Kembali

Bagaimana Harga Minyak Selama 4 Minggu ke Depan Bisa Memberi Tekanan pada Bitcoin?

Pilih kami di Google
sameAuthor avatar

Ditulis & Diedit oleh
Lockridge Okoth

02 Maret 2026 16.51 WIB
  • Ketegangan di Selat Hormuz mengancam gangguan minyak selama empat minggu.
  • Harga minyak mentah yang lebih tinggi bisa meningkatkan inflasi, dan menunda pemangkasan suku bunga.
  • Kenaikan yield bisa memicu deleveraging Bitcoin dan aset kripto.
Promo

Pasar minyak tiba-tiba kembali menjadi fokus utama dalam peta risiko aset kripto seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Dalam situasi ini, kemungkinan terjadinya gangguan selama empat minggu, seperti yang diperkirakan Presiden Trump, bisa berdampak jauh melampaui sektor energi.

Guncangan Minyak Selat Hormuz Ancam Perketat Likuiditas dan Guncang Pasar Kripto

Pada hari Minggu, Presiden Trump menyampaikan bahwa konflik dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu, seraya menegaskan bahwa perkiraan waktu tersebut didasarkan pada perencanaan serta mengakui kekuatan Iran, namun tetap membuka peluang untuk dialog di masa depan.

Disponsori
Disponsori

Sementara itu, Polymarket melaporkan bahwa perusahaan pelayaran Maersk menghentikan seluruh aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu koridor minyak paling vital di dunia.

Sekitar 20% suplai minyak mentah global melewati jalur sempit antara Iran dan Oman ini. Tanpa perlu adanya blokade total yang terkonfirmasi, premi asuransi kapal tanker sudah melonjak, dan para trader pun bersiap menghadapi kemungkinan guncangan pasokan.

Berdasarkan perkiraan dari Goldman Sachs, “nilai wajar” minyak bisa berada di kisaran US$1 hingga US$15 per barel, tergantung pada seberapa berat gangguan yang terjadi selama sebulan.

Penutupan total tanpa ada kompensasi lain bisa menambah US$15 per barel, sedangkan gangguan parsial memberikan dampak yang lebih terbatas. Dalam skenario ekstrem, beberapa analis bahkan memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak ke kisaran US$120–US$150.

Tetapi, pasar masih terpecah. The Kobeissi Letter menyoroti bahwa harga minyak sempat menghapus hampir 70% dari lonjakan awalnya, lalu turun kembali di bawah US$70 per barel. Volatilitas ini menegaskan betapa rapuhnya sentimen saat ini.

Disponsori
Disponsori

“Ini BUKAN Perang Dunia 3. Abaikan saja keramaian itu,” tulis analis dari The Kobeissi Letter.

Bagi dunia kripto, dampaknya bukan hanya soal minyak itu sendiri, tapi lebih kepada likuiditas.

Dari Lonjakan Minyak ke Guncangan Likuiditas: Mengapa Bitcoin Menghadapi Uji Stres Ekonomi Makro Selama 4 Minggu

Seperti yang diberitakan Reuters, harga minyak melonjak sementara pasar saham turun, dengan investor ramai-ramai mengalihkan aset ke dolar AS, emas, dan obligasi karena konflik di Timur Tengah sepertinya akan berlangsung berminggu-minggu.

Performa Harga Minyak, Saham, DXY, Emas, dan Obligasi
Performa Harga Minyak, Saham, DXY, Emas, dan Obligasi | Sumber: TradingView

Apabila harga minyak tetap tinggi selama sebulan ke depan, ekspektasi inflasi bisa meningkat justru ketika pasar bersiap untuk pemangkasan suku bunga.

Inilah titik di mana aset kripto menjadi rentan.

Kenaikan harga minyak langsung berdampak pada ongkos transportasi dan manufaktur, yang bisa mengerek angka CPI dan akhirnya memaksa bank sentral menunda pelonggaran kebijakan moneter.

Kenaikan ekspektasi inflasi umumnya mendorong yield obligasi pemerintah AS naik. Ketika yield riil naik, likuiditas secara otomatis mengetat.

Bitcoin berulang kali diperdagangkan sebagai aset likuiditas beta-tinggi. Selama siklus pengetatan sebelumnya, yield tinggi telah menarik modal berbasis obligasi dan menjauhkan investasi dari pasar spekulatif seperti kripto.

Guncangan minyak yang bertahan lama berpotensi menilai ulang triliunan modal yang sensitif terhadap suku bunga, sekaligus memberi tekanan pada pasar saham dan aset digital secara bersamaan.

“Dengan pasar kripto 24/7 yang sudah mencerna ketegangan AS-Iran sepanjang akhir pekan, para trader aset digital kini bersikap defensif sambil menilai risiko penularan dari harga minyak mentah saat pasar AS mulai buka hari Senin,” papar analis Bloomberg.

Hal ini berarti proses deleverage bisa terjadi seketika. Jika yield obligasi melonjak bersamaan dengan harga minyak, maka posisi leverage di Bitcoin dan altcoin dapat terurai dengan sangat cepat.

BeInCrypto telah mengingatkan sebelumnya bahwa guncangan harga minyak bisa memicu aksi jual likuiditas tanpa perlu menunggu terjadinya bencana geopolitik besar.

Mekanismenya bersifat mekanis: harga minyak naik → inflasi naik → potensi pemangkasan suku bunga berkurang → yield naik → likuiditas mengetat.

Ada pula lapisan geopolitik kedua. BeInCrypto mengungkapkan kekhawatiran tentang efek domino yang lebih luas, termasuk potensi dampak lanjutan ke Selat Taiwan. Risiko perdagangan global pun bisa makin besar dan stres ekonomi makro semakin dalam.

Beberapa minggu ke depan, kemungkinan minyak akan menjadi indikator utama bagi aset kripto. Jika ketegangan mereda dan harga minyak stabil, minat risiko bisa pulih dengan cepat.

namun, jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, narasinya mungkin berubah dari sekadar isu geopolitik menjadi peristiwa likuiditas besar-besaran, di mana aset digital seperti biasa jadi yang paling dahulu merasakan tekanannya.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori