Kembali

Orang Kaya di Cina Bandingkan Harga Properti dengan Bitcoin — dan Properti Kalah

sameAuthor avatar

Ditulis & Diedit oleh
Lockridge Okoth

30 Desember 2025 13.08 WIB
  • Investor Cina makin sering membandingkan rumah mewah secara langsung dengan Bitcoin dan saham global.
  • Harga turun, likuiditas rendah, dan risiko kebijakan membuat properti kurang menarik sebagai penyimpan nilai.
  • Aset kripto kini menjadi alat likuid untuk menjaga dan memindahkan kekayaan.
Promo

Para investor kaya di Cina kini makin sering mempertanyakan apakah properti mewah masih layak disebut sebagai tempat penyimpanan nilai yang aman seperti dulu.

Pembahasan viral di media sosial Cina sekarang memperlihatkan rumah senilai ¥60–66 juta (US$414.000–US$455.000) di Shenzhen Bay dibandingkan langsung dengan Bitcoin, saham Nvidia, dan BNB. Perbandingannya bukan sekadar simbol status, melainkan sebagai aset yang saling bersaing dalam sebuah portofolio global.

Sponsored
Sponsored

Crypto vs Beton: Mengapa Orang Kaya di Cina Mulai Meragukan Nilai Kepemilikan Rumah

Perubahan ini terasa sangat mencolok, mengingat Shenzhen Bay selama ini dianggap sebagai salah satu pasar properti paling prestisius dan tahan banting di Cina daratan. Tapi, sejumlah postingan terakhir menandakan bahwa wilayah eksklusif ini pun kini tidak lagi kebal.

Salah satu kisah yang banyak dibagikan menggambarkan seseorang yang berkunjung ke properti senilai ¥66 juta sambil memperingatkan temannya bahwa nilainya bisa turun sampai ¥30 juta dalam tiga tahun ke depan. Berdasarkan postingan tersebut, harga di wilayah itu sudah turun hampir 50%. Mereka juga memperkirakan penurunan akan terus terjadi jika krisis keuangan yang lebih besar melanda.

“Rumah itu sendiri tidak punya nilai intrinsik; membeli rumah harus dilihat dari sudut pandang investasi,” tulis seorang pengguna mengutip komentar dari pendiri TRON Justin Sun. Jika rumah dimasukkan ke dalam kumpulan aset bersama instrumen global yang likuid, seperti Bitcoin, saham Nvidia, dan BNB, kesimpulannya, ujar pengguna tersebut, menjadi “cukup jelas.”

Investor lain juga menunjukkan keresahan serupa. Salah satu pengguna mengaku mengambil kredit rumah senilai ¥60 juta di Shenzhen dan berkata dirinya ragu “harus senang atau malah gelisah.”

“Memang benar, ambil KPR 60 juta, Shenzhen CITIC City Opening Xinyue Bay. Perasaan saya pun tidak tahu harus senang atau justru gelisah,” ucap pengguna tersebut.

Sponsored
Sponsored

Pengguna lain bahkan bercanda soal menjadi “budak rumah.” Ia menyebut hanya orang yang membayar tunai secara penuh yang bebas dari beban psikologis utang. Beberapa orang lainnya justru menyarankan agar lebih hati-hati, menunjukkan tingginya suku bunga KPR, suplai rumah yang makin naik, serta risiko menaruh modal besar di satu aset yang susah dijual dengan cepat.

Selain penurunan harga, perdebatan ini juga mencerminkan kekhawatiran lebih dalam terkait likuiditas dan kerentanan politik. Para investor menganggap properti mewah sekarang makin sulit dijual cepat dan semakin mudah terlacak oleh regulator.

Membeli rumah senilai ¥100 juta atau lebih bisa mengundang pemeriksaan pajak dan investigasi. Ini membuat risikonya berlipat saat kebijakan makin ketat. Sementara itu, aset kripto dan saham global dianggap lebih mudah untuk lindung nilai, diperdagangkan, serta dialihkan lintas negara.

Sponsored
Sponsored

Premi Properti Hong Kong tentang Kebebasan, Bukan Soal Keuntungan

Perbandingan ini juga memberi sudut pandang baru kenapa harga properti di Hong Kong tetap mahal. Dalam satu postingan, daya tariknya justru bukan di potensi untung, melainkan lebih ke “menukar uang dengan kebebasan.”

Properti di Eropa, yang bisa memberikan akses tinggal atau bahkan paspor dengan modal lebih kecil, juga dijadikan contoh betapa rumah kini lebih dipilih untuk mobilitas, bukan lagi prestise. Sementara itu, properti mewah di daratan Cina digambarkan tidak memberikan imbal hasil tinggi maupun pilihan fleksibel.

Beberapa investor menyamakan pasar properti saat ini dengan pasar saham A-share di Cina. Mereka berpendapat, aset domestik cenderung anjlok saat ada tekanan geopolitik tapi tidak ikut reli saat pasar global naik signifikan.

Properti, terutama di Shenzhen Bay, sepertinya memperlihatkan asimetri ini. Aset tersebut rawan jatuh waktu krisis, tapi stagnan saat momen pasar sedang bagus.

Sponsored
Sponsored

Dampaknya melampaui sektor properti. Aset kripto sekarang tidak lagi dipandang hanya sebagai instrumen spekulatif, melainkan alat strategis untuk melindungi kekayaan dan meningkatkan fleksibilitas.

Generasi muda, yang sebagian besar sudah tidak mampu beli rumah mewah, akhirnya memilih untuk tidak masuk sama sekali. Mereka lebih menyukai aset digital dan saham internasional, yang menawarkan profil risiko jelas dan akses mudah.

Penyesuaian ulang nilai properti mewah terhadap harga Bitcoin dan saham global menunjukkan perubahan besar dalam manajemen kekayaan di Cina. Saat mobilitas modal makin penting dan pengawasan politik makin ketat, aset global yang likuid semakin menggantikan properti sebagai sarana andalan untuk menjaga nilai aset.

Bagaimana reaksi regulator nantinya dan apakah harga properti bisa stabil, kemungkinan besar akan menentukan arah pasar domestik Cina, serta bisa saja memengaruhi tahap berikutnya dalam adopsi aset kripto di negara tersebut.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori