Bitcoin telah turun di bawah level krusial US$70.000, jatuh lebih dari US$5.000 dalam waktu 24 jam dan menghapus keuntungan terbaru dalam pergerakan tajam yang mengejutkan para trader.
Penurunan Bitcoin ini tidak didorong oleh satu pemicu tunggal. Sebaliknya, perpaduan tekanan ekonomi makro sedang membentuk ulang selera risiko secara global.
Reli Bitcoin karena Faktor Ekonomi Makro, Bukan Peristiwa Khusus Aset Kripto
Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di US$69.913, turun hampir 5% dalam 24 jam terakhir dan kembali ke level yang terakhir terjadi lebih dari satu minggu lalu.
Tidak seperti koreksi sebelumnya yang sebagian besar disebabkan oleh faktor dari ekosistem kripto sendiri, penurunan kali ini mencerminkan tekanan pasar global yang lebih luas. Secara khusus, ada beberapa faktor kunci:
- Inflasi yang meningkat
- Penundaan pemangkasan suku bunga, dan
- Kondisi likuiditas yang makin ketat
Semua faktor ini memaksa investor untuk menilai kembali eksposur risiko mereka dan menjelaskan mengapa BTC gagal bertahan di US$70.000 sebelum menuju kenaikan berikutnya.
Karena bank sentral mempertahankan kebijakan “lebih tinggi lebih lama,” modal pun mengalir dari aset spekulatif menuju instrumen yang lebih aman seperti obligasi serta kas.
Secara historis, situasi ini tidak menguntungkan untuk Bitcoin, yang biasanya berkinerja baik saat likuiditas pasar sedang meluas.
Krisis Energi Picu Penetapan Harga Ulang Pasar Global
Salah satu pemicu utama penjualan besar-besaran ini adalah lonjakan harga energi di Timur Tengah. Gangguan di sekitar Selat Hormuz dilaporkan telah memutus pasokan minyak global dalam jumlah besar, sehingga memicu apa yang disebut analis sebagai salah satu kejutan pasokan terparah dalam sejarah modern.
Pasar minyak mentah fisik kini mengalami tekanan ekstrim. Minyak mentah Oman melonjak ke US$173 per barel, sedangkan minyak mentah Dubai menembus US$150. Level ini jauh di atas acuan utama seperti Brent dan WTI yang banyak dikutip. Kesenjangan harga ini mengisyaratkan pasar minyak global belum sepenuhnya menyesuaikan dengan parahnya kekurangan pasokan saat ini.
Ketika harga energi melonjak, ekspektasi inflasi pun meningkat, sehingga pasar perlu kembali menunda perkiraan pemangkasan suku bunga.
Emas dan Perak Konfirmasi Tekanan Pasar yang Lebih Luas
Penurunan harga ini tidak hanya terjadi pada kripto. Aset safe-haven tradisional juga ikut tertekan, menegaskan bahwa peristiwa ini didorong oleh faktor ekonomi makro.
Harga emas turun 5%, sedangkan Harga Perak jatuh lebih dari 10% hanya dalam sehari. Penurunan ini menandakan investor tidak memindahkan modal ke aset safe-haven, tetapi justru melikuidasi posisi di berbagai kelas aset.
Sekarang, harga emas telah turun hampir US$1.000 per ons dari puncaknya yang baru-baru ini, menyoroti betapa cepat perubahan sentimen yang terjadi.
Sinyal Pasar Minyak Menunjukkan Shock Global Tersembunyi
Salah satu sinyal terpenting saat ini adalah membesarnya perbedaan harga antara Brent dan WTI.
Minyak Brent (sebagai acuan global) melonjak ke sekitar US$115–US$119 per barel, sedangkan WTI lebih rendah di kisaran US$95–US$99. Selisih ini mencerminkan “war premium” yang berkaitan dengan gangguan rantai pasok di Timur Tengah, terutama berdampak ke Eropa dan Asia.
Analis memperingatkan bahwa dampak penuhnya belum dirasakan oleh pasar Barat. Jika gangguan terus berlanjut, persediaan di AS dan Eropa bisa makin ketat, sehingga harga global berpotensi naik lebih tinggi lagi.
Kondisi Likuiditas Berbalik Melawan Aset Berisiko
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga tetap sambil memberi sinyal belum akan ada pemangkasan, memperkuat narasi “lebih tinggi lebih lama”.
Ini memperketat kondisi keuangan pada saat pasar sudah memasukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertengahan 2026.
Menurut pengamat pasar, perubahan ini telah memaksa penyesuaian ulang yang sangat cepat pada aset berisiko, dengan Bitcoin turun dari US$72.400 menjadi di bawah US$70.000 hanya dalam beberapa jam saja.
Secara historis, situasi seperti ini biasanya menekan aset spekulatif karena modal beralih mencari stabilitas dan imbal hasil di tempat lain.
Apa yang Terjadi Selanjutnya untuk Bitcoin?
Meski volatilitas jangka pendek cukup tinggi, para analis menilai bahwa penurunan harga akibat faktor ekonomi makro seperti ini bukan hal yang baru. Pada siklus kenaikan suku bunga sebelumnya, Bitcoin juga sempat mengalami penurunan tajam sebelum akhirnya bisa pulih ketika kondisi likuiditas membaik.
Crypto strategist Michael van de Poppe menyoroti bahwa meski penurunan bisa berlanjut jika pasar energi semakin memburuk, harga Bitcoin saat ini bisa menjadi zona akumulasi jangka panjang.
“… pasar sudah jatuh karena ada eskalasi baru di Timur Tengah. Jika ini tidak mereda, saya tidak melihat alasan pasar untuk bergerak naik. Saya pikir kita akan melihat semua pasar, termasuk Bitcoin, turun ke level lebih rendah. Namun, dalam jangka panjang, membeli Bitcoin di wilayah harga ini sangat bagus,” tulis analis tersebut .
Katalis ekonomi makro utama yang perlu diawasi termasuk pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada 21 Maret serta perkembangan ketegangan di Timur Tengah.
Faktor-faktor ini akan menentukan apakah ekspektasi pemangkasan suku bunga akan kembali, atau justru aksi jual saat ini akan semakin dalam.
Kesimpulan Utama
Penurunan Bitcoin di bawah US$70.000 bukan sekadar koreksi di aset kripto. Hal ini mencerminkan likuiditas yang mengetat, inflasi akibat kenaikan harga energi, serta tekanan geopolitik secara global.
Selama pasar masih menyesuaikan ulang risiko, Bitcoin tetap sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi makro.