Sebuah cuplikan viral dari Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang tiba-tiba mengakhiri konferensi pers beberapa detik sebelum melewati batas waktu taruhan penting, semakin memperbesar kekhawatiran tentang insider trading di prediction market. Insiden ini terjadi ketika 30 anggota Partai Demokrat memperkenalkan RUU yang melarang pejabat terpilih memasang taruhan politik.
Awalnya mungkin hanya bercanda—tapi tidak ada yang tertawa.
SponsoredExit 30 Detik
Polemik ini bermula pada 7 Januari saat Leavitt mengakhiri konferensi pers hariannya sekitar menit ke-64 dan detik ke-30, hanya beberapa detik sebelum batas waktu 65 menit yang telah menjadi patokan taruhan di prediction market Kalshi. Pada saat itu, pasar memperlihatkan probabilitas 98% bahwa konferensi pers akan melebihi 65 menit. Trader yang bertaruh sebaliknya langsung memperoleh imbal hasil hingga 50x dalam hitungan detik.
Cuplikan tersebut, yang diunggah oleh influencer X bernama PredictionMarketTrader, langsung menjadi viral. Para kritikus menuding Gedung Putih melakukan manipulasi pasar. Strategis Partai Demokrat, Mike Nellis, menulis, “Kita hidup di garis waktu yang paling bodoh,” sementara yang lain menyerukan agar prediction market sepenuhnya dilarang.
Walau begitu, pengunggah awal kemudian menambahkan bahwa cuitannya memang dibuat untuk lucu-lucuan. “Teman-teman, jelas ini sama sekali bukan insider trading—ada US$3.000 yang diperdagangkan di market,” tulis PredictionMarketTrader pada 10 Januari. Kalshi pun menegaskan total volume hanya sebesar US$3.400 dengan posisi terbesar senilai US$186, dan menyebut tuduhan insider trading sebagai “tanpa dasar.”
Sponsored SponsoredPemicu Sebenarnya: Taruhan Penangkapan Maduro
Walau insiden konferensi pers ini ternyata hanya alarm palsu, isu tersebut memperbesar kekhawatiran lama yang berakar dari kasus yang jauh lebih serius. Satu akun Polymarket bertaruh Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, akan dicopot sebelum akhir bulan, dan berhasil mengantongi US$400.000 setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Maduro pekan lalu atas tuduhan perdagangan narkoba.
Taruhan ini langsung memicu aksi legislasi. Pada 10 Januari, Anggota DPR Ritchie Torres (D-NY) memperkenalkan “Public Integrity in Financial Prediction Markets Act of 2026,” didukung oleh 30 anggota Demokrat, termasuk mantan Ketua DPR, Nancy Pelosi.
“Bayangkan saja, jika ada anggota pemerintahan Trump yang memasang taruhan tentang suatu peristiwa seperti pencopotan Nicolás Maduro,” ujar Torres. “Sebagai pejabat pemerintah sekaligus pelaku prediction market, orang tersebut akan memiliki insentif negatif untuk mendorong kebijakan demi keuntungan pribadinya. Pengambilan untung prediction market oleh orang dalam pemerintah harus benar-benar dilarang.”
RUU ini akan melarang pejabat terpilih di tingkat federal, pejabat politik, pegawai cabang eksekutif, dan staf kongres untuk bertaruh atas kebijakan pemerintah, aksi pemerintah, atau hasil politik jika mereka punya akses ke informasi materiil yang belum publik.
Sponsored SponsoredIroni Pelosi
Dukungan Pelosi terhadap RUU ini menambah sentuhan ironis. Mantan Ketua DPR itu sudah lama menjadi sorotan karena aktivitas jual beli saham suaminya, Paul Pelosi, yang terus-menerus mengungguli pasar. Sejak menjabat pada 1987, portofolio Pelosi diperkirakan menghasilkan cuan hingga 16.930%, dibanding 2.300% untuk Dow Jones Industrial Average di periode yang sama.
Kecurigaan ini bahkan melahirkan industri tersendiri. Akun “Nancy Pelosi Stock Tracker” di X sudah mengumpulkan lebih dari 1,3 juta pengikut, dengan investasi US$1 miliar mengikuti jejak portofolio yang diungkap suaminya melalui fintech Autopilot. Ada juga ETF dengan kode “NANC.”
Pada satu kasus mencolok, Paul Pelosi menjual saham Visa senilai US$500.000 pada Juli 2024—dua bulan sebelum DOJ mengajukan gugatan antitrust ke perusahaan tersebut. Pola serupa juga terlihat tahun 2022, ketika dia menjual saham Google satu bulan sebelum perusahaan itu menghadapi gugatan antitrust.
SponsoredKantor Pelosi berulang kali menyatakan bahwa dia “tidak memiliki saham apapun” dan “tidak memiliki pengetahuan sebelumnya atau keterlibatan setelahnya” terkait transaksi suaminya. Waktu ditanya soal larangan trading saham oleh anggota Kongres pada 2021, ia merespons: “Kita adalah ekonomi pasar bebas. Mereka seharusnya diperbolehkan ikut berpartisipasi.”
Dampak untuk Industri
Prediction market seperti Polymarket dan Kalshi semakin populer sejak siklus pemilu 2024, dan kerap memanfaatkan aset kripto dalam transaksinya. Meski kasus konferensi pers ini berakhir sepele, kasus itu memperlihatkan celah fatal: pasar yang membolehkan taruhan pada peristiwa yang sepenuhnya dikendalikan individu membuka peluang besar untuk manipulasi.
Masih belum jelas apakah RUU Demokrat ini akan mendapat dukungan dari Partai Republik. Direktur Komunikasi Torres menuturkan bahwa sang anggota dewan “mendorong siapa pun di Kongres untuk bergabung.” Mengingat Donald Trump Jr., putra mantan Presiden Trump, dilaporkan memiliki investasi senilai jutaan dolar di Polymarket, kesepakatan bipartisan nampaknya sulit terwujud.
Sampai saat ini, industri prediction market menghadapi tantangan regulasi serius pertama mereka—yang dipicu oleh cuitan satir yang dipercaya semua orang, justru karena terasa sangat masuk akal.