Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini di pertemuan FOMC hari Rabu. Dalam wawancara bersama BeInCrypto, mantan penasihat Reagan, Steve Hanke, sepakat dengan pandangan ini, dengan alasan inflasi yang masih bertahan.
Hanke menilai bahwa ketidakpastian kebijakan yang meningkat telah mendistorsi prioritas ekonomi AS. Ia menuturkan bahwa dampaknya kini tidak hanya terbatas pada kebijakan moneter, tapi juga semakin tampak di sektor perdagangan, pasar mata uang, dan kepercayaan global terhadap kepemimpinan Amerika Serikat.
The Fed Akan Tahan Suku Bunga di Tengah Tekanan Politik
Menjelang pertemuan FOMC berikutnya, ada ekspektasi luas bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga.
Keputusan ini terjadi di tengah desakan dari pemerintahan Trump, yang kembali menegaskan keinginannya agar The Fed menurunkan suku bunga.
Hanke mendukung sikap The Fed, dengan inflasi sebagai penjelasan utama.
Sponsored Sponsored“Inflasi di Amerika Serikat belum benar-benar berhasil dikendalikan. Memang inflasi sempat turun, namun telah stagnan selama sekitar enam bulan, dan saya menduga inflasi akan naik lagi,” ujar Hanke kepada BeInCrypto, seraya menambahkan, “Penyebabnya adalah kebijakan moneter yang semakin longgar, sebagian karena tekanan dari Gedung Putih.”
Pada awal bulan ini, Departemen Kehakiman (DOJ) memulai penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Berita ini datang kurang dari setahun setelah DOJ juga membuka penyelidikan pidana atas Gubernur The Fed, Lisa Cook, terkait dugaan penipuan hipotek.
Bukannya membuat The Fed tunduk, Hanke mengungkapkan bahwa tekanan ini justru mungkin akan memperkuat keteguhan bank sentral tersebut.
“Dengan ancaman gugatan pidana terhadap Powell ini, saya pikir pihak The Fed memutuskan untuk tetap teguh dan tidak membiarkan Trump mengendalikan mereka,” papar dia.
Hanke menegaskan bahwa pola perlawanan seperti ini tak hanya terbatas pada kebijakan moneter, melainkan juga merambah ke bagian lain dari agenda ekonomi pemerintahan saat ini.
Sponsored SponsoredPenolakan Perdagangan Global Melemahkan Pengaruh AS
Sejak awal masa jabatan keduanya, Trump berulang kali mengancam mitra dagangnya dengan tarif dari AS, sebagai alat tawar untuk memperoleh konsesi dalam negosiasi perdagangan maupun kebijakan luar negeri.
Meski langkah semacam ini sempat efektif, kini banyak negara semakin berani menolak. Contoh terbarunya terjadi pekan lalu, saat Trump mengancam akan mengenakan tarif atas delapan negara Eropa, kecuali mereka menyetujui pembelian Greenland oleh Amerika Serikat.
Uni Eropa langsung menolak keras proposal tersebut, dan hanya dalam hitungan jam setelah pidato Trump di World Economic Forum di Davos, ancaman tarif itu pun dibatalkan.
Negara-negara lain pun melawan dengan cara menjalin perjanjian dagang baru.
SponsoredKanada baru-baru ini sepakat menjalin kesepakatan perdagangan dengan Cina, dan saat ini sedang bernegosiasi dengan India. Sementara itu, Uni Eropa dan India juga mengumumkan perjanjian perdagangan bebas yang terpisah.
“Ironis sekali. AS, negara asal kapitalisme pasar bebas, justru kini beralih ke proteksionisme, intervensi, dan anti-pasar bebas; sementara Cina, negara komunis terbesar di dunia, malah bergerak menuju perdagangan bebas dan pasar bebas,” tutur Hanke, seraya menambahkan, “[Sementara itu], India yang selalu terbebani proteksionisme dan intervensi besar — kini mulai membuka diri menuju liberalisasi.”
Seiring makin banyak negara yang menolak tekanan tarif AS, persepsi terhadap dominasi ekonomi Negeri Paman Sam pun goyah. Dalam konteks itulah, dolar mulai tertekan. Walaupun Hanke menilai kekhawatiran pelemahan dolar sering kali terlalu dibesar-besarkan, ia turut mengingatkan bahwa kebijakan dagang yang terus berlanjut dapat perlahan menggerus kepercayaan dunia.
Reli harga logam mulia belakangan ini juga menandakan bahwa pasar tengah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.