Grafik harga Solana terlihat lemah jika dilihat sekilas. Token ini masih turun sekitar 10% dalam sebulan terakhir, mencerminkan pelemahan pasar aset kripto secara umum. Tapi, angka utama tersebut menyembunyikan satu detail penting. Antara 6 Februari hingga 4 Maret, Solana mengalami pemulihan tajam. Aset ini reli dari sekitar US$67 ke US$94, atau naik hampir 40% kurang dari sebulan.
Di balik reli itu, muncul sebuah tanda peringatan. Beberapa investor paling setia Solana nampaknya tidak yakin dengan pergerakan tersebut. Kurangnya keyakinan itu sekarang bertemu dengan sinyal teknikal terbaru, menciptakan potensi terjadinya koreksi harga selanjutnya.
Reli ke US$94 Gagal Meyakinkan Holder Tertuanya
Holder jangka panjang sering menjadi pendukung terkuat dalam reli harga. Jika para investor ini terus menambah posisi saat harga naik, umumnya hal itu menandakan kepercayaan besar terhadap tren tersebut. Namun reli Solana baru-baru ini justru menunjukkan situasi berbeda.
Data dari HODL Waves, sebuah metrik yang mengelompokkan holder berdasarkan lamanya aset disimpan, menunjukkan holder yang sudah memegang SOL selama tiga tahun atau lebih menguasai sekitar 9,77% pasokan pada 3 Februari. Ketika reli dimulai pada 6 Februari, para investor ini mulai mengurangi kepemilikannya sejak 8 Februari.
Mau dapat insight token menarik lainnya? Daftar Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Kebanyakan aksi jual terjadi dengan cepat di fase awal reli. Saat harga Solana akhirnya mencapai puncak US$94 pada 4 Maret, holder tertua ini hampir tidak menambah eksposur sama sekali. Porsi mereka dari total pasokan turun jadi sekitar 7,28%.
Dengan kata lain, para pendukung terkuat Solana tidak ikut kembali mendukung reli tersebut. Ketiadaan keyakinan jangka panjang ini menjadi sangat penting saat momentum teknikal mulai melemah.
Hidden Bearish Divergence Tunjukkan Momentum Mulai Melemah, tapi Risiko Lebih Besar Masih Mengintai
Peringatan momentum itu sudah muncul di grafik harga. Antara 26 November hingga 4 Maret, Solana membentuk hidden bearish divergence pada time frame harian. Pola ini terjadi ketika harga membentuk high yang lebih rendah sementara Relative Strength Index (RSI) membentuk high yang lebih tinggi.
Hidden bearish divergence sering muncul dalam tren penurunan yang lebih luas dan biasanya menandakan kelanjutan tren yang sudah ada.
Solana masih berada dalam konteks tersebut. Meski sempat pulih, token ini masih turun sekitar 34% dalam tiga bulan terakhir, menandakan tren utama masih bearish.
Divergensi ini mulai berdampak tak lama setelah harga Solana mencapai puncak US$94 pada 4 Maret. Sejak itu, harga sudah terkoreksi sekitar 7%, yang mengisyaratkan bahwa penjual mulai kembali mendominasi pasar. Tapi, masih ada satu level teknikal penting yang memisahkan Solana dari koreksi yang lebih dalam.
Meski terjadi koreksi, Solana masih berada di atas exponential moving average (EMA) 20 hari. EMA 20 hari adalah garis tren yang mengikuti rata-rata harga 20 hari terakhir, dengan bobot lebih pada harga-harga terbaru.
Level ini berulang kali menjadi garis tren penentu untuk aset ini. Jika Solana menembus ke bawah EMA 20 hari, harga cenderung turun semakin cepat. Sebagai contoh, ketika Solana kehilangan level ini sekitar 18 Januari dekat US$137, penurunan harga akhirnya berlanjut hingga sekitar US$67 pada 6 Februari.
Contoh lain terjadi awal tahun ini ketika sinyal momentum serupa mendorong Solana di bawah EMA tersebut dan memicu penurunan 11%.
Perbedaannya kali ini adalah pasar mungkin tidak punya kelompok pembeli kuat untuk mempertahankan level tersebut. Para holder tertua sudah mengurangi posisi saat reli, dan kini kelompok investor lainnya nampaknya juga mulai melakukan penjualan.
Holder Jangka Panjang Kini Menjual Saat Harga Solana Menguji Biaya Dasarnya
Ketika holder tertua mengurangi kepemilikan di awal reli, holder menengah hingga jangka panjang masih terus akumulasi. Metrik Hodler Net Position Change menunjukkan bahwa investor yang memegang lebih dari 155 hari ini terus menambah posisi sejak 24 Desember 2025. Selama beberapa minggu, data memperlihatkan akumulasi secara konsisten.
Tapi, tren itu kini sudah berbalik dengan tajam.
Sekarang, metrik ini berbalik negatif menjadi sekitar –635.750 SOL, menandakan tekanan jual terbaru sudah melebihi akumulasi stabil yang berlangsung selama sebulan terakhir.
Perubahan ini terjadi di momen penting karena Solana sekarang diperdagangkan tepat di dalam klaster biaya pokok utama antara US$86,80 hingga US$87,82. Sekitar 13,1 juta SOL dikumpulkan di rentang ini, sehingga area ini menjadi salah satu zona support terkuat di grafik.
Tingkat biaya pokok tersebut sering kali berperan sebagai support karena investor cenderung mempertahankan harga di mana mereka pertama kali membeli.
tapi jika level ini jebol, reaksinya bisa sangat cepat.
Jika Solana tidak mampu kembali ke level US$87,82 (level umum antara harga dan grafik klaster), harga Solana bisa tertekan turun melewati EMA 20 hari dan area support biaya pokok terkuatnya. Skenario ini bisa membuka jalan menuju US$77,67, yang juga sejajar dengan level retracement Fibonacci 0,618. Jika pelemahan berlanjut, penurunan bisa berlanjut hingga US$73,21 bahkan US$67,52, yakni area di mana reli bulan Februari dimulai.
Di sisi lain, prediksi bearish akan melemah jika pembeli kembali menguasai pasar. Momentum Solana baru bisa pulih jika harga bisa menembus kembali US$94,09, yaitu level puncak reli sebelumnya.
Untuk saat ini, Solana berada di titik penentuan penting. Reli ke US$94 menunjukkan permintaan jangka pendek yang kuat, tapi tanpa dukungan dari holder tertua, reli tersebut bisa sulit bertahan jika tekanan jual tetap tinggi di zona support US$86-US$87.