Kembali

Bagaimana Perusahaan Rusia Menggunakan Kripto untuk Berdagang dengan Iran yang Kena Sanksi

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Evgeniya Likhodey

editor avatar

Diedit oleh
Lockridge Okoth

11 Maret 2026 18.43 WIB
  • Seorang eksekutif Rusia merinci bagaimana aset kripto dan hawala mengimbangi kerugian ekspor Iran yang mencapai 40%.
  • Sistem kurs exchange ganda Iran membuat penyelesaian transaksi dolar standar hampir mustahil bagi eksportir.
  • Sebuah konflik militer pada 2025 membekukan semua transaksi, menghentikan sistem pembayaran yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun.
Promo

Pelaku bisnis Rusia yang berdagang dengan Iran mengembangkan sistem berlapis untuk transfer aset kripto, penyelesaian hawala, dan pertukaran barter lintas batas supaya bisa mendapatkan kembali pendapatan yang seharusnya terhapus oleh struktur kurs resmi Iran.

Sergey Mikheev, Direktur Pengembangan Bisnis di BiyskKotloStroy (rekayasa & konstruksi boiler), mengungkapkan hal tersebut secara eksklusif kepada BeInCrypto dalam wawancara dengan Evgeniya Likhodey.

Selisih Kurs yang Membuat Bisnis Normal Tidak Mungkin Berjalan

Sistem ini, yang dijelaskan Mikheev sudah berjalan dengan lancar sebelum Juni 2025, kini sudah dihentikan.

Konflik militer yang dimulai pada bulan itu menghentikan semua transaksi lintas negara yang sudah dibangun perusahaannya, meninggalkan infrastruktur yang sudah selesai, kontrak dengan mitra yang sudah ditandatangani, dan jalur logistik yang sudah dipetakan jadi terbengkalai.

Peta koridor perdagangan Rusia-Iran yang menampilkan rute Bandar Abbas, Enzeli, dan Astrakhan
Peta koridor perdagangan Rusia-Iran yang menampilkan rute Bandar Abbas, Enzeli, dan Astrakhan
Disponsori
Disponsori

Untuk memahami mengapa eksportir Rusia butuh solusi alternatif, struktur sistem mata uang Iran sangat berpengaruh.

Iran tidak memiliki satu kurs resmi saja. Mereka menjalankan beberapa kurs secara bersamaan:

  • Kurs resmi dari Bank Sentral
  • Kurs pasar, dan
  • Kurs bisnis terpisah dengan perbedaan yang cukup besar di antara ketiganya.

Pada Mei 2024, kurs pasar ada di level 1.100.000 rial per US$1. Kurs resmi pembelian Bank Sentral berada di 600.000 rial, kurang lebih setengahnya saja dari kurs pasar.

Pembeli Iran hanya bisa mendapatkan mata uang asing lewat Bank Sentral dan baru bisa dilakukan setelah barang impor benar-benar sampai di gudang mereka.

Setelah itu, paspor transaksi dikeluarkan, yang memperbolehkan pembelian mata uang asing di kurs resmi. Hasil akhirnya, eksportir harus siap menerima kerugian dalam setiap transaksi ekspornya.

“Kurs pasar adalah 1.100.000 rial per US$1, sedangkan kurs pembelian Bank Sentral 600.000. Tambahkan PPN di kedua pihak, serta bea cukai. Total kerugian rata-rata di satu transaksi ekspor sekitar 40%,” terang Mikheev kepada BeInCrypto dalam wawancara tersebut.

Distorsi ini juga terjadi dalam proses bea cukai. Dalam salah satu kasus yang dijelaskan Mikheev, barang yang nilainya 178.000 rubel dinilai untuk pajak senilai 600.000 rubel. Ini membuat basis pajak naik tiga kali lipat, seluruhnya gara-gara selisih besar antara kurs pasar dan kurs resmi.

Perusahaan Rusia yang besar umumnya menerima kondisi ini. Mereka menunggu pembayaran menggunakan US$ lewat jalur perbankan standar, yang memakan waktu sampai enam bulan.

“Perusahaan besar tidak menggunakan aset kripto; mereka menunggu mata uang asing. Mereka bisa menunggu hingga 6 bulan untuk US$, yang nantinya disetor ke rekening bank. Bank-bank Rusia tidak mau menerima rial; mereka tidak menerima dengan kurs pasar,” ucap Mikheev.

