Pasar obligasi Jepang sedang mengalami salah satu re-pricing paling dramatis dalam sejarah modern.
Dampaknya bisa saja melampaui pasar obligasi domestik, bahkan dapat menyebar ke aset berisiko global, termasuk Bitcoin.
SponsoredPengetatan Likuiditas Menambah Tekanan pada Yen Carry Trade
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) melonjak tajam sejak awal 2026. Imbal hasil 10 tahun naik ke sekitar 2,12%, tertinggi sejak 1999, sedangkan imbal hasil 30 tahun menembus rekor hampir 3,5%.
Secara total, imbal hasil sudah naik sekitar 104 dan 120 basis poin, besaran penyesuaian yang sangat jarang terjadi di era suku bunga ultra-rendah Jepang.
Re-pricing ini mencerminkan kekhawatiran besar terkait arah fiskal dan moneter Jepang. Pemerintah baru saja menyetujui anggaran rekor sebesar US$780 miliar untuk tahun fiskal 2026. Kebijakan ini memperkuat ketakutan akan semakin lebarnya defisit, apalagi di tengah tekanan inflasi yang kini bukan sekadar teori semata.
Melemahnya yen yang terus-menerus juga semakin menimbulkan keraguan apakah Bank of Japan (BoJ) sudah tertinggal dalam kendalikan inflasi.
Analis dari The Kobeissi Letter memandang pergerakan ini sebagai salah satu re-pricing pasar obligasi paling dramatis dalam sejarah Jepang. Mereka menyampaikan bahwa kerugian kini semakin cepat karena investor memperhitungkan belanja defisit yang lebih tinggi serta ketidakpastian kebijakan.
Selama puluhan tahun, pasar obligasi Jepang identik dengan stabilitas dan dominasi bank sentral. Anggapan tersebut kini mulai dipertanyakan.
Bersamaan dengan itu, mulai muncul tanda-tanda pengetatan likuiditas yang nyata. Pengamat pasar Money Ape mengingatkan likuiditas Jepang “mengering dengan cepat”, merujuk pada penurunan uang beredar sebesar 4,9% di 2025, atau penurunan pertama dalam 18 tahun.
Bagi sistem yang dibangun di atas melimpahnya likuiditas, perubahan ini sangat berarti.
Yen Carry Trade yang Mulai Terurai Menjadi Risiko Jangka Panjang untuk Bitcoin dan Aset Kripto
Dinamika pengetatan ini menimbulkan kekhawatiran pada yen carry trade secara global, yang selama bertahun-tahun jadi andalan pengambilan risiko internasional. Investor sejak lama meminjam yen murah untuk mendanai posisi di aset dengan hasil lebih tinggi seperti saham, pasar negara berkembang, hingga aset kripto.
SponsoredSaat imbal hasil Jepang naik dan kondisi pendanaan makin ketat, posisi tersebut jadi semakin rentan terhadap pelepasan paksa.
RadarHits menyoroti lonjakan imbal hasil 30 tahun ke rekor baru ini semakin menekan posisi carry trade.
“Imbal hasil 30 tahun Jepang naik ke 3,5%, tertinggi sepanjang sejarah. Tekanan bertambah pada yen carry trade,” mereka tulis.
Jika pelepasan posisi ini semakin cepat, aset berisiko yang selama ini diuntungkan oleh likuiditas berbasis yen, termasuk Bitcoin, bisa kembali mengalami volatilitas tinggi.
Beberapa analis berpendapat bahayanya justru karena tekanan berlangsung perlahan. Salah satunya, JustDario, menggambarkan situasi ini sebagai “boiling frog syndrome,” di mana tekanan struktural muncul perlahan sampai akhirnya investor baru sadar saat ketidakstabilan tidak bisa dihindari.
Sponsored SponsoredDari sudut pandang ini, sistem keuangan Jepang yang menjadi pondasi yen carry trade global tengah melemah secara nyata, walaupun krisis sepenuhnya memang belum terjadi.
Namun, gambaran ini tidak sepihak. Walau suku bunga nominal naik, suku bunga riil Jepang tetap negatif, hal yang terus mendukung likuiditas dan pengambilan risiko.
Capital Flows menekankan dinamika ini membantu menjelaskan mengapa saham Jepang tetap mendekati level tertinggi sepanjang masa dan modal dari seluruh dunia masih terus mengalir ke pasar Jepang.
“Artinya, ada BANYAK likuiditas di pasar mereka. Kamu pikir The Fed sudah akomodatif? Tidak ada apa-apanya dibandingkan BoJ,” analis itu tulis.
Paradoks pengetatan yang bersamaan dengan suku bunga riil negatif inilah yang memperumit proyeksi ke depan. Risikonya bukan pada guncangan mendadak, melainkan jika unwinding carry trade berkepanjangan perlahan-lahan menghilangkan salah satu sumber utama likuiditas global.
Hingga awal Januari 2026, imbal hasil Jepang masih sangat volatil dan belum stabil. Apakah BoJ bisa menciptakan soft landing atau justru tekanan di pasar obligasi memicu gangguan finansial yang lebih luas, bisa sangat menentukan kondisi makro Bitcoin, sama pentingnya bagi Jepang di bulan-bulan berikutnya.