Investor miliarder sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menilai bahwa tatanan global yang terbentuk setelah Perang Dunia II kini mulai runtuh. Ia menerangkan bahwa dunia sedang memasuki apa yang ia sebut sebagai “Tahap 6” dari “Big Cycle.”
Peringatan dari Dalio ini memicu perdebatan baru mengenai instabilitas geopolitik dan dampaknya terhadap pasar aset kripto.
SponsoredRay Dalio Sebut Kita Masuk “Stage 6” saat Tatanan Dunia Mengalami Breakdown
Dalio menjelaskan situasi saat ini menggunakan konsep “Big Cycle”. Pola ini menggambarkan bagaimana kerajaan besar naik, mencapai puncak, lalu akhirnya mengalami kemunduran. Berdasarkan model ini, menurut Dalio, dunia kini berada di “Tahap 6.”
“Dalam bahasa saya, kita kini ada di bagian Tahap 6 dari Big Cycle, di mana terjadi kekacauan besar karena berada di periode tanpa aturan, kekuatan adalah segalanya, serta terjadi bentrokan antar kekuatan besar,” tulis unggahan tersebut.
Tidak seperti dalam sistem politik domestik, Dalio menjelaskan bahwa hubungan internasional tidak memiliki mekanisme penegakan hukum yang efektif, misalnya hukum wajib ataupun arbitrase netral. Karena itulah, urusan global pada akhirnya diatur oleh kekuatan, bukan aturan. Ketika satu negara dominan melemah dan pesaingnya makin kuat, biasanya ketegangan akan meningkat.
Dalio mengidentifikasi lima jenis konflik yang biasanya naik eskalasi di periode seperti ini: perang dagang dan ekonomi, perang teknologi, perang modal—yang melibatkan sanksi dan pembatasan finansial, perebutan geopolitik terkait aliansi dan wilayah, serta terakhir, perang militer.
Ia menuturkan bahwa hampir semua konflik besar bermula dari tekanan ekonomi dan finansial jauh sebelum terjadi baku tembak. Dalio membandingkan situasi ini dengan tahun 1930-an, saat krisis utang global, kebijakan proteksionisme, ekstremisme politik, dan nasionalisme meningkat sebelum meletusnya Perang Dunia II.
Ia juga menjelaskan bahwa sebelum konflik militer besar meletus, berbagai negara sudah saling menerapkan tarif, membekukan aset, menegakkan embargo, serta melakukan pembatasan finansial—strategi yang juga nampak digunakan pada masa sekarang.
Sponsored SponsoredMenurut Dalio, titik rawan terbesar dalam siklus saat ini adalah persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Cina, terutama terkait Taiwan.
“Pilihan yang dihadapi negara-negara yang saling bersaing—bertarung atau mundur—sangat sulit diambil. Keduanya sama-sama mahal: bertarung memakan korban jiwa dan harta, mundur berarti kehilangan status karena dinilai lemah, sehingga berujung pada berkurangnya dukungan. Jika dua pihak yang bersaing masing-masing punya kekuatan untuk menghancurkan satu sama lain, keduanya harus benar-benar percaya bahwa mereka tidak akan terluka atau terbunuh secara tidak dapat diterima oleh pihak lain. Namun, mengelola prisoner’s dilemma dengan baik sangatlah langka,” tulis Dalio.
Meskipun begitu, peringatan seperti ini bukanlah hal baru. Dalio sudah menyampaikan himbauan serupa selama beberapa tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa pernyataan terbarunya merupakan bagian dari tesis jangka panjang yang konsisten, bukan perubahan mendadak.
Meski demikian, penting juga dicermati bahwa Dalio tidak secara langsung memprediksi terjadinya perang militer, tetapi ia menyoroti bahwa kondisi struktural yang biasanya muncul saat peralihan kekuasaan besar kini telah terjadi.
Sponsored SponsoredImplikasi Lebih Luas untuk Pasar Aset Kripto
Peringatan Dalio ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kinerja aset digital ke depannya. Pada periode yang diwarnai sanksi, pembekuan aset, dan pembatasan keuangan lintas negara, aset kripto bisa semakin dilirik sebagai alternatif infrastruktur settlement yang berada di luar sistem perbankan tradisional.
Bitcoin sendiri sering dipandang tahan sensor dan sulit terkena pembatasan modal. Karakteristik ini bisa makin penting bila fragmentasi finansial terus tumbuh. Di sisi lain, aset kripto tetap sensitif terhadap kondisi likuiditas global.
Secara historis, gejolak geopolitik dan pengetatan kebijakan biasanya memicu reaksi risk-off secara luas di pasar. Imbasnya, saham dan aset berisiko tinggi juga ikut tertekan.
SponsoredJika ketegangan yang meningkat berujung pada pengetatan likuiditas atau minat risiko investor menurun, pasar kripto berpotensi mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
“Untuk saham, hal ini kemungkinan berarti volatilitas lebih tinggi, valuasi lebih rendah, dan pergerakan harga yang lebih tajam seiring naiknya risiko geopolitik. Untuk kripto, melemahnya kepercayaan pada uang tradisional bisa mendorong minat jangka panjang, namun tekanan jangka pendek tetap bisa memicu lonjakan harga yang tajam,” komentar analis Ted Pillows .
Faktor penting lainnya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik bisa membuat investor melirik aset safe haven tradisional. Emas selama ini selalu diuntungkan pada masa ketidakpastian, karena modal mencari stabilitas dan penyimpan nilai yang sudah teruji.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga logam mulia mencetak rekor tertinggi, sedangkan aset kripto kesulitan pulih setelah koreksi pasar pada Oktober akibat tarif. Perbedaan ini menyoroti kenyataan bahwa meski narasi Bitcoin sebagai “emas digital” populer, mayoritas investor tetap memilih emas sebagai lindung nilai utama saat gejolak geopolitik memuncak.
Jika ketegangan makin dalam, arus modal bisa terus mengalir ke aset defensif yang sudah mapan dibanding alternatif yang lebih volatil. Bagi pasar kripto, dinamika ini memberi gambaran kompleks: narasi jangka panjang seperti pelemahan nilai uang dan fragmentasi keuangan bisa semakin menguat, namun aksi harga dalam waktu dekat tetap rawan dipengaruhi perubahan sentimen risiko global.