Kembali

Ritel All-In pada Minyak: Apa Arti Lonjakan Harga untuk S&P 500

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Harsh Notariya

16 Maret 2026 15.03 WIB
  • Brent crude mencapai US$106 pada hari Minggu di tengah konflik Timur Tengah.
  • Investor ritel sedang ramai-ramai masuk ke ETF minyak pada level rekor.
  • Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak mungkin tidak merugikan saham.
Promo

Harga minyak terus naik akibat ketegangan yang berlanjut di Timur Tengah. Minyak Brent sempat menembus US$106 per barel pada hari Minggu sebelum terkoreksi tipis di perdagangan awal Senin.

Di tengah kondisi ini, permintaan ritel untuk eksposur ke minyak melonjak tajam. Pembelian ritel dalam exchange-traded fund (ETF) minyak murni selama satu bulan terakhir mencapai rekor US$211 juta pada hari Kamis.

Disponsori
Disponsori

Investor Ritel Serbu Minyak saat Konflik di Timur Tengah Dorong Harga Melonjak

Menurut The Kobeissi Letter, United States Oil Fund ETF (USO) saja menarik arus masuk ritel sebesar US$32 juta, menjadi pembelian harian terbesar ketiga sepanjang sejarah.

Saat ini, total pembelian ETF minyak oleh ritel telah meningkat sekitar 10 kali lipat dari rata-rata lima tahunnya. Hal ini menunjukkan lonjakan permintaan dari investor individu.

“Pembelian ritel dalam satu bulan terakhir di ETF minyak murni melonjak ke rekor +US$211 juta pada Kamis. Angka ini melampaui puncak Mei 2020 yang sebesar +US$200 juta dan tiga kali lipat dari rekor tertinggi tahun 2022 yang sebesar +US$70 juta,” demikian tertulis dalam unggahan tersebut.

Tapi, apakah lonjakan harga minyak ini menjadi masalah untuk pasar saham? Data historis menunjukkan sebaliknya. The Kobeissi Letter memaparkan bahwa data selama empat dekade terakhir menunjukkan indeks S&P 500 rata-rata mencetak kenaikan 24% dalam 12 bulan setelah lonjakan harga minyak sebesar 20% atau lebih dalam dua hari.

Sejak tahun 1986, indeks ini selalu mencatatkan hasil lebih tinggi dalam satu tahun setelah lonjakan tersebut di enam dari tujuh kejadian.

“Pemulihan terkuat terjadi sebesar +54% setelah crash pandemi 2020, didorong oleh respons stimulus besar-besaran dari bank sentral dan pemerintah,” tambah The Kobeissi Letter dalam penjelasannya. “Guncangan minyak secara historis berlangsung singkat dan memberikan peluang beli jangka panjang.”

Satu-satunya pengecualian terjadi saat krisis keuangan 2008. Kesimpulannya: Guncangan harga minyak yang tidak bertepatan dengan resesi ekonomi biasanya diikuti oleh reli kuat di S&P 500 berdasarkan sejarah.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori