CEO Anthropic, Dario Amodei, secara terbuka menolak permintaan Pentagon pada hari Kamis. Departemen Pertahanan ingin menggunakan teknologi AI milik perusahaan tanpa batasan untuk kepentingan militer. Batas waktu, yang tinggal beberapa jam lagi, bisa membuat startup senilai US$380 miliar ini keluar dari rantai pasok militer AS.
Konfrontasi ini menjadi kali pertama sebuah perusahaan AI besar secara terbuka menentang ancaman pemerintah AS untuk mengambil alih kendali atas teknologinya.
The Standoff
Pada blog post yang diterbitkan di situs web Anthropic, Amodei menyebut ancaman Pentagon itu sebagai “bertentangan secara mendasar”, sambil menyoroti bahwa di satu sisi Anthropic disebut sebagai risiko keamanan, sedangkan di sisi lain produk Claude dianggap penting bagi keamanan nasional.
“Tidak peduli apapun, ancaman ini tidak mengubah posisi kami: kami tidak bisa dengan tenang memenuhi permintaan mereka,” tulis Amodei.
Pertikaian ini berpusat pada dua syarat yang diberikan Anthropic untuk penggunaan Claude di militer. Perusahaan melarang penggunaan Claude untuk penargetan otonom terhadap kombatan musuh dan melarang pengawasan massal terhadap warga negara AS. Pentagon menganggap ini sebagai pembatasan yang tidak dapat diterima untuk operasi militer yang sah.
Anthropic mengungkapkan tawaran “final” dari Pentagon, yang diterima pada Rabu malam, masih belum mengatasi kekhawatiran inti mereka. “Bahasa baru yang seolah kompromi ternyata disertai dengan pasal hukum yang dapat membuat perlindungan tersebut diabaikan sewaktu-waktu,” terang juru bicara Anthropic dalam pernyataan, seperti dilaporkan oleh The Hill.
Juru bicara Departemen Pertahanan, Sean Parnell, mengeluarkan ultimatum terbuka pada hari Kamis. Ia memberi waktu Anthropic hingga pukul 5:01 sore waktu setempat pada hari Jumat untuk memberikan akses tanpa batas ke Claude Gov — jika tidak, kerja sama akan dihentikan dan perusahaan akan ditetapkan sebagai risiko rantai pasok.
“Kami tidak akan membiarkan PERUSAHAAN MANA PUN menentukan aturan terkait cara kami mengambil keputusan operasional,” tulis Parnell di X.
Timeline Eskalasi
Pada hari Selasa, Amodei bertemu langsung dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Saat itu, pejabat Pentagon memaparkan tiga konsekuensi jika Anthropic tidak patuh. Pertama, penghapusan dari sistem militer. Kedua, penetapan sebagai risiko rantai pasok sehingga kontraktor pertahanan lain dilarang menggunakan produk Anthropic. Ketiga, penerapan Defense Production Act 1950 untuk memaksa perusahaan menyerahkan teknologinya secara hukum.
Amodei memaparkan dalam blog post bahwa penolakan ini juga didasarkan pada kenyataan teknis. “Sistem AI frontier memang tidak cukup andal untuk mengendalikan senjata otonom sepenuhnya,” tulisnya, sambil menambahkan bahwa tanpa pengawasan yang tepat, sistem seperti ini “tidak dapat diandalkan untuk mengambil keputusan kritis seperti yang dilakukan prajurit profesional dan terlatih setiap hari.”
Senator Partai Republik Thom Tillis mengkritik penanganan Pentagon atas perselisihan ini. “Kenapa kita harus membahas hal ini secara terbuka? Ini bukan cara yang tepat menangani vendor strategis,” komentar Tillis kepada wartawan.
Apa yang Dipertaruhkan
Bagi Anthropic, kontrak militer senilai US$200 juta merupakan risiko langsung. Tapi, penetapan sebagai risiko rantai pasok akan berdampak jauh lebih luas. Setiap kontraktor pertahanan wajib memastikan mereka tidak menggunakan produk Anthropic dalam operasional mereka.
Peta persaingan pun berubah dengan cepat. xAI milik Elon Musk sudah meneken perjanjian untuk menghadirkan Grok di sistem rahasia, menurut laporan Axios, dengan menerima standar ‘untuk semua tujuan yang sah’ dalam pekerjaan klasifikasi. OpenAI dan Google kini mempercepat negosiasi masuk ke bidang serupa. Anthropic, yang sebelumnya satu-satunya perusahaan AI yang mendapat izin mengelola dokumen rahasia, berisiko kehilangan keunggulan awal mereka sepenuhnya.
Mengapa Aset Kripto Harus Memperhatikan Hal Ini
Kesediaan Pentagon menggunakan Defense Production Act terhadap perusahaan teknologi menjadi preseden yang dampaknya bisa meluas bukan hanya untuk AI. Jika pemerintah secara sah bisa memaksa perusahaan AI mencabut aturan keselamatan demi alasan keamanan nasional, teori yang sama bisa saja diterapkan untuk perusahaan aset kripto agar memodifikasi fitur privasi atau melemahkan perlindungan transaksi.
Konflik ini juga mempertegas pentingnya pengembangan AI secara terdesentralisasi. Penyedia AI terpusat mudah ditekan — atau dipaksa secara hukum — mencabut perlindungan atas permintaan pemerintah. Ini memperkuat pandangan bahwa alternatif terdesentralisasi menawarkan infrastruktur yang lebih tahan terhadap tekanan negara.
Pertumbuhan Anthropic yang sangat pesat sudah mengundang perhatian pasar aset kripto. Valuasi Anthropic yang mencapai US$380 miliar dan gangguan AI terhadap pendapatan software tradisional menekan arus kredit swasta yang punya korelasi erat dengan Bitcoin.
Anthropic juga memiliki kaitan historis dengan dunia kripto: aset kebangkrutan FTX dulu pernah memiliki kepemilikan awal yang besar di perusahaan ini, lalu kemudian mereka jual untuk membantu pembayaran kepada kreditur.
Batas waktu hari Jumat akan berlalu, tapi pertanyaan utamanya baru dimulai setelah itu: apakah Pentagon benar-benar akan mengambil langkah selanjutnya, dan apa maknanya untuk setiap perusahaan teknologi yang ingin menjaga integritas produk di tengah tekanan kontrak pemerintah.