Dapat Pendanaan Rp1 Triliun, Lightning Labs Ingin Tingkatkan Fungsionalitas Bitcoin

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Perusahaan start-up Lightning Labs mengantongi pendanaan sebesar US$70 juta atau setara Rp1 triliun.

  • Investor yang memimpin putaran pendanaan Lightning Labs kali ini adalah SpaceX dan Tesla.

  • Lightning Labs akan mengalokasikan suntikan dana segar ini untuk mengembangkan fungsionalitas Bitcoin.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

Lightning Labs, startup yang mengembangkan infrastruktur untuk memungkinkan mengirim uang ke seluruh dunia dengan cepat dan biaya rendah melalui blockchain Bitcoin, mengumpulkan pendanaan senilai US$70 juta (Rp1 triliun) yang dipimpin oleh pendukung awal Tesla dan SpaceX.

Dana segar ini bertujuan untuk membantu cryptocurrency pertama dan terbesar di dunia menjadi jaringan yang mampu menangani transaksi berukuran triliunan dolar Amerika Serikat (AS) setiap tahun dan menjadikannya pesaing bagi perusahaan seperti Visa.

Startup yang dipimpin Elizabeth Stark ini melihat bahwa Bitcoin memiliki volume perdagangan setiap hari lebih dari US$30 miliar. Namun, jaringan publik ini hanya mampu menangani beberapa transaksi per detik saja dibandingkan dengan 65.000 transaksi yang dapat ditangani oleh Visa dalam periode yang sama.

Sejak 2016, Lightning Labs telah bekerja keras dengan berbagai pihak untuk memperbaiki masalah ini termasuk pengembangan Lightning Network (LN) yang merupakan solusi layer-2 yang berada di atas blockchain Bitcoin.

Lightning Network dinilai dapat memecahkan kendala skalabilitas yang ada dan memungkinkan transaksi tingkat global dalam volume yang tinggi—hampir seketika, serta biaya yang rendah dengan mengandalkan keamanan blockchain Bitcoin.

Mengembangkan Protokol Taro

Protokol Taro yang dikembangakan Lightning Labs | website Lightning Labs

Dengan kucuran dalam pendanaan terbaru ini, Lightning Labs yang berbasis di California, AS, berencana mengembangkan Taro, sebuah protokol terbaru dari beberapa produk Lightning Labs yang diharapkan akan membawa aset kripto termasuk stablecoin dan mata uang fiat ke blockchain Bitcoin.

Taro bertujuan untuk memperluas jangkauan Lightning Network ke lebih banyak pengguna. Selama ini, layer-2 Lightning Network baru dikenal dalam hal membuat Bitcoin lebih mudah dibelanjakan dan diterima. Sementara Lightning Labs ingin memperluas adopsi penggunaan teknologi ini ke multi-aset stablecoin lainnya.

Elizabeth Stark yang merupakan co-founder dan CEO Lightning Labs mengatakan teknologi Taro dapat mengarahkan semua mata uang dunia melalui Bitcoin. “Orang-orang akan dapat dengan mulus beralih di antara Bitcoin dan stablecoin.”

Ilustrasi implementasi protokol Taro | website Lightning Labs

Taro meningkatkan fungsionalitas Bitcoin untuk dapat mengirim mata uang fiat seperti dolar AS dengan cepat ke seluruh dunia. Fungsinya hanya sebagai infrastruktur untuk memungkinkan pergerakan aset baik itu stablecoin atau aset lainnya melalui Lightning Network. 

Elizabeth Stark mengatakan bahwa protokol Taro merupakan hal signifikan karena mencoba menangkap potensi semua mata uang di dunia agar dapat disalurkan melalui Bitcoin lewat Lightning Network.

Teknologi ini diyakini dapat dan akan menggerakkan berbagai peluang di pasar negara berkembang. Alih-alih melalui rekening bank, orang-orang hanya perlu akses ke smartphone untuk memanfaatkan jaringan moneter asli internet ini. Dengan begitu, Taro dapat memungkinkan para pengguna melompati sistem keuangan tradisional yang terpusat.

“Jika saya adalah Visa, saya akan takut karena ada banyak orang di luar sana yang memiliki smartphone,” kata Elizabeth Stark.

Sejauh ini, LND telah digunakan oleh berbagai crypto wallet dan startup (Lightning apps atau Lapps) untuk berbagai hal.

Kabarnya, lebih dari 300 perusahaan dan startup sedang mengerjakan berbagai hal dalam software open-source yang dikembangkan oleh Lightning Labs.

Hal ini konon termasuk berpotensi dapat menawarkan dukungan untuk berbagai jenis aset termasuk non-fungible token (NFT). Namun, Lightning Labs kabarnya tidak secara aktif mengerjakan hal ini.

Bertepatan dengan Ulang Tahun Satoshi Nakamoto

Pengumuman perilisan protokol Taro dan pendanaan Seri B Lightning Labs pada 5 April 2022 bertepatan dengan ulang tahun Satoshi Nakamoto (nama samaran penulis whitepaper Bitcoin) yang dijelaskan lahir pada 5 April 1975.

Rincian makna di balik ‘5 April 1975’ adalah seperti ini. Tanggal 5 April menyimbolkan ketika Presiden AS Franklin D. Roosevelt menandatangani perintah eksekutif 6102 yang membuat orang AS ilegal untuk memiliki emas. Kemudian tahun 1975 merujuk pada momen ketika orang AS bisa memiliki emas kembali secara legal.

Pendanaan Terbaru Dipimpin Pendukung Tahap Awal Tesla & SpaceX

Untuk mewujudkan visi mereka dan memastikan pertumbuhan Lightning Labs lebih lanjut, startup Bitcoin payments ini menggalang putaran pendanaan Seri B yang dipimpin oleh Valor Equity Partners dengan partisipasi manajer aset global Baillie Gifford.

Valor Equity Partners merupakan pendukung awal Tesla dan SpaceX. Elon Musk yang merupakan orang terkaya di dunia versi Forbes dan Bloomberg adalah CEO Tesla dan founder SpaceX.

Sementara Baillie Gifford, yang telah berdiri sejak tahun 1908, dikabarkan turut terlibat dