversal
Di tengah upaya pemulihan ini, analis Crypto Dan menyoroti level on-chain kunci yang bisa menentukan arah tren lebih luas Bitcoin. Dan menerangkan saat ini Bitcoin diperdagangkan di bawah indikator penting: cost basis koin yang terakhir dipindahkan 6 sampai 12 bulan lalu, yang berada di sekitar US$100.000.
Secara historis, ketika harga masih di bawah level ini, kondisi pasar cenderung tetap bearish, dengan risiko penurunan yang masih tinggi.
Analis itu menjelaskan bahwa jika Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas cost basis ini, artinya ada perubahan signifikan dalam struktur pasar. Pada siklus sebelumnya, pergerakan semacam ini sering bersamaan dengan perubahan menuju kondisi bullish, sebab tekanan jual dari holder yang masih merugi jadi lebih lemah sehingga harga punya peluang naik lebih jauh.
“Setelah berminggu-minggu bergerak sideways, Bitcoin mulai menampakkan tanda rebound awal, membuat level ini menjadi ambang yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika gagal menembusnya, maka tren turun secara keseluruhan masih bertahan. Pada akhirnya, apakah pasar bisa menjadi bullish benar-benar ditentukan oleh level tunggal ini—dan kita tidak perlu menunggu lama untuk mengetahuinya,” tulis Dan.
Pertanyaan utama saat ini yaitu soal kapan Bitcoin akan menguji level tersebut. Analis Ted Pillows mengamati bahwa saat ini Bitcoin sedang berupaya merebut kembali level open tahunan 2025. Menurut sang analis, beberapa penutupan harga harian di atas zona ini bisa membuka peluang pergerakan ke arah US$100.000 dalam beberapa minggu ke depan.
Sponsored“Jika terjadi fakeout, BTC bisa turun ke zona support US$90.000-US$91.000,” tulis Pillows.
Selain indikator berbasis grafik, faktor ekonomi makro yang lebih luas juga ikut membangun ekspektasi pergerakan Bitcoin berikutnya. Beberapa analis menyoroti kemungkinan bertambahnya suplai minyak jika AS mendapat akses ke cadangan Venezuela, yang bisa menurunkan harga energi dan mengubah kondisi likuiditas global.
Biaya energi yang lebih murah bisa mendorong rotasi modal ke aset alternatif seperti Bitcoin. Dalam skenario ini, pasar kripto berpeluang mendapat keuntungan karena investor mengalihkan dananya mengikuti dinamika makro yang berubah.
Cadangan Bitcoin Venezuela yang dikabarkan lebih dari 600.000 koin juga bisa menjadi faktor berdampak jangka panjang. Jika cadangan itu akhirnya disita, berkurangnya pasokan di pasar bisa menciptakan situasi yang mendukung kenaikan valuasi Bitcoin di masa mendatang.