Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Kamis, 26 Maret, bahwa Donald Trump akan menjadi presiden pertama yang masih menjabat dengan tanda tangannya tercetak di uang US$, langkah yang menurut pejabat dimaksudkan untuk memperingati 250 tahun Amerika Serikat.
Keputusan ini langsung menimbulkan pertanyaan tentang masa depan uang tersebut setelah pemerintahan saat ini berakhir. Walaupun hukum AS menjamin seluruh uang yang telah diterbitkan tetap menjadi alat pembayaran yang sah tanpa batas waktu, pemerintahan berikutnya bisa saja secara diam-diam menghentikan pencetakannya.
Trump Sedang Mematahkan Tradisi Ekonomi Selama 165 Tahun
Tanda tangan Menteri Keuangan Scott Bessent akan disandingkan dengan tanda tangan Trump, dimulai pada pecahan US$100 di bulan Juni, diikuti oleh pecahan lainnya. Dalam siaran pers, Bessent menggambarkan keputusan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap pencapaian ekonomi pemerintahan saat ini.
“Tidak ada cara yang lebih kuat untuk mengenang pencapaian bersejarah negara kita dan Presiden Donald J. Trump selain dengan uang US$ yang menampilkan namanya, dan keputusan menerbitkan uang bersejarah ini bertepatan dengan Semiquincentennial sangatlah tepat,” ujar Bessent.
Bendahara Brandon Beach juga sependapat, menggambarkan Trump sebagai “arsitek kebangkitan ekonomi Era Keemasan Amerika.”
“Mencetak tanda tangannya di mata uang Amerika tidak hanya pantas, tapi juga sangat layak,” terang Beach.
Pengumuman ini menandai penyimpangan besar dari praktik yang telah lama berjalan.
Sejak 1861, uang kertas AS hanya memuat tanda tangan Menteri Keuangan dan Bendahara. Uang yang beredar saat ini menampilkan tanda tangan mantan Menteri Janet Yellen dan mantan Bendahara Lynn Malerba.
Respons datang dengan cepat. Gubernur California Gavin Newsom menjadi salah satu yang pertama menanggapi, lewat unggahan di X:
“Sekarang orang Amerika akan tahu persis siapa yang harus disalahkan saat mereka membayar lebih untuk belanjaan, bensin, sewa, dan layanan kesehatan.”
Keputusan ini merupakan langkah terbaru dari serangkaian kebijakan pemerintahan Trump yang menempelkan nama presiden di lembaga-lembaga Amerika.
Kampanye Penamaan yang Lebih Luas
Pada Desember lalu, pemerintahan ini mengganti nama United States Institute of Peace menjadi nama Trump dan menaruh namanya di kantor pusat organisasi tersebut, setelah sengketa panjang mengenai kepemilikan institute.
Sekitar dua minggu setelahnya, Kennedy Center menambahkan nama Trump ke kompleks seni pertunjukan tersebut. Awalnya, Kongres menyebut venue ini sebagai memorial hidup untuk mantan Presiden John F. Kennedy.
Pada 22 Desember, tren ini juga merambah perlengkapan perang.
Trump mengumumkan rencana Angkatan Laut untuk mengembangkan kelas kapal perang permukaan besar yang baru, di mana pemerintah menyebutnya sebagai pemenuhan kebutuhan konflik maritim modern. Sky News melaporkan saat itu seorang pejabat senior pemerintah sudah mengonfirmasi bahwa armada itu bakal dinamai kapal perang “Trump Class”.
Tidak seperti mengganti nama gedung atau memberikan nama baru pada kapal perang, menghapus tanda tangan presiden dari uang US$ tidak hanya soal kemauan politik. Pemerintahan mendatang yang ingin membatalkan keputusan ini akan menghadapi tantangan logistik dan legislatif yang tidak sedikit.
Apa Saja yang Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan Presiden AS Berikutnya
Berdasarkan Legal Tender Act, semua uang yang diterbitkan pemerintah Amerika Serikat tetap berlaku dan bisa ditebus sesuai nominalnya tanpa batas waktu.
Tidak ada presiden, menteri keuangan, atau kebijakan eksekutif yang bisa secara sepihak membatalkan uang beredar yang sudah ada. Walaupun Kongres memegang kewenangan konstitusional soal alat pembayaran resmi, tidak ada pemerintah yang rela mengambil risiko gangguan ekonomi yang bakal ditimbulkan proses itu.
Langkah realistis yang bisa diambil pemerintahan berikutnya lebih sempit. Caranya dengan memerintahkan Biro Percetakan dan Pengukiran untuk menghentikan produksi uang bertanda tangan Trump. Uang baru akan diterbitkan lagi, secara diam-diam kembali ke kebiasaan sebelumnya.
Tidak diperlukan undang-undang baru. Uang yang beredar tinggal menyusut dengan sendirinya saat dolar yang baru terus menggantikannya.
Namun, proses ini tentu memerlukan waktu. Tergantung seberapa banyak uang yang dicetak sebelum ada perubahan dari pemerintahan berikutnya, uang yang bertanda tangan Trump bisa saja tetap beredar luas dalam waktu yang panjang.