Bagi pelaku usaha kecil, menunggu selama itu jelas tidak mungkin. Mereka butuh alternatif yang benar-benar bisa jalan.

Bagaimana Aset Kripto Masuk ke Rantai Pembayaran

Pada titik inilah aset kripto menjadi alat praktis bagi perusahaan yang tidak mau menerima risiko menunggu enam bulan atau kehilangan 40% karena kurs. Jalur yang dipakai melewati Uni Emirat Arab (UEA).

Perusahaan Rusia menandatangani kontrak dalam denominasi US$, membayar dengan rubel, lalu memakai agen perantara di UEA.

Agen itu mengonversi rubel ke aset kripto dan melakukan transfer lintas negara ke pihak Iran.

Disponsori
Disponsori

Struktur ini membuat transaksi tetap sesuai aturan perpajakan Rusia secara resmi. Pembayaran dilakukan lewat kontrak jasa perantara berbasis di UEA, bukan langsung dalam bentuk aset kripto.

“Kamu menandatangani kontrak, membayar dengan rubel, lalu agen di Emirates mengonversi ke aset kripto dan memproses pembayaran. Semua resmi, pajak juga dibayarkan. Skema ini jalan, meskipun risikonya tinggi. Kamu harus benar-benar kenal baik orang yang terlibat,” urai Mikheev dalam wawancara itu.

Perusahaan Mikheev tidak menggunakan exchange yang terorganisasi. Mereka berhubungan dengan trader aset kripto perorangan.

Beberapa token diterima oleh pedagang mata uang Iran dengan diskon minimal. Blokir transaksi aset kripto juga bisa dihindari dengan menjaga agar volume transfer awal tetap kecil selama kepercayaan masih dibangun.

Uang tunai tetap jadi opsi alternatif untuk transaksi terkecil, meski membawa risiko tersendiri saat melintasi perbatasan.

“Ada orang yang membawa uang tunai, dan itu memang berhasil,” sebut Mikheev.

Hawala: Sistem Kuno, Risiko Modern

Sistem hawala, jaringan transfer nilai informal yang sudah dipakai di Timur Tengah dan Asia Tengah selama ratusan tahun, juga memberikan pilihan ketiga.

Dalam sistem hawala, pengirim memberikan uang tunai ke perantara lokal. Lalu, perantara itu mengirim kode khusus ke rekanannya di Iran.

Penerima mengambil uang senilai yang sama dikurangi komisi, tanpa ada dana yang secara fisik melintasi perbatasan sama sekali.

Daya tariknya sudah jelas. Tapi, batasannya, menurut Mikheev, bersifat struktural.

“Hawala memiliki risiko sistemik: perantara memang jujur jika nominal uangnya kecil. Ketika membawa uang dalam jumlah besar, godaan untuk menghilang meningkat tajam,” terang Sergey Mikheev.

Untuk volume transaksi sedang, hawala berfungsi. Namun, agar bisa diperbesar skalanya, butuh tingkat kepercayaan pribadi yang dibangun selama bertahun-tahun, yang tidak mudah dilakukan dengan rekanan baru.

Sistem Settlement Zero-Transfer

Solusi paling canggih yang pernah dikembangkan oleh perusahaan Mikheev adalah sebuah struktur penyelesaian transaksi di mana uang tidak pernah melintasi perbatasan sama sekali.

Sistem ini menggunakan rekening bank Iran yang dimiliki oleh perusahaan di pihak ekspor dan impor, keduanya di bawah kepemilikan Rusia.

Bagi eksportir, mekanismenya adalah: perusahaan Mikheev membeli barang dari eksportir Rusia dengan harga rubel, lalu langsung menjual barang itu ke pembeli Iran melalui akun Iran miliknya sendiri.

Eksportir Rusia menerima pembayaran dalam rubel di dalam negeri, sehingga benar-benar terhindar dari risiko selisih kurs.

Untuk importir, prosesnya berbalik. Pendapatan rial yang terkumpul di akun Iran dari hasil penjualan ekspor kemudian dipakai untuk membeli barang Iran, yang lalu dijual ke importir Rusia di dalam negeri dengan rubel.

