Yield spread S&P 500 terhadap obligasi pemerintah AS 10 tahun kini mencapai -1,5 poin persentase, yang merupakan level terendah sejak 2009. Obligasi pemerintah yang lebih aman kini memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan saham jika menggunakan ukuran tersebut, menurut The Kobeissi Letter.
Investor biasanya mengharapkan saham memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi sebagai kompensasi atas risiko. Tapi, Kobeissi mengungkapkan gap ini sedang menuju pembacaan negatif tiga tahun berturut-turut, yang merupakan rangkaian terlama sejak 2002.
Apa Sebenarnya yang Diukur dari Yield Spread Negatif?
Earnings yield menghitung laba S&P 500 dibagi dengan harganya, sehingga menjadi kebalikan dari rasio price-to-earnings (P/E).
Dengan mengurangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun dari earnings yield S&P 500, akan diperoleh equity risk premium (ERP), atau yield spread. Jika nilainya positif, investor mendapat tambahan imbal hasil dari memiliki saham, sedangkan negatif berarti obligasi pemerintah memberikan imbal hasil lebih besar.
Sejak 2022, spread ini sudah turun 440 basis poin, atau 4,4 poin persentase. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lima tahun sejak 1970-an, papar Kobeissi, akun komentar pasar di X.
Spread akan menyempit ketika harga saham naik lebih cepat daripada pertumbuhan laba, atau ketika imbal hasil obligasi pemerintah naik.
Sementara itu, inflasi yang didorong oleh harga minyak dan utang besar pemerintah telah mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi. Imbal hasil obligasi 10 tahun sempat menyentuh sekitar 5,36% pada 7 Oktober, level tertinggi sejak 2002.
Pada imbal hasil tersebut, selisih -1,5 poin berarti earnings yield sekitar 3,9%, atau kira-kira setara 26 kali laba historis.
Secara historis, hasil negatif cenderung bertepatan dengan peningkatan pengambilan risiko dan valuasi yang tinggi, terang Kobeissi.
Apakah Premi Negatif Berarti Saham Pasti Turun?
Tidak selalu. Kolumnis Bloomberg, Nir Kaissar, menemukan pada 2025 bahwa premi ini hampir tidak memprediksi imbal hasil saham dalam satu sampai lima tahun ke depan.
Tetapi, hubungan dengan imbal hasil jangka 10 tahun lebih kuat, yaitu korelasi 0,51, menandakan premi yang lebih rendah biasanya mendahului kenaikan jangka panjang yang lemah.
Di sisi lain, jika menggunakan proyeksi laba ke depan, gambaran terlihat lebih tenang, dengan S&P 500 diperdagangkan sekitar 19 kali laba yang diharapkan, menurut FactSet. Ini setara dengan earnings yield sekitar 5,3%, hampir sama dengan imbal hasil obligasi 10 tahun.
The Kobeissi Letter memperkirakan kuartal IV akan penuh peristiwa, walaupun spread saja tidak bisa digunakan sebagai penentu waktu pembalikan arah. Sementara S&P 500 hampir menyentuh rekor baru dengan kinerja pasar yang sempit, valuasi kini sangat bergantung pada kestabilan imbal hasil obligasi pemerintah AS.











