Strategy (MSTR) perlu membeli sekitar 261.269 Bitcoin (BTC) lagi, dengan nilai sekitar US$22,2 miliar, untuk mencapai target 1 juta BTC pada akhir 2026.
Perusahaan ini memegang 738.731 BTC pada waktu publikasi, yang dibeli dengan rata-rata harga US$75.860 per koin. Dengan sisa waktu sekitar 42 minggu hingga 2026 berakhir, maka target tersebut mengharuskan pembelian rata-rata 6.158 BTC per minggu, atau sekitar US$523 juta per minggu dengan asumsi harga BTC US$85.000.
Strategi Laju Akumulasi dan Jalan Menuju 1 Juta BTC
Dipimpin oleh Executive Chairman Michael Saylor, Strategy telah membeli sekitar 64.948 BTC hingga tahun 2026 ini. Jumlah tersebut menempatkan perusahaan jauh di atas rata-rata historisnya yaitu sekitar 128.000 BTC per tahun sejak memulai strategi treasury Bitcoin pada Agustus 2020.
Aktivitas terbaru menunjukkan bahwa laju pembelian ini sepertinya bisa dipertahankan. Pada pekan yang berakhir 9 Maret, Strategy menambah 17.994 BTC senilai US$1,28 miliar.
Pembelian ini sebagian besar dibiayai dari hasil penjualan saham biasa sebesar US$900 juta, dan US$377 juta dari saham preferen STRC-nya. Satu kali pembelian ini hampir tiga kali lipat dibandingkan rata-rata mingguan yang dibutuhkan.
Perusahaan telah melakukan pembelian mingguan selama 12 minggu berturut-turut atau lebih di tahun 2026. Strategy mendanai akuisisi ini melalui penerbitan saham, utang konversi, dan penerbitan saham preferen.
Program at-the-market mereka masih memiliki kapasitas miliaran US$ yang tersisa baik dari saham biasa MSTR maupun beberapa seri saham preferen, termasuk STRC, STRK, STRD, dan STRF.
namun, untuk mempertahankan strategi ini, perusahaan harus tetap punya akses ke pasar modal. Harga saham MSTR sudah turun sekitar 70% dari puncaknya di tahun 2025, dan jumlah saham beredar naik dari 76 juta menjadi sekitar 320 juta.
Strategy kini memiliki utang lebih dari US$8 miliar, termasuk US$6 miliar dalam bentuk obligasi konversi yang dijaminkan dengan kepemilikan Bitcoin.
Bila harga Bitcoin turun lebih jauh dari level saat ini yang mendekati US$74.000, uji tekan memperlihatkan ekuitas dapat mengalami tekanan berat. Di sisi lain, harga BTC yang menurun akan membuat akumulasi per koin menjadi lebih murah, sehingga mendorong tercapainya target volume meski biaya dolar justru berkurang.
Perubahan Strategi Treasury MARA Menimbulkan Pertanyaan tentang Model HODL
Sementara Strategy semakin agresif mengakumulasi Bitcoin, MARA Holdings (MARA) justru melakukan langkah sebaliknya. Pada awal Maret 2026, MARA memperbarui kebijakan treasury-nya melalui pengajuan 10-K ke SEC, memperluas mandat untuk mengizinkan penjualan Bitcoin yang sudah ada di neraca perusahaan. Sebelumnya, perusahaan hanya mengizinkan penjualan Bitcoin hasil tambang baru saja.
MARA memegang sekitar 53.822 BTC, menjadikannya holder Bitcoin perusahaan terbuka terbesar kedua. Perusahaan ini mencatat rugi bersih US$1,7 miliar pada kuartal 4 2025, yang sebagian besar disebabkan kerugian non-tunai US$1,5 miliar akibat penurunan harga Bitcoin selama periode tersebut.
Sekitar 28% dari kepemilikan MARA sudah digunakan melalui aktivitas pinjaman dan sebagai jaminan. Perusahaan menghasilkan US$32,1 juta dari pendapatan bunga pinjaman Bitcoin pada tahun 2025, tapi membukukan kerugian keseluruhan sebesar US$86,3 juta di segmen ini setelah menghitung depresiasi harga.
MARA juga mempercepat pergeseran bisnis ke sektor AI dan infrastruktur komputasi performa tinggi, termasuk kolaborasi dengan Starwood Capital Group untuk membangun data center.
Kompensasi eksekutif sekarang dikaitkan dengan kapasitas megawatt, bukan lagi output mining, menandakan adanya perubahan prioritas strategi perusahaan.
Dua Model, Dua Taruhan pada Masa Depan Bitcoin
Jonatan Randin, Senior Market Analyst di PrimeXBT, mengatakan kepada BeInCrypto bahwa langkah MARA merefleksikan pendekatan pengelolaan treasury yang lebih berkelanjutan dalam kondisi volatil.
“Model Strategy berjalan baik ketika pasar modal tetap terbuka dan investor masih tertarik eksposur proxy Bitcoin, namun retakan mulai terlihat. Harga saham turun sekitar 72% dari puncaknya pada 2025, jumlah saham beredar naik dari 76 juta jadi sekitar 320 juta, dan mNAV jatuh di bawah 1,0, artinya saham kini diperdagangkan di bawah nilai Bitcoin yang diwakilinya,” komentar Randin dalam wawancara eksklusif dengan BeInCrypto.
Randin menuturkan bahwa industri mining secara luas juga sedang mengalami rotasi serupa. Setelah halving, biaya produksi per Bitcoin berada di sekitar US$87.000, sedangkan harga pasar masih sekitar US$70.000. Hal ini memaksa para miner harus beroperasi dengan kerugian.
Core Scientific menggambarkan operasi mining mereka sebagai hampir berhenti, sementara Bitfarms sedang melakukan rebranding menjadi Keel Infrastructure dan Riot mulai beralih ke model power-as-a-service.
Terkait apakah perubahan kebijakan MARA bisa menciptakan risiko kelebihan suplai dari 53.822 BTC miliknya, Randin menilai ancaman tersebut lebih bersifat psikologis daripada mekanis.
“Volume perdagangan spot harian Bitcoin berkisar antara US$10 miliar hingga US$25 miliar, tergantung harinya, jadi seluruh cadangan itu kurang dari volume satu hari. Pasar juga pernah menyerap distribusi besar yang terkonsentrasi sebelumnya… Kelebihan suplai nyatanya lebih ke psikologis daripada faktor mekanis,” ujar dia.
Meski begitu, Randin juga mengingatkan bahwa kondisi likuiditas yang tipis serta kepemilikan MARA yang 28% sudah digunakan, dengan rasio pinjaman terhadap nilai sekitar 87%, bisa menciptakan tekanan jual paksa jika harga Bitcoin turun lebih jauh.
Bagi Strategy, target memiliki 1 juta BTC memang agresif tetapi masih mungkin tercapai. Jika perusahaan tetap membeli dengan ritme saat ini dan pasar modal masih terbuka, angka tersebut bisa dicapai pada akhir 2026.
Namun, kalau pasar bear berlangsung lama, pendanaan makin ketat, atau investor merasa lelah akibat dilusi yang terus-menerus, maka laju pembelian bisa melambat atau strategi harus diubah.
Laporan 8-K berikutnya yang diperkirakan keluar pekan ini akan menjadi sinyal terbaru apakah momentum tersebut masih bertahan.