Walaupun sempat drop secara mengkhawatirkan pada Jumat lalu, Bitcoin berhasil bertahan dari “uji crash” di level US$100.000. Kini, sorotan beralih ke Washington. Shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS telah menguras likuiditas dari pasar keuangan, dan secara tidak langsung, dari pasar kripto.
Para analis berpendapat begitu kebuntuan fiskal ini rampung, mekanisme yang sebelumnya menarik likuiditas keluar akan justru mendorongnya kembali masuk, membuka peluang bagi fase pemulihan baru.
Kebuntuan Shutdown AS dan Dampak Ekonominya
Shutdown pemerintah, yang dimulai pada 1 Oktober 2025, kini telah memasuki minggu keenam setelah Kongres gagal mengesahkan pendanaan baru.
SponsoredKebuntuan ini berakar dari perdebatan mengenai subsidi kesehatan dan tingkat belanja pemerintah, di mana kedua pihak menolak untuk meloloskan rancangan anggaran “bersih” tanpa syarat tambahan.
Dampak ekonominya sudah terasa signifikan. Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) memprediksi kerugian ekonomi berkisar antara US$7 miliar hingga US$14 miliar.
Bahkan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal keempat diperkirakan menyusut hingga dua poin persentase.
Sentimen konsumen mendekati titik terendah dalam sejarah, penerbangan terganggu akibat kekurangan pengatur lalu lintas udara, dan berbagai program negara menghadapi tekanan pendanaan.
Pembekuan kas yang berkepanjangan ini telah menjadi beban besar bagi ekonomi AS secara keseluruhan.
- Baca Juga: Akankah Sejarah Berulang? Trader Bitcoin Antisipasi Reli saat Kesepakatan Shutdown AS Mendekat
Bagaimana Shutdown Pemerintah AS Berimbas ke Pasar Kripto
Secara finansial, shutdown ini telah membekukan ratusan miliar dolar di dalam Treasury General Account (TGA) — yakni cadangan kas milik pemerintah AS. Setiap dolar yang “diparkir” di sana berarti satu dolar yang tidak beredar dalam sistem keuangan.
Sejak plafon utang AS dinaikkan pada Juli lalu, saldo TGA membengkak hingga lebih dari US$850 miliar, menyedot likuiditas sekitar 8% dari pasar. Bitcoin turut mencerminkan dampak tersebut, turun sekitar 5% dalam periode yang sama.
Sponsored SponsoredKorelasi ini, yang telah lama diamati oleh para analis on-chain, menyoroti betapa sensitifnya pasar kripto terhadap perubahan likuiditas dolar AS.
Arthur Hayes menyebut dinamika ini sebagai “quantitative easing diam-diam yang bergerak terbalik”. Saat Departemen Keuangan menimbun kas, likuiditas mengetat, aset berisiko jatuh, dan Bitcoin terkoreksi.
Namun, begitu pemerintah kembali dibuka dan memulai belanja lagi, likuiditas itu akan mengalir kembali melalui sistem perbankan, pasar uang, dan sistem stablecoin — secara efektif membalikkan penyedotan likuiditas yang terjadi selama shutdown.
Akankah Pasar Kripto Pulih setelah Pemerintah AS Akhiri Shutdown?
Jawaban singkatnya: ya, pasar kripto sangat berpotensi untuk pulih — bahkan mungkin rebound — begitu shutdown pemerintah AS berakhir.
SponsoredHanya saja, timing dan besarnya pemulihan akan bergantung pada seberapa cepat likuiditas kembali dilepaskan ke dalam sistem keuangan.
Aset kripto — khususnya Bitcoin — diperdagangkan sebagai aset berisiko yang sangat sensitif terhadap likuiditas. Ketika likuiditas dolar mengetat, harga kripto cenderung turun; sebaliknya, ketika likuiditas meluas, harga biasanya naik.
Pola ini telah berulang di berbagai siklus pasar:
- Maret 2020: Injeksi likuiditas global memicu dimulainya bull run COVID-19.
- Maret 2023: Perluasan neraca The Fed selama krisis perbankan AS mendorong rebound Bitcoin dari US$20.000 ke US$30.000.
- 2025: Korelasi antara Bitcoin dan likuiditas dolar (diukur dengan USDLiq Index) tetap tinggi di sekitar 0,85 — salah satu yang terkuat di antara semua kelas aset.
Bitcoin telah menutup perdagangan di atas US$100.000 selama enam bulan berturut-turut, sementara RSI bertahan di sekitar 46, jauh di bawah level euforia. Para analis menyebut fase ini sebagai “window of pain”, yaitu periode tekanan harga akibat pengetatan fiskal sementara.
Gambaran ekonomi makro yang lebih luas juga mendukung potensi pemulihan ini:
Sponsored Sponsored- Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada awal 2026 meningkat seiring pelemahan pertumbuhan jangka pendek akibat kebuntuan fiskal.
- Likuiditas global dari Cina dan Jepang terus naik, mengimbangi pengetatan dari AS.
- Leverage spekulatif di pasar kripto telah tereliminasi, menyisakan fondasi pasar yang lebih sehat.
Jika tidak ada guncangan baru, kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi yang memungkinkan Bitcoin pulih ke kisaran US$110.000–US$115.000 pada kuartal berikutnya.
Prospek: Saat Dolar Mengalir, Bitcoin Mengikutinya
Yang perlu diingat, koreksi pasar kripto kali ini bukan disebabkan oleh memudarnya antusiasme, melainkan oleh likuiditas yang membeku.
Begitu pemerintah AS kembali beroperasi, belanja Departemen Keuangan dan mekanisme dukungan The Fed — seperti Standing Repo Facility — akan kembali menyuntikkan dana ke dalam sistem keuangan.
Ekspektasi umumnya sederhana: aset kripto turun karena aliran dolar berhenti bergerak. Maka, ia akan naik kembali ketika dolar mulai mengalir lagi.
Secara praktis, berakhirnya shutdown dapat menjadi awal dari rebound yang didorong likuiditas di seluruh pasar kripto.
Bagaimana pendapat Anda tentang analisis dan prediksi harga Bitcoin (BTC) pasca rampungnya shutdown pemerintah AS kelak? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!