Robinhood telah meluncurkan public testnet untuk Robinhood Chain, sebuah Ethereum layer-2 tingkat finansial yang dibangun di atas Arbitrum. Johann Kerbrat, SVP dan General Manager Robinhood Crypto, mengumumkan peluncuran testnet ini di Consensus Hong Kong pada hari Rabu, menandai fase pengembangan publik pertama dari chain yang pertama kali dibocorkan pada keynote perusahaan di Cannes tahun lalu.
Dalam sebuah wawancara dengan BeInCrypto di Hong Kong sebelum pengumuman tersebut, Kerbrat memaparkan visi perusahaan untuk chain ini, termasuk aset dunia nyata yang ditokenisasi, perdagangan 24/7, dan program hackathon pengembang dengan total hadiah US$1 juta.
SponsoredMengapa Membangun Chain Sendiri
Testnet ini membuka akses ke titik masuk jaringan, dokumentasi pengembang, serta kompatibilitas penuh dengan alat pengembangan Ethereum standar. Para mitra ekosistem, termasuk Alchemy dan LayerZero, sudah mulai membangun di chain ini.
Peluncuran ini terjadi di saat yang krusial. Robinhood melaporkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$1,28 miliar pada hari Selasa, meleset dari ekspektasi analis yang sebesar US$1,35 miliar. Pendapatan dari transaksi kripto turun menjadi US$221 juta dari US$268 juta pada kuartal sebelumnya karena harga Bitcoin anjlok 23% selama periode tersebut. Saham perusahaan juga turun dari level tertinggi sepanjang masa di US$154 pada Oktober, mengikuti tren pasar kripto yang buruk secara umum.
Robinhood pertama kali menghadirkan ekuitas AS yang ditokenisasi kepada pelanggan di Uni Eropa pada Juli 2025 melalui kolaborasi dengan Arbitrum, menawarkan token tanpa komisi yang terhubung lebih dari 200 saham dan ETF AS. Kini, produk tersebut telah mencakup lebih dari 1.000 token saham di seluruh UE dan EEA. Tapi sejak awal perusahaan memang berniat untuk bermigrasi ke chain milik sendiri.
“Sejak awal, prosesnya selalu dua langkah. Teknologi Arbitrum memungkinkan Anda meluncur dulu di Arbitrum One lalu bermigrasi ke chain milik Anda sendiri,” tutur Kerbrat kepada BeInCrypto.
Motivasi utama mereka adalah kustomisasi. Jaringan layer-2 umum mengurus kepatuhan di level smart contract, sedangkan Robinhood Chain menanamkan persyaratan regulasi langsung di layer chain. Perbedaan ini sangat penting untuk sekuritas yang ditokenisasi, di mana pencetakan dan pembakaran token saham harus mematuhi aturan berbeda di setiap yurisdiksi.
Chain ini sendiri tetap permissionless — siapa pun dapat membangun di atasnya — tapi produk-produk yang dikembangkan Robinhood di atasnya memang didesain khusus untuk layanan finansial yang teregulasi.
Dari Token Saham ke Aset Dunia Nyata
Tokenisasi ekuitas publik adalah titik mulai, namun ambisi Robinhood jauh melampaui saham yang terdaftar saja. Kerbrat memaparkan bahwa mesin tokenisasi perusahaan ini memang dirancang agar dapat mendukung private equity, real estat, seni, dan aset dunia nyata lainnya di masa depan.
Sponsored SponsoredSalah satu keunggulan utamanya adalah memperluas jam perdagangan. Saat ini, token saham Robinhood sudah diperdagangkan 24 jam sehari, lima hari seminggu. Migrasi ke Robinhood Chain diharapkan akan memungkinkan perdagangan benar-benar 24/7 — menghilangkan celah waktu yang masih mengikuti jadwal pasar tradisional.
Penyelesaian instan dan self-custody juga termasuk dalam roadmap, lengkap dengan integrasi ke liquidity pool dan protokol lending. Semua fitur ini menggambarkan upgrade signifikan dari produk tokenisasi saham saat ini, yang masih bergantung pada infrastruktur Arbitrum One.