“Jika Anda mengekspor, kami pada dasarnya membeli barang dari Anda dan mengembalikan rubel pada Anda, sementara kami sendiri yang menjual ke pihak Iran. Seluruh risikonya jadi tanggungan kami. Untuk importir, kebalikannya: kami kumpulkan pendapatan dalam rial, pakai untuk beli barang Iran, dan jual ke importir Rusia dengan rubel. Uang tidak pernah melintasi perbatasan,” ujarnya.

Struktur ini juga menghasilkan pengembalian pajak pertambahan nilai di pihak Rusia, sebuah manfaat yang perusahaan Mikheev bagikan pada klien sebagai bagian dari kerja sama bisnis.

Kerugian ekspor, ucapnya, turun dari 40% menjadi hampir nol.

Skema itu sudah siap. Kesepakatan dengan rekanan sudah ditandatangani. Lalu perang pecah.

“Kalau saja bukan karena perang yang mulai Juni 2025, skema ini sudah berjalan sepenuhnya. Kami menawarkan mitra cara untuk menghindari kehilangan 40% dari pendapatan valuta asing mereka, dan kami juga berbagi pengembalian pajak PPN itu. Kalau perang selesai, kami akan kembali jalankan skema ini,” papar Mikheev dalam wawancara dengan BeInCrypto.

Nilai Logistik Iran, dan Apa Saja yang Dihancurkan Perang

Arsitektur pembayaran ini berjalan seiring dengan argumen logistik yang sama menariknya. Iran berperan sebagai koridor transit barang yang efisien dan murah untuk hubungan dagang antara Rusia, Cina, dan Afrika Timur.

Peran ini bergantung pada bahan bakar domestik yang murah, sektor truk swasta yang kompetitif, dan akses pelabuhan ke Teluk Persia serta Laut Kaspia.

Angka-angka yang diungkapkan Mikheev sangat jelas menjelaskan hal tersebut.

“Pelaku logistik menawarkan satu kontainer dari Cina ke Moskow seharga US$8.000. Lewat Bandar Abbas dan Enzeli ke Astrakhan biayanya sekitar US$3.000, ditambah sekitar US$2.000 lewat jalur darat ke Moskow,” urai Mikheev.

Selisih harga tersebut terutama berasal dari sistem subsidi bahan bakar di Iran. Pemilik kendaraan mendapat kuota bahan bakar dari pemerintah secara gratis; jika konsumsi melebihi kuota itu, harga yang berlaku hampir nol jika dibandingkan dengan harga internasional.

Truk-truk swasta bergerak di sektor usaha kecil-menengah tanpa banyak campur tangan negara pada kendaraan pulang-pergi, sehingga tarif tetap kompetitif.

Penyewaan kendaraan secara pulang-pergi, baik dari Bandar Abbas ke Enzeli maupun sebaliknya, membuat biaya tertahan serendah mungkin.

Tim Mikheev juga menyelesaikan analisis jalur perdagangan untuk Afrika Timur. Barang dari Ethiopia saat ini dikirim melalui pantai barat Afrika dan Novorossiysk; ini memakan waktu lama dan mahal.

Jalur lewat Tanzania, menyeberang ke Iran, lalu ke utara menuju Astrakhan, menghemat waktu sekitar 1,5 minggu dalam pengiriman dan memangkas ongkos kirim hingga separuhnya.

Peran Uni Emirat Arab sebagai titik relay keuangan dalam skema settlement kripto Mikheev juga terganggu.

Dia menggambarkan Emirat sebagai pusat infrastruktur kripto dunia sebelum konflik. Di yurisdiksi itu, aset kripto bahkan bisa dipakai untuk transaksi ritel sehari-hari, jauh lebih maju dibanding AS atau Inggris dalam adopsi praktiknya.

Serangan ke pusat data, tuturnya, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur tersebut.

Mikheev kini masih menunggu. Perjanjian sudah ada. Pertanyaannya, seperti yang dia utarakan, adalah siapa saja rekanan yang masih bertahan saat situasi memungkinkan ia kembali berbisnis.

“Seluruh skema—baik untuk transportasi maupun keuangan—sudah tuntas. Kesepakatan dengan para rekanan sudah tercapai. Satu-satunya pertanyaan tinggal berapa banyak dari mereka yang akan selamat dari perang ini. Begitu tembakan berhenti, saya langsung terbang ke sana,” simpul eksekutif BiyskKotloStroy itu.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori