Transisi CEO Apple dari Tim Cook ke John Ternus menarik banyak analisis tentang AI dan strategi produk. Tapi, pengamat industri aset kripto mempunyai alasan khusus untuk memantau perubahan ini walau tanpa adanya pergeseran kebijakan yang terlihat.
Apple Pay, ekonomi App Store, dan perubahan regulasi menjadi tiga kekuatan diam-diam yang membentuk aset kripto di platform Apple.
Ternus Mewarisi Sikap Konservatif Cook terhadap Kripto
Ternus mengambil alih perusahaan yang telah mempertahankan sikap konservatif pada kripto perusahaan selama lebih dari satu dekade. Apple tidak memiliki aset digital di neraca keuangan dan menolak mengalokasikan dana treasury ke aset kripto apa pun. Cook secara pribadi memang memegang Bitcoin dan Ethereum, tetapi ia sengaja memisahkan investasinya dari kebijakan perusahaan selama masa jabatannya.
Tidak ada dari latar belakang rekayasa Ternus yang menunjukkan kemungkinan perubahan posisi ini atau langkah integrasi kripto secara langsung. Hubungan Apple dengan dunia aset kripto tidak bergantung pada pengakuan resmi perusahaan atau perubahan strategi secara terbuka. Ada beberapa jalur yang sudah ada untuk menciptakan nilai tanpa perlu komitmen publik dari pimpinan baru di Cupertino.
App Store milik Apple masih memungut komisi sebesar 30% untuk barang digital, termasuk NFT dan pembelian dalam aplikasi yang terkait dengan aset kripto. Kondisi ini menciptakan hubungan pendapatan dengan sektor kripto tanpa mengendorse token tertentu ataupun proyek blockchain manapun. Sistem ini tetap utuh di bawah kepemimpinan Ternus, sehingga memberikan kepastian bagi pengembang dan pengguna di ruang kripto yang lebih luas.
Apple Pay Diam-diam Menjadi Jembatan Pembayaran Kripto
Wallet pihak ketiga kini makin sering memproses transaksi aset kripto lewat infrastruktur Apple Pay, walau tanpa keterlibatan langsung dari Apple. Mesh sudah menunjukkan integrasi stablecoin dengan Apple Pay pada 2025, sehingga merchant bisa menerima Bitcoin dan mendapatkan pembayaran USDC. Exodus juga meluncurkan fungsi serupa di lima negara bagian AS pada April 2026, yang memungkinkan pengguna untuk membelanjakan USDC dan Bitcoin secara langsung.
Counterpoint Research menemukan bahwa 41% pembeli kripto pertama kali secara global menggunakan Apple Pay untuk membeli aset kripto pertama mereka. Hal ini membuat Apple ikut merasakan pertumbuhan ekonomi dari adopsi kripto tanpa perlu keputusan strategis baru dari pimpinan perusahaan. Integrasi dari berbagai mitra inilah yang pada akhirnya menjadikan Apple Pay sebagai tulang punggung pembayaran ritel aset kripto di banyak pasar utama.
Istilah di sini sangat penting sebab Apple sendiri tidak pernah menyentuh kripto secara langsung, namun ekosistemnya sangat diuntungkan oleh jangkauan global Apple.
Kekuatan Regulasi Sedang Mendefinisikan Ulang Ekosistem
Regulasi stablecoin di AS secara perlahan mengurangi ketidakpastian hukum yang selama ini dijadikan alasan utama Apple untuk menahan integrasi kripto. Regulasi MiCA dari Uni Eropa telah memfasilitasi jalur kepatuhan pembayaran kripto di 27 pasar Eropa selama implementasi tahun 2024. Perubahan ini secara signifikan melemahkan alasan regulasi lama Apple untuk terus menghindari keterlibatan bisnis kripto yang lebih dalam di bawah kepemimpinan baru.
Peran Cook sebagai executive chairman juga masih menjaga pengaruh kebijakan Apple terhadap relasi regulasi terkait aset kripto di berbagai yurisdiksi dunia. Infrastruktur kripto Apple yang cenderung diam-diam sepertinya akan terus berkembang lebih dalam, terlepas dari apakah Ternus secara pribadi tertarik pada aset digital atau tidak.





