Harga minyak global naik tajam karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran dan program nuklirnya. Harga minyak mentah melesat di atas US$100 per barel. Lonjakan ini menambah tekanan bagi ekonomi global dan aset berisiko seperti Bitcoin.
Dalam situasi ini, para analis sedang menganalisis korelasi antara harga minyak dan pasar aset kripto untuk memprediksi tren di tahun 2026.
Mengapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Ciptakan Peluang untuk Investor Bitcoin
Sebuah laporan dari CryptoQuant menyebutkan bahwa dalam jangka pendek, ketidakstabilan geopolitik dan kenaikan harga minyak biasanya memberi tekanan turun pada aset berisiko.
Kenaikan harga minyak yang tiba-tiba memicu tekanan inflasi dan secara langsung mempengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin.
Tapi, data historis menunjukkan reli harga minyak yang kuat sering terjadi bersamaan dengan fase akhir siklus pasar BTC.
“Untuk aset yang volatil dan berisiko seperti Bitcoin, situasi seperti ini memang kurang menguntungkan. Secara historis, periode ketika harga minyak kembali menguat sering bersamaan dengan fase akhir siklus BTC,” papar Darkfost dalam komentarnya.
Walaupun situasi sekarang belum menguntungkan bagi aset yang sangat spekulatif, korelasi ini membuka peluang untuk potensi pemulihan Bitcoin setelah harga minyak mulai mereda.
Lebih jauh lagi, analis curb.sol membandingkan harga minyak mentah dengan total kapitalisasi pasar aset kripto dan menemukan pola menarik. Puncak harga minyak seringkali terjadi bersamaan dengan titik terendah pasar kripto atau zona akumulasi. Terdapat tiga catatan sejarah penting:
- Oktober 2018: Harga minyak mencapai puncak saat kapitalisasi pasar kripto berada di titik terendah sekitar US$100 miliar, lalu melonjak setelahnya.
- Juni 2022: Harga minyak juga mencetak puncak baru. Pasar kripto terendah di kisaran US$800 miliar lalu bangkit dengan kuat.
- Maret 2026: Baru-baru ini, harga minyak melonjak ke sekitar US$113 per barel, sedangkan kapitalisasi pasar aset kripto saat ini sekitar US$2,25 triliun.
“Jika polanya tetap sama — harga minyak berbalik dari sini, tekanan makro berkurang, dan kripto memulai reli selanjutnya. Apakah kali ini akan berbeda? Mungkin saja. Tapi chart-nya sulit diabaikan,” terang curb.sol dalam komentarnya.
Semua pengamatan ini sepenuhnya bergantung pada pola historis. Pasar tetap memerlukan sinyal baru untuk mendukung anggapan bahwa harga minyak tidak akan terus naik dalam waktu lama.
Perkembangan Baru Perkuat Harapan
Baru-baru ini, Donald Trump mengatakan harga minyak “akan turun dengan cepat” setelah ancaman nuklir Iran berakhir. Ia juga menyebut lonjakan saat ini sebagai “harga yang sangat kecil untuk dibayar.”
Pernyataan ini memberi isyarat bahwa reli minyak saat ini mungkin hanya bersifat sementara.
Di sisi lain, perkembangan terbaru mendukung skenario penurunan harga. Kelompok Tujuh (G7) tengah mempertimbangkan melepas 300–400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka bersama untuk membantu menekan harga minyak. Saat ini, tiga negara G7, termasuk Amerika Serikat, telah menyatakan dukungan terhadap ide ini.
Perkembangan-perkembangan ini memberikan sinyal bahwa tekanan dari pasar minyak bisa segera mereda.
Jika korelasi historis tetap bertahan, pembalikan harga minyak yang cepat bisa mengurangi tekanan ekonomi makro. Pergeseran ini dapat membuka peluang bagi pasar aset kripto untuk pulih dan memasuki fase bullish baru di tahun 2026.
Meski begitu, perilaku pasar bisa saja berbeda. Jika berbagai upaya ini gagal dan konflik terus memburuk, investor mungkin harus menunggu lebih lama sebelum pasar membentuk titik terendahnya.