Andy Baehr, managing director asset management di GSR, mengatakan breakout Bitcoin di harga US$80.000 menandai rezim baru di pasar. Ia menyampaikan bahwa perusahaan trading kripto tersebut mengamati perubahan musim panas yang stagnan menjadi pergerakan nyata hanya dalam hitungan hari.
Baehr telah menghabiskan 25 tahun di meja derivatif Wall Street, termasuk di Morgan Stanley dan Credit Suisse, sebelum akhirnya terjun ke aset kripto.
Mengapa Baehr Melihat Rezim Baru Bitcoin Setelah US$80.000
Bitcoin (BTC) sempat bergerak naik, menembus dan bertahan di harga US$80.000 minggu ini, dengan puncak tertinggi di US$81.272 pada hari Senin. Ini merupakan kali pertama sejak bulan Mei aset kripto pertama tersebut kembali menguji level ini.
Baehr sebelumnya mengimbau untuk bersabar selama yang ia sebut sebagai “musim panas yang super lambat” dengan volume tipis dan pergerakan harga yang lesu. Fenomena stagnansi ini pun tercatat secara jelas. Dana aset kripto mencatat aliran keluar sebesar rekor US$8 miliar selama delapan minggu berturut-turut penarikan ETF sebelum akhirnya permintaan kembali muncul.
Lalu suasana pasar berubah dengan cepat. Berita mengenai pembelian kembali surat utang pemerintah dengan jatuh tempo panjang datang bersamaan dengan rencana temu para eksekutif kripto di Gedung Putih. Baehr mengenang bahwa para pemimpin industri juga tengah berkumpul di Jackson Hole saat berita tersebut muncul.
Sisa aksinya dilakukan oleh para bear yang terjepit. Trader dengan posisi short mengalami likuidasi sebesar US$1,06 miliar hanya dalam satu hari seiring momentum breakout semakin kencang.
ETF Bitcoin spot kemudian mencatat arus masuk bersih hampir US$2 miliar hanya dalam lima hari, terang Baehr. Permintaan call option kembali muncul, dan funding rate pada perpetual futures juga naik lagi.
“Semua itu adalah tanda struktur pasar yang baik, menandakan reli kali ini benar-benar nyata, dan kita bisa mengharapkan energi lebih besar ke depannya,” papar Baehr dalam wawancara tersebut.
Aksi pasar ini sekarang sedang menghadapi ujian pertamanya. BTC diperdagangkan di kisaran US$78.530, turun sekitar 0,8% dalam 24 jam terakhir. Para analis masih memetakan arah menuju US$83.000 jika momentum bertahan.
Ethereum, Solana, dan Faktor Liar Clarity Act
Reli ini juga merambah aset kripto selain Bitcoin. Model milik GSR telah memilih Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) sebagai favorit beberapa pekan terakhir. Model Core3 miliknya bahkan baru-baru ini menempatkan Solana dengan porsi terbesar, sekitar 44%.
Baehr menilai pergerakan tersebut sebagai taruhan atas adopsi blockchain itu sendiri. Menurut pandangannya, arus masuk ke ETH dan SOL menunjukkan bahwa para investor berekspektasi tokenisasi dan stablecoin akan mengubah cara pasar menyelesaikan transaksi.
Legislasi masih menjadi faktor liar. Baehr berharap Clarity Act bisa lolos tahun ini. RUU tersebut akan menentukan bagaimana SEC dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) membagi pengawasan terhadap aset kripto.
Ia mengakui pemungutan suara bisa saja mundur hingga 2027 dan menyebut pembuatan aturan oleh lembaga sebagai solusi alternatif yang kredibel. Menurut dia, kedua regulator kini sudah bekerja sama dalam cara yang jarang terjadi di pasar tradisional.
Baehr juga menyebut utang AS yang melewati US$40 triliun sebagai bahan bakar untuk trading pelemahan nilai dolar yang menguntungkan Bitcoin dan emas. Apakah rezim baru ini akan bertahan, nampaknya akan terlihat pertama kali di arus masuk ETF dan funding rate.









