Kembali

MicroStrategy Ungkap Kerugian Akuntansi Rp292 Triliun di Q4 2025, Apa Dampaknya?

author avatar

Ditulis oleh
Lockridge Okoth

editor avatar

Diedit oleh
Zummia Fakhriani

06 Januari 2026 18.59 WIB
  • Premium mNAV MicroStrategy telah runtuh, menghapus bantalan valuasi yang sebelumnya mendorong penggalangan modal berbasis Bitcoin.
  • Pergeseran Strategy ke saham preferen berbasis yield menguji apakah pasar masih bersedia membiayai eksposur Bitcoin tanpa premium spekulatif.
  • Tanpa permintaan baru, risiko dilusi meningkat dan MSTR berpotensi berkinerja lebih buruk dibanding kepemilikan Bitcoin langsung atau ETF.
Promo

MicroStrategy (sekarang Strategy) tengah berada dalam fase paling menentukan sejak mengadopsi Bitcoin sebagai aset treasury utamanya. Premium mNAV (microstrategic net asset value) perusahaan anjlok ke level 1,04x, yang secara efektif menghapus bantalan valuasi yang sebelumnya menopang kinerja sahamnya yang jauh melampaui Bitcoin itu sendiri.

Perubahan ini menandai perubahan rezim, di mana masa depan Strategy tidak lagi bergantung terutama pada arah harga Bitcoin, melainkan pada apakah pasar modal masih bersedia membiayai struktur keuangan berbasis Bitcoin yang kian kompleks dan native-kripto.

Premium mNAV Strategy Drop ke 1,03x Saat Kerugian Kuartal IV US$17,4 Miliar Uji Model Leverage Bitcoin

Sepanjang sebagian besar 2023 dan 2024, Strategy diperdagangkan dengan premium di atas 2x, dan pada beberapa periode bahkan mencapai 2,5x, terhadap nilai aset bersihnya (NAV).

Sponsored
Sponsored

Premium tersebut memungkinkan perusahaan menerbitkan saham, obligasi konversi, dan saham preferen dengan syarat yang menguntungkan, lalu mendaur ulang modal tersebut untuk membeli Bitcoin tambahan dan memperbesar eksposur pemegang saham. Dengan premium yang kini mendekati paritas, roda pengungkit tersebut pun terhenti.

MicroStrategy mNAV
mNAV MicroStrategy | Sumber: Situs Resmi Strategy

Saat ini, Strategy memegang sekitar 673.783 BTC, dengan nilai lebih dari US$63 miliar pada saat pengungkapan terakhir perusahaan, serta sekitar US$2,25 miliar dalam bentuk kas. Namun, metrik kapitalisasi pasarnya menunjukkan:

  • Basic – US$47 miliar
  • Diluted – US$53 miliar
  • Enterprise value – US$61 miliar

Ketimpangan antara nilai Bitcoin yang dimiliki dan kapitalisasi pasar ini lantas menyulut perdebatan apakah saham tersebut undervalued, ataukah justru pasar akhirnya memperhitungkan risiko struktural dari model bisnisnya. Sebagian investor melihat penurunan ini sebagai peluang.

Adam Livingston menyebut mNAV 1,03x sebagai “titik masuk terbaik” yang pernah ia lihat. Ia berargumen bahwa premium sederhana sebesar 3% masih menawarkan eksposur Bitcoin yang diperbesar sekitar 26%.

Sponsored
Sponsored

Menurut pandangannya, penerbitan saham preferen STRC secara at-the-market alias di pasar terbuka berpotensi segera membiayai pembelian Bitcoin besar berikutnya. Hal ini memungkinkan Executive Chairman Michael Saylor meningkatkan jumlah Bitcoin per saham tanpa bergantung pada premium ekstrem.

Optimisme tersebut bertumpu pada pembingkaian ulang fundamental bisnis Strategy. Alih-alih menjadi saham pertumbuhan yang dilever terhadap momentum Bitcoin, Strategy kini semakin memosisikan diri sebagai akumulator Bitcoin berbasis yield.

Saham Preferred Perpetual Stretch Seri A dengan tingkat variabel (STRC) kini menawarkan dividen tahunan sebesar 11%, dengan pembayaran berikutnya diperkirakan sekitar US$0,91 per saham pada akhir bulan ini.

Para pendukung menilai langkah ini mengubah perusahaan menjadi semacam instrumen pendapatan tetap yang didukung Bitcoin. Joe Burnett, Direktur Strategi Bitcoin di Semler Scientific, berpendapat bahwa bahkan jika harga Bitcoin tetap stagnan, Strategy secara teoritis masih mampu melayani dividen kredit digitalnya selama beberapa dekade. Dalam analisanya, Burnett menyoroti depresiasi jangka panjang mata uang fiat.

Dalam kerangka berpikir ini, durasi menjadi variabel utama, bukan pergerakan harga dalam jangka pendek.

Sponsored
Sponsored

Kerugian Akuntansi Ungkap Kerentanan Model Pasca-Premium Strategy

Pergeseran menuju fokus yield ini terjadi di saat laporan keuangan Strategy menyoroti ketegangan yang kian menguat. Dalam Form 8-K tertanggal 5 Januari 2026, perusahaan mengungkapkan kerugian belum terealisasi sebesar US$17,44 miliar pada aset digital untuk kuartal IV 2025, serta kerugian belum terealisasi US$5,40 miliar untuk sepanjang tahun.

Meski kerugian tersebut bersifat akuntansi dan terkait dengan koreksi harga Bitcoin pada kuartal IV, implikasinya nyata. Berdasarkan aturan akuntansi saat ini, aset digital diklasifikasikan sebagai aset tak berwujud dengan umur tidak terbatas.

Hal ini memaksa perusahaan mengakui penurunan nilai saat pasar melemah, tanpa memungkinkan penilaian ulang ke atas saat pemulihan terjadi. Para kritikus berpendapat bahwa aspek persepsi ini kini jauh lebih signifikan setelah premium menghilang.

Analis Novacula Occami menyoroti kinerja yang terus tertinggal, dengan mencatat bahwa saham Strategy tertinggal dari Bitcoin dalam horizon satu bulan, enam bulan, dan satu tahun. Dengan demikian, tesis inti bahwa MSTR seharusnya mengungguli eksposur BTC spot pun runtuh.

Dalam penilaiannya, runtuhnya premium mNAV sejak pertengahan 2025 telah melemahkan kemampuan Strategy menerbitkan obligasi konversi “murah” dan saham preferen “mahal”, sehingga pemegang saham biasa terekspos pada risiko dilusi tanpa kompensasi upside.

Pihak lain memperingatkan bahwa penerbitan ekuitas yang berkelanjutan di bawah premium yang berarti akan menggerus nilai pemegang saham. Di antaranya Brennan Smithson, yang berpendapat bahwa permintaan yang tidak memadai terhadap saham preferen dapat memaksa Strategy mengandalkan dilusi untuk membiayai dividen sekaligus pembelian Bitcoin.

Sponsored
Sponsored

Perdebatan ini mencerminkan pertanyaan utama yang dihadapi Strategy pada 2026: apakah keuangan korporasi berbasis Bitcoin dapat berfungsi tanpa premium spekulatif?

Dengan mNAV yang mendekati 1x, setiap penggalangan modal kini berada di bawah pengawasan ketat. Penerbitan saham atau preferen tidak lagi otomatis meningkatkan jumlah Bitcoin per saham. Sebaliknya, langkah tersebut berisiko dipersepsikan sebagai sinyal kelemahan jika permintaan melemah.

Skenario bull bertumpu pada kesabaran. Para pendukung meyakini apresiasi Bitcoin yang moderat, depresiasi dolar yang berkelanjutan, serta potensi pemangkasan suku bunga dapat secara bertahap memulihkan kepercayaan atas model yield Strategy.

Sebaliknya, skenario bear memperingatkan bahwa tanpa adanya minat baru dari pasar modal, eksperimen ini bisa saja terhenti. Skenario semacam itu berpotensi mengubah Strategy menjadi proksi yang volatil dan berkinerja buruk, alih-alih alternatif unggulan dibanding kepemilikan Bitcoin langsung atau ETF.

Seluruh perspektif ini menjadikan Strategy sebagai uji stres nyata atas pertanyaan apakah pasar modal akan terus membiayai eksposur Bitcoin yang dilever ketika euforia mereda dan bantalan premium telah lenyap.

Bagaimana pendapat Anda tentang fakta mengejutkan terbaru seputar strategi Bitcoin Strategy di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori