Harga XRP naik sekitar 5% dalam 24 jam terakhir seiring pasar aset kripto yang lebih luas mulai pulih. Pergerakan ini membantu token tersebut pulih sekitar 16% dari level terendah pada 28 Februari. Hal ini membentuk pola cangkir bullish yang bisa mendukung kenaikan lebih lanjut.
Tapi, reli ini datang saat dukungan fundamental mulai melemah. Arus di exchange mengarah pada tekanan jual, trader derivatif meningkatkan leverage, dan aktivitas di XRP Ledger menurun tajam sejak Februari. Bersama-sama, faktor-faktor ini menunjukkan bahwa pola bullish bisa mendapat tekanan jika permintaan tidak segera pulih.
Pola Cup-and-Handle Targetkan Reli Harga XRP 17%, namun Tembok Institusional Masih Bertahan
Pada grafik 8 jam, XRP nampak membentuk pola cup-and-handle, struktur yang sering diasosiasikan dengan reli lanjutan.
Sisi kanan cangkir terbentuk setelah XRP reli hampir 16% dari level terendah 28 Februari, dan kini aset sedang konsolidasi di bagian handle. Jika pembeli dapat mendorong harga melewati garis leher, breakout bisa memicu pergerakan lanjutan menuju US$1,72 (zona US$1,70), proyeksi kenaikan 17% dari garis leher.
Namun, momentum institusional belum sepenuhnya mengonfirmasi pergerakan ini.
Indikator Chaikin Money Flow (CMF), yang melacak dana yang masuk dan keluar pasar, berulang kali sulit menembus di atas 0,04, menandakan partisipasi institusi masih terbatas.
Ingin insight token seperti ini? Daftar newsletter Daily Crypto Editor Harsh Notariya di sini.
Keraguan tersebut bisa mencerminkan penurunan aktivitas XRP secara umum di ekosistem Ripple. Sejak awal Februari, XRP turun sekitar 11%, dan metrik aktivitas utama di XRP Ledger juga turun. Aktivitas transaksi yang lebih rendah dan likuiditas yang menyusut bisa membuat tekanan beli berkelanjutan sulit mendukung breakout.
Permintaan yang melemah ini semakin terlihat jika melihat arus di exchange.
Arus Exchange Beralih ke Penjualan saat Aktivitas XRPL Mulai Melambat
Data on-chain menunjukkan beberapa investor mungkin sudah bersiap untuk menjual saat terjadi rebound baru-baru ini. Exchange Net Position Change, yang melacak apakah koin berpindah masuk atau keluar exchange, baru-baru ini berbalik positif setelah hampir dua minggu arus keluar yang konsisten.
Arus keluar biasanya menandakan akumulasi, karena investor memindahkan aset ke wallet pribadi. Namun, arus masuk sering menunjukkan trader bersiap untuk menjual. Pergeseran ke arus masuk ini muncul saat XRP mencoba konsolidasi di bagian handle dari pola bullish-nya.
Pada saat yang sama, aktivitas XRP Ledger secara umum juga melambat. Jumlah transaksi pembayaran di XRP Ledger mencapai puncak sekitar 2,18 juta pada awal Februari namun kini turun menjadi sekitar 1,03 juta, turun sekitar 53%.
Di sisi lain, aktivitas trading di decentralized exchange XRPL juga menurun tajam, dengan volume DEX turun dari US$30,85 juta menjadi sekitar US$5,09 juta, turun sekitar 83%.
Penurunan aktivitas di ledger ini menunjukkan permintaan organik XRP sebagai aset jembatan atau instrumen trading ikut berkurang. Hal ini bisa membatasi jumlah pembelian spot yang dibutuhkan untuk menopang reli yang kuat. Kondisi ini juga menunjukkan rendahnya keyakinan trader, sehingga mereka memilih mencetak profit atau meminimalisir kerugian dengan menjual di tengah harga naik belakangan ini.
Jika permintaan spot semakin lemah ketika trader mencoba mendorong harga lebih tinggi, pasar bisa makin bergantung pada leverage.
Open Interest yang Naik Menunjukkan Trader Bertaruh pada Reli — Apakah Ini Tidak Selalu Hal yang Baik?
Pasar derivatif menunjukkan trader mulai menambah eksposur bullish. Open Interest untuk Futures XRP naik dari sekitar US$728 juta menjadi hampir US$859 juta antara 2 Maret hingga 5 Maret, menunjukkan kenaikan posisi leverage sebesar 18%.
Funding rate juga sudah berubah dari level yang sedikit negatif menjadi wilayah positif di sekitar 0,0088, menandakan bahwa trader long membayar premi untuk mempertahankan posisi mereka. Tapi, beberapa sesi trading terakhir menunjukkan adanya penurunan leverage. Baik open interest maupun funding rate kini mulai menurun ketika XRP terkonsolidasi di bagian handle dari pola tersebut.
Perubahan ini menandakan bahwa sebagian posisi long kemungkinan sudah ditutup atau terlikuidasi karena momentum harga melambat.
Walaupun posisi ini awalnya mencerminkan optimisme yang meningkat, kondisi tersebut juga menaikkan risiko likuidasi. Jika harga gagal breakout ke atas dan handle makin melemah, posisi long dengan leverage tinggi bisa terpaksa ditutup. Hal ini berpotensi mempercepat penurunan harga.
Kondisi makin melemah saat likuiditas dasar berkurang. Modal yang terkunci di kolam automated market maker XRPL juga turun. TVL AMM turun dari sekitar US$57,6 juta menjadi sekitar US$34,1 juta sejak awal Januari, turun sekitar 41%.
Likuiditas yang menurun dan aktivitas transaksi yang semakin lesu berarti mungkin akan semakin sedikit permintaan organik untuk menahan tekanan jual jika posisi leverage dibuka paksa.
Level Harga XRP Kunci yang Perlu Diperhatikan Sekarang
Harga XRP saat ini diperdagangkan di kisaran US$1,42, menyisakan beberapa area penting yang bisa menentukan pergerakan berikutnya. Breakout di atas US$1,46–US$1,47 akan mengonfirmasi pola cup-and-handle. Setelah itu, harga bisa terdorong ke US$1,59 lalu US$1,72 (zona US$1,70), bahkan berpotensi menuju US$1,76.
Di sisi bawah, pola masih tetap valid selama XRP berada di atas zona support US$1,37–US$1,33.
namun, jika harga turun di bawah US$1,26 maka struktur bullish bisa langsung batal dan berisiko memicu koreksi lebih dalam. Untuk saat ini, chart XRP masih memperlihatkan potensi breakout.
Tapi peningkatan arus masuk ke exchange, kenaikan leverage, serta penurunan aktivitas di XRP Ledger memberi sinyal bahwa reli ini mungkin akan menghadapi ujian berat sebelum bisa lanjut ke level berikutnya.