Harga perak turun 17% dari level tertingginya pada 3 Maret mendekati US$96 ke US$79 hanya dalam beberapa hari, karena konflik Iran mendorong harga minyak melonjak lebih dari 31% dalam satu bulan.
Sementara harga XAG/USD sudah pulih ke kisaran US$86 pada waktu publikasi, 3 sinyal yang mendukung reli Februari kini diam-diam telah berubah arah. Berikut perubahan yang terjadi sejak analisis terakhir dan artinya untuk pergerakan harga perak ke depan.
Channel Ascending Menutupi Tren Turun yang Lebih Besar
Setelah menyentuh titik terendah di dekat US$64 pada 6 Februari, pemulihan harga perak bergerak di dalam channel naik pada grafik harian. Walaupun struktur ini sekilas nampak bullish, namun berada dalam tren turun yang lebih besar yang dimulai setelah rekor tertinggi 29 Januari di sekitar US$121.
Channel naik di dalam tren turun biasanya berfungsi sebagai pola kelanjutan. Pola ini merupakan koreksi naik sementara sebelum harga kembali mengikuti arah semula. Pergerakan terukur dari puncak channel ini memproyeksikan potensi penurunan konservatif sekitar 20% apabila pola ini breakdown ke bawah.
Reli pada 3 Maret ke US$96 menjadi titik tertinggi di channel ini. Dari sini, harga perak turun 17% kurang dari satu minggu, jatuh ke US$79 sebelum kemudian memantul lagi. Batas bawah channel di area US$79 masih bertahan pada retest, sehingga pola ini secara teknis masih valid. tapi, kecepatan dan besarnya penolakan dari US$96 menunjukkan seller menjaga batas atas channel dengan sangat agresif.
Pada waktu publikasi, harga perak berada di atas US$86, yaitu di pertengahan channel naik. tapi, tekanan dari faktor eksternal, terutama pengaruh minyak terhadap dolar AS, makin menekan struktur ini. Rasio emas-perak turut mengonfirmasi perubahan ini.
Chart Emas-Perak Masih Cenderung Bullish
Rasio Emas-Perak, yang mengukur berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas, sedang membentuk pola inverse head and shoulders pada grafik harian. Ini adalah pola bullish reversal untuk rasio, yang artinya emas bisa mengungguli perak secara signifikan jika pola ini terkonfirmasi.
Batas neckline-nya miring ke bawah, sehingga pemicu breakout realistis ada di zona 62. Jika pergerakan sudah terkonfirmasi menembus 62, target selanjutnya mengarah ke 65, dan level ekstensi Fibonacci 1,618 di 73.
Bila rasionya mencapai 67 hingga 73, ini akan jadi sinyal pergeseran tegas arus modal dari perak ke emas. Rotasi ini biasanya terjadi ketika pasar lebih memprioritaskan aspek keamanan dibandingkan pertumbuhan industri; persis seperti situasi akibat konflik Iran dan lonjakan harga minyak saat ini.
Harga Brent sudah reli 31% dalam sebulan terakhir hingga mendekati US$90 per barel pada waktu publikasi. Lonjakan ini memperkuat dolar AS karena harapan inflasi meningkat, mengurangi peluang The Fed memangkas suku bunga, dan memberatkan permintaan industri.
Perak, dengan sekitar 60% konsumsi tahunannya pada 2025 terikat sektor industri, menghadapi tekanan tiga kali lipat. Dolar AS yang menguat langsung menekan harga komoditas, peluang pemangkasan suku bunga yang makin kecil menghilangkan sentimen positif penting, dan lemahnya sentimen industri juga menghantam permintaan perak. Jika konflik ini terjadi di kawasan tanpa kaitan minyak, perak mungkin bisa menikmati arus lindung nilai. Sebaliknya, koneksi pada minyak justru membuat risiko geopolitik menjadi angin sakal, bukan dorongan positif.
Arah gerak dolar AS akan menentukan apakah rasio emas-perak akan tembus ke atas. Data terbaru dari pasar Futures dan ETF juga menunjukkan pelaku institusi belum bertaruh pada pemulihan harga perak.
Posisi Futures dan Arus Keluar ETF Tunjukkan Smart Money Sedang Menunggu
Laporan Commitment of Traders, yaitu breakdown mingguan posisi Futures yang dirilis oleh Commodity Futures Trading Commission, menggambarkan partisipasi pasar yang tipis. Per 3 Maret, total open interest Futures perak di COMEX turun 12.128 kontrak menjadi 113.326. Penurunan ini terjadi ketika harga perak masih diperdagangkan di kisaran US$96, menandakan reli waktu itu lebih banyak didorong aksi penutupan posisi short, bukan pembelian baru.
Trader non-komersial, kategori dalam laporan COT yang mencakup hedge fund, commodity trading advisor, dan spekulan lain yang berdagang Futures demi keuntungan, tidak untuk lindung nilai, kini menggenggam posisi net long sekitar 23.338 kontrak per 3 Maret. Angka ini memang naik sedikit dibanding pekan sebelumnya, namun masih jauh di bawah puncaknya pertengahan 2025 di kisaran 45.000 kontrak.
Jika melihat lebih dalam, jumlah kontrak long bruto di kelompok ini tercatat hanya sedikit di atas 32.000 kontrak, merupakan level terendah dalam 13 tahun, menurut analisis dari StoneX. Artinya, reli sampai US$96 tidak berhasil menarik pembelian institusional baru dan memang berpotensi gagal.
Sementara itu, kontrak berjangka perak di COMEX tidak menunjukkan backwardation dan open interest pun datar. Harga spot perak di US$86 dan kontrak berjangka bulan depan di hampir US$87 berada dalam kondisi contango normal (harga futures di atas harga spot). Hal ini penting karena backwardation sebelumnya menjadi sinyal yang memungkinkan perak melawan kekuatan dolar pada Februari. Tanpa adanya premi fisik sebagai penyangga, perak kini benar-benar terbuka terhadap tekanan ekonomi makro.
The iShares Silver Trust (SLV), ETF perak terbesar yang didukung fisik, juga mengonfirmasi keluarnya dana investor. SLV telah mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,18 miliar selama sebulan terakhir. Padahal perak naik sekitar 3% pada periode yang sama, modal institusional justru meninggalkan produk berbasis fisik ini.
Kombinasi penurunan open interest, tidak adanya backwardation, serta arus keluar dari ETF ini menunjukkan pasar yang harganya naik turun, namun keyakinannya lemah.
Level Harga Perak yang Perlu Anda Pantau Sekarang
DXY saat ini berada di 98,65, bergerak dalam channel turun setelah melonjak pada 9 Maret. Level retracement Fibonacci dari swing terakhir menunjukkan resistance di 99,07 (0,382), 99,61 (0,618), dan level psikologis utama di 100 (0,786). Jika berhasil menembus 99,61, tekanan dari dolar atas harga perak bisa semakin besar.
Bagi perak, channel naik ini menetapkan rentang pergerakan jangka pendek. Ke atas, US$91 menjadi resistance berarti pertama yang selaras dengan zona tengah channel dan juga area support lama yang kini menjadi resistance. Penutupan harian di atas US$96 dibutuhkan untuk memberi sinyal kekuatan nyata dan membuka jalan menuju US$103, serta akhirnya ke rekor tertinggi US$121. Kenaikan menuju US$96 berarti reli sekitar 11% dari level sekarang.
Ke bawah, US$82 menjadi support krusial pertama untuk harga perak. Di bawahnya, target berikutnya ada di US$74. Batas akhir selanjutnya di US$67. Jika menembus di bawah US$60 (proyeksi penurunan 20% dari garis tren bawah), perak berpotensi lanjut turun ke US$51.
Tiga dari empat sinyal yang dianalisis pada 3 Maret masih menunjukkan sentimen bearish: tidak adanya backwardation, rasio emas-perak yang naik, serta arus keluar SLV yang membuktikan distribusi institusional. Satu-satunya faktor yang bisa mengubah arah pasar adalah DXY.
Jika DXY terus turun dan bertahan di bawah 98, tekanan makro bisa mulai mereda serta memberi channel naik kesempatan untuk bergerak lebih tinggi. Tetapi, hal itu baru bisa terjadi jika harga minyak global turun dan tensi dunia mulai mereda.