Survei baru menunjukkan bahwa orang Amerika tidak berpaling ke aset kripto hanya karena ingin cepat kaya. Banyak orang beralih karena jalur lama menuju keamanan finansial terasa lebih lambat, lebih lemah, dan makin sulit dijangkau.
Studi baru dari Northwestern Mutual menemukan bahwa banyak orang Amerika yang menggunakan atau mempertimbangkan aset spekulatif seperti kripto, prediction markets, dan taruhan olahraga, mengatakan mereka melakukannya karena merasa tertinggal secara finansial.
Era Baru Nihilisme Finansial dan Depresi untuk Gen Z Amerika
Dari mereka yang mempertimbangkan instrumen-instrumen ini, 73% percaya aset berisiko tinggi memberikan jalur yang lebih cepat menuju tujuan mereka dibanding cara tradisional.
Bagi Generasi Z, angka itu naik menjadi 80%. Selain itu, lebih dari 30% Generasi Z dan milenial mengatakan mereka sudah berinvestasi atau mempertimbangkan masuk ke aset kripto di tahun 2026.
Inilah yang disebut nihilisme finansial.
Nihilisme finansial adalah keyakinan bahwa membangun kekayaan secara tradisional sudah tidak lagi cukup cepat atau cukup baik untuk orang biasa.
Menabung secara perlahan, membeli rumah, berinvestasi secara konservatif, serta menunggu stabilitas selama puluhan tahun mulai terasa tidak realistis. Saat orang berhenti percaya bahwa sistem bisa membawa kemajuan, mereka mulai mengambil risiko yang lebih besar.
Data di Balik Sempitnya Biaya Hidup di Amerika
Latar belakang ekonomi yang lebih luas bisa membantu menjelaskan alasan di balik fenomena ini.
Memang, inflasi sudah mendingin. Harga konsumen di AS naik 2,4% selama 12 bulan hingga Januari 2026, dari sebelumnya 2,7% di bulan sebelumnya.
Rata-rata upah per jam riil juga naik 1,2% selama setahun, dan upah mingguan nominal pun melampaui inflasi. Secara teori, ini terlihat sebagai kemajuan.
Tapi rumah tangga tidak hidup berdasarkan inflasi utama. Mereka membayar sewa, kebutuhan pokok, tagihan listrik, utang, dan biaya kesehatan.
Sebuah survei pada Februari menemukan 87% orang Amerika percaya negara mereka sedang menghadapi krisis biaya hidup. Lebih dari setengah warga AS kesulitan membayar tagihan rutin seperti sewa tepat waktu, dan 50% mengatakan mereka merasa berat memenuhi kebutuhan pokok, seperti belanja makanan.
Laporan lain menyampaikan bahwa 53% orang dewasa di AS hanya punya uang cukup untuk menjaga standar hidup mereka, sementara banyak yang bilang layanan kesehatan, energi, dan makanan pokok kini di luar jangkauan.
Data utang pun memperlihatkan hal yang sama. Data New York Fed menunjukkan saldo kartu kredit mencapai US$1,28 triliun pada akhir 2025, naik US$44 miliar hanya dalam satu kuartal.
Data kredit konsumen dari The Fed juga menunjukkan kredit bergulir terus naik pada Januari, sementara bunga kartu kredit tetap di atas 20%.
Perumahan juga masih menjadi tekanan tersendiri. Zillow menyebut rata-rata sewa rumah di AS pada Februari mencapai US$1.895, naik hampir 2% dalam setahun.
Selain itu, dua dari tiga penyewa tidak yakin bisa membeli rumah impian mereka dalam waktu dekat.
Jadi, cerita kripto di sini bukan semata-mata soal keserakahan. Ini tentang frustrasi.
Saat orang Amerika merasa sudah bekerja keras, sudah punya penghasilan, tapi tetap tertinggal, aset spekulatif pun mulai terlihat bukan sebagai taruhan sembrono, melainkan cara untuk mengejar ketertinggalan. Ini memang tidak selalu logis dari sisi keamanan, tapi membuatnya menjadi lebih mudah dimengerti.