Wall Street Terus Cetak Rekor, tapi Kini Semakin Banyak Suara dari Lembaga Institusi yang Menyebut Kecerdasan Buatan (AI) Sebagai Ancaman Terbesar bagi Pasar Global.
Indeks S&P 500 menjadi pusat perdebatan ini, dan konsentrasinya pun menjelaskan alasannya.
Alasan Para Fund Manager Kini Paling Takut pada AI
Tail risk adalah risiko dengan kemungkinan rendah namun berdampak besar, jenis risiko yang selalu diawasi oleh fund manager meski pasar terlihat tenang. AI baru saja berada di puncak daftar risiko tersebut.
Survei Global Fund Manager Juli dari Bank of America menemukan 45% responden menyebut bubble AI sebagai tail risk terbesar, naik dari 28% pada bulan sebelumnya.
Ikuti kami di X untuk dapatkan berita terkini secara langsung.
Angka tersebut menggantikan posisi inflasi gelombang kedua dari peringkat teratas. Survei yang sama juga menunjukkan posisi long pada saham semikonduktor global sebagai perdagangan paling ramai di dunia.
Para responden juga menyoroti pemicu tertentu. Pengeluaran besar-besaran oleh hyperscaler untuk infrastruktur AI menempati urutan teratas sebagai sumber yang paling mungkin menyebabkan peristiwa kredit.
Analis Mac10 mempertajam peringatan ini pada 8 Agustus. Ia menyebut pertumbuhan laba ke depan melonjak dengan kecepatan rekor hanya karena perusahaan menggelontorkan uang dalam jumlah belum pernah terjadi sebelumnya ke bidang kecerdasan buatan.
Kekhawatirannya berpusat pada cara pencatatan di laporan keuangan. Pengeluaran tersebut sering muncul sebagai lonjakan satu kali pada laporan keuntungan, alih-alih peningkatan kinerja operasional yang bisa bertahan lama.
Instansi institusi pun menggaungkan keraguan serupa. Bank for International Settlements memperingatkan awal tahun ini bahwa belanja besar-besaran dari perusahaan Big Tech berisiko menjadi investasi gagal yang berkelanjutan. Angka di balik peringatan itu memang besar. Lima hyperscaler terbesar diperkirakan akan mengucurkan dana lebih dari US$1 triliun sepanjang 2025 dan 2026.
Keterlibatan rumah tangga semakin memperbesar risiko. Investor biasa kini memegang lebih banyak saham dibandingkan kekayaan mereka, dibandingkan siklus sebelumnya, sehingga penurunan tajam bisa menghantam lebih keras dibandingkan kejatuhan dot-com dulu.
Apa yang Sebenarnya Diungkapkan S&P 500
Masalah struktural menjadi alasan kenapa indeks ini penting. J.P. Morgan Global Research memperkirakan bahwa sekarang, 20 perusahaan teratas menyumbang sekitar 50,8% dari total kapitalisasi pasar.
Konsentrasi seperti ini belum pernah terjadi pada zaman modern. Sudah setengah abad sejak indeks ini bergantung pada sangat sedikit perusahaan. Implikasinya cukup menegangkan. Membeli indeks pasar kini makin mirip dengan membeli saham-saham AI, tak peduli kinerja ke-480 perusahaan lainnya.
Komitmen modal pun terus meluas. Goldman Sachs memperkirakan pengeluaran tahunan terkait AI bisa melampaui US$800 miliar pada akhir 2026.
Morgan Stanley memperkirakan aliran dana yang lebih besar lagi. Penelitiannya menunjukkan kemungkinan investasi infrastruktur AI mendekati US$3 triliun hingga 2028, dengan lebih dari 80% dana itu masih berada di depan mata.
Musim panas sudah memberikan ujian ketahanan tersendiri. Nasdaq sempat turun hampir 10% dari puncak bulan Juni hingga akhir Juli sebelum mencatat rebound hampir 9% di awal Agustus ke posisi tertinggi sepanjang masa baru, menurut data dari TradingView.
Saham momentum menunjukkan kelemahan yang cukup besar. Sandisk dan Western Digital, yang naik sekitar 396% dan 145% sejak awal tahun, keduanya menunjukkan kerentanan sell-the-news saat musim laporan keuangan.
Keyakinan bull saat ini bertumpu pada hasil yang sudah diraih. Goldman Sachs menemukan 64% perusahaan S&P 500 yang sudah melaporkan kinerjanya berhasil mengalahkan estimasi laba konsensus, masing-masing setidaknya satu standar deviasi.
BlackRock menolak sudut pandang bahwa ada gelembung. Para pemimpin pasar saat ini menghasilkan profit nyata, menjaga neraca tetap kuat, dan sebagian besar berinvestasi dengan aliran kas perusahaan sendiri.
Laba yang luar biasa memberi waktu lebih bagi reli AI. Namun masih menjadi tanda tanya besar apakah hasil investasi nantinya benar-benar sepadan dengan triliunan biaya yang dikeluarkan, sebab inilah pertanyaan utama yang masih membayangi seluruh indeks pasar.
Kehancuran Situational Awareness: Sinyal Peringatan untuk Perdagangan AI
Jika pasar membutuhkan studi kasus soal risiko konsentrasi AI, bulan Juli membuktikannya. Situational Awareness, hedge fund yang didirikan oleh mantan peneliti OpenAI Leopold Aschenbrenner, sempat tumbuh hingga US$45 miliar sebelum kerugian besar di saham infrastruktur AI seperti SK Hynix memaksanya menjual seluruh portofolio publik ke Citadel milik Ken Griffin.
Waktunya pun sangat berat: pada 24 Juli, Aschenbrenner mengirim surat pada investor yang melaporkan imbal hasil bersih 439% selama paruh pertama 2026 — bahkan menyarankan saat itu adalah waktu yang bagus untuk menambah dana.
Enam hari kemudian, Citadel mengambil alih saham yang nilainya pernah diperkirakan mencapai US$16 miliar dalam salah satu transaksi ekuitas paling besar dan paling cepat di sejarah Wall Street. Rentetan margin call membuat aset fund ini menyusut dari US$45 miliar menjadi sekitar US$10 miliar hanya dalam hitungan minggu.
Tapi ceritanya tidak berhenti di situ. Hanya beberapa hari setelah hampir ambruk, Aschenbrenner kembali ke pasar dengan investasi senilai US$400 juta di sebuah perusahaan privat — sehingga total komitmennya pada target tanpa nama tersebut mencapai US$500 juta, ditambah juga saham privat yang masih dimiliki fund tersebut.
Kejadian ini tidak membuktikan bahwa perdagangan AI sudah berakhir, namun menunjukkan bagaimana konsentrasi, leverage, dan likuiditas tipis bisa menghancurkan sebuah portofolio sebelum tesis jangka panjang sempat terwujud — dan rapuhnya hal inilah yang kini juga ada di indeks S&P 500.
Subscribe ke saluran YouTube kami untuk menyaksikan wawancara para pemimpin dan jurnalis memberikan insight dari para ahli.