Fokus Ekosistem Pengembang dan DeFi
Dalam waktu dekat, Robinhood fokus menarik builder untuk membangun decentralized exchange, platform perpetual trading, dan protokol lending di chain mereka. Semua ini merupakan perluasan alami dari produk broker dan kripto milik Robinhood saat ini.
Untuk mengawali ekosistem ini, perusahaan berencana mengadakan serangkaian hackathon di beberapa wilayah dengan total hadiah US$1 juta. Kerbrat mengungkapkan bahwa fokus utama hackathon ini adalah aplikasi finansial.
SponsoredEkspansi Asia-Pasifik
Peluncuran testnet di Consensus Hong Kong sejalan dengan dorongan besar Robinhood ke kawasan Asia-Pasifik. Pada Juni 2025, Robinhood menyelesaikan akuisisi Bitstamp senilai US$200 juta, sehingga Robinhood kini memiliki akses ke lebih dari 50 lisensi dan registrasi aktif milik exchange tersebut di seluruh dunia, beserta bisnis crypto-as-a-service untuk institusi.
Kerbrat menerangkan bahwa acara ini sekaligus jadi peluang bertemu langsung dengan klien Bitstamp yang berbasis di Singapura. Berkat akuisisi ini, Robinhood kini memiliki lisensi di Singapura dan Indonesia. Mereka juga mengakuisisi dua perusahaan kecil di Indonesia untuk membangun kehadiran lokal.
Indonesia, dengan sekitar 13 juta pengguna kripto, merupakan pasar prioritas. Kerbrat menyebutkan bahwa komunikasi awal dengan regulator Indonesia berjalan positif, dengan pembicaraan seputar kepatuhan AML dan pengungkapan risiko, bukan penolakan terhadap masuknya perusahaan.
Rekam jejak regulasi Robinhood — meliputi FINRA, New York DFS, MiCA di Uni Eropa, serta MAS di Singapura — membuat perusahaan merasa yakin untuk menghadapi berbagai yurisdiksi, papar Kerbrat.
Diversifikasi Model Pendapatan
Hasil pendapatan kuartal keempat yang meleset menyoroti kekhawatiran yang terus-menerus: Robinhood sangat bergantung pada pendapatan berbasis transaksi, terutama dari perdagangan kripto. Untuk itu, mereka berupaya melakukan diversifikasi di berbagai lini.
Sponsored SponsoredStaking, yang diluncurkan di AS tahun 2025, kini sudah mencapai sekitar US$1 miliar aset yang distake. Robinhood Chain itu sendiri dirancang agar dapat menghasilkan bentuk pendapatan baru berbasis infrastruktur seiring waktu.
Dari sisi trading, Robinhood telah berinvestasi pada alat canggih demi menarik trader frekuensi tinggi dan volume besar — segmen yang dapat memberi pendapatan lebih stabil bahkan saat pasar melesu, ungkap Kerbrat. Mereka juga menambah jumlah tingkatan biaya dari tiga menjadi tujuh, dengan biaya serendah 0,03% untuk trader dengan volume besar.
Saluran institusi juga terus bertumbuh. Penawaran crypto-as-a-service dari Bitstamp memungkinkan bank, hedge fund, dan family office memberi akses kripto pada klien mereka. Kerbrat menuturkan bahwa institusi biasanya masuk ke pasar saat sedang lesu, sehingga memberi bantalan countercyclical.
Sementara itu, pasar prediksi menjadi salah satu titik terang. CEO Vlad Tenev mengungkapkan pada acara perusahaan di bulan Desember bahwa pasar prediksi merupakan “lini produk dengan pertumbuhan pendapatan tercepat sepanjang sejarah Robinhood,” dengan 11 miliar kontrak yang telah diperdagangkan oleh lebih dari satu juta pelanggan.
Apa Selanjutnya
Testnet publik adalah tahap pertama dari peluncuran bertahap yang terdiri dari beberapa langkah. Robinhood berencana untuk memigrasikan produk token saham yang sudah ada ke dalam chain ini sebelum akhirnya beralih ke mainnet. Namun, belum ada jadwal spesifik terkait peluncuran mainnet.
“Visi kami tidak berubah: kami sedang membangun superapp keuangan,” ujar Tenev dalam laporan pendapatan perusahaan untuk kuartal keempat.