Bitcoin (BTC) sempat menyentuh US$80.000 pada hari Senin, lalu langsung melepas level tersebut. Para kritikus mulai menyoroti rencana Departemen Keuangan AS yang memicu pergerakan harga ini.
Pada saat publikasi, aset ini diperdagangkan mendekati US$78.835. Pasar obligasi sebenarnya sudah menjalankan pola serupa pekan lalu, namun tidak bertahan lama.
Apa yang Mendorong Bitcoin ke US$80.000
Treasury General Account (TGA) adalah rekening giro pemerintah di The Fed. Penerimaan pajak mengisinya. Menteri Keuangan Scott Bessent membiarkan saldo membengkak, dengan laporan mencatat saldo akun mendekati US$950 miliar.
Pernyataan kas harian Departemen Keuangan sendiri menunjukkan saldo US$935,1 miliar per 20 Agustus, menurut data resmi terbaru. Dua pejabat tinggi Departemen Keuangan memberi tahu CNBC bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk buyback obligasi.
Treasury menggandakan program buyback tersebut pada 19 Agustus. Operasi buyback obligasi dengan tenor panjang naik dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar tiap kali. Pembelian pertama dijadwalkan pada 9 September, sesuai pengumuman resmi departemen.
Trader menyambut langkah ini. Penggunaan dana TGA tidak menambah neraca The Fed. Dana tersebut hanya berpindah ke cadangan bank. Dari sisi likuiditas, langkah ini jadi pendorong utama reli Bitcoin sepanjang bulan ini.
Pasar Obligasi Sudah Melakukan Pergerakan Serupa
Data yield milik Treasury menggambarkan situasi ini. Yield obligasi tenor 30 tahun mencapai 5,31% pada 17 Agustus, level tertinggi sejak 2007.
Berita buyback menurunkannya jadi 5,19% dua hari kemudian. Namun pada 21 Agustus, yield kembali naik ke 5,27%. Seluruh reli tersebut lenyap hanya dalam dua sesi.
Senin terjadi rebound kedua. Yield tenor 30 tahun turun ke 5,21% dan yield 10 tahun menjadi 4,69%. Harga spot Bitcoin mengikuti momentum tersebut sampai ke US$80.000, lalu terkoreksi lagi.
Mengapa Kritikus Menilai Tak Akan Bertahan
Bessent menyebut strategi ini dengan istilah “Treasury Twist”. Nama ini mengingatkan pada Operation Twist tahun 1961 yang mencoba menurunkan suku bunga jangka panjang.
Citadel Securities menyebutnya sebagai bentuk represi finansial. Perusahaan itu memperingatkan langkah ini bisa melemahkan dolar dan memicu inflasi. Defisit yang menyebabkan lonjakan yield malah tidak tersentuh.
Peter Schiff, kepala ekonom di Euro Pacific Asset Management, sudah lama mengkhawatirkan pasar obligasi.
“Rencana sembrono ini akan memangkas rata-rata jatuh tempo utang nasional secara signifikan, sehingga membuat kita lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga jangka pendek… Ini adalah resep untuk quantitative easing besar-besaran dan inflasi yang menggila. Punya emas?” tulis Schiff pada akun X.
Benjamin Chabot, mantan ekonom Federal Reserve Bank of Chicago, melontarkan pertanyaan yang lebih tajam.
“Apakah penting jika Treasury pakai TGA untuk membeli obligasi? Mungkin tidak. Dana TGA kebanyakan sudah dialokasikan. Hal yang penting adalah bagaimana Treasury kembali mengisi TGA setelah pembelian,” terang Chabot lewat akun X.
Tom Lee dari Fundstrat punya pandangan berbeda. Ia berkata perubahan ini justru menguntungkan aset berdurasi panjang, termasuk kripto.
Departemen Keuangan belum membelanjakan sepeser pun dari dana akun tersebut. Pada 9 September nanti, wacana ini akan mulai diuji dengan angka nyata.









