Hacker Korea Utara mencuri sekitar US$6,3 miliar dari Binance pekan lalu setelah menipu karyawan melalui wawancara kerja palsu. Mereka bahkan mengeksploitasi alat AI internal. Mayoritas dana langsung raib hanya dalam waktu 20 menit.
Peretasan Binance ini membuka mata betapa cepatnya para pelaku kejahatan bisa memindahkan miliaran uang. Sementara itu, saat agen AI mulai melakukan pembayaran sendiri, lembaga keuangan dihadapkan pada pertanyaan baru: siapa yang bertanggung jawab ketika perangkat lunak mengendalikan uang?
Pada acara Merge Madrid, eksekutif TRM Labs Guillaume Rodenas memberikan jawaban yang mengejutkan sederhana.
“Saya pikir selama Anda bisa benar-benar memverifikasi siapa prinsipal nya, jadi pada dasarnya pihak yang mengendalikan agen yang memiliki mandatnya, menurut saya Anda berada di posisi yang tepat.”
Pada dasarnya, kita harus memverifikasi individu atau perusahaan yang mengendalikan agen AI tersebut. Riwayat transaksinya bisa membantu mengonfirmasi apa saja yang dilakukan atas nama pihak itu.
Tapi Siapa yang Menanggung Kerugian Jika AI Berbuat Salah?
“Jelas ini seperti pertanyaan jutaan dolar, bukan?” Rodenas akui.
Ia berpendapat bahwa pengembang bisa saja bertanggung jawab jika ada bug pada perangkat lunak. Pengguna juga harus memahami protokol keuangan yang mereka pakai.
Decentralized autonomous organization (DAO) membuat tanggung jawab makin sulit ditelusuri. Rodenas mengaitkan ketidakpastian ini dengan alasan kenapa regulasi MiCA di Eropa sebagian besar masih mengecualikan decentralized finance secara penuh.
Di sisi lain, penjahat sudah bergerak lebih cepat dibanding tim keamanan tradisional.
Estimasi TRM Labs menyebut Korea Utara menjadi penyumbang 85% dari total nilai yang raib akibat peretasan aset kripto tahun ini. Kerugian total mencapai rekor US$8,7 miliar, dan Binance menjadi pemicu utamanya.
Apakah Bank Berusia 100 Tahun Siap Menghadapi Risiko On-Chain?
Rodenas menyatakan penjahat kini makin sering memanfaatkan agen otonom untuk berinteraksi dengan protokol sekaligus melakukan transaksi tanpa henti. AI juga sudah terlibat dalam serangan ke bank tradisional.
“Jadi jika kejahatan terjadi dua puluh empat jam tujuh hari, maka para pelindung harus berjaga tanpa henti juga.”
TRM sudah menggunakan AI untuk terus memantau wallet dan mendeteksi aktivitas mencurigakan. Tapi Rodenas melihat tantangan berbeda di bank-bank Eropa: seberapa bersedia mereka untuk berubah.
“Ada beberapa perbedaan dalam kesiapan, tapi utamanya justru beda dari sisi kemauan.”
Beberapa bank sudah membentuk tim blockchain sendiri. Sementara itu, masih ada pegawai yang kesulitan meyakinkan manajemen bahwa aset digital itu penting.
Rodenas yakin perbedaan antara kripto dan uang tradisional suatu saat akan hilang.
“Saya rasa beberapa tahun ke depan kita kemungkinan tidak akan memanggilnya kripto, aset digital, atau apapun namanya. Saat itu, ini hanya jadi bentuk baru aset dan kita cukup menyebutnya uang, kan?”
Bagi bank, masa depan itu menjadi ujian nyata: bersiap menghadapi sistem keuangan di mana software sudah bisa memindahkan uang tanpa menunggu instruksi manusia.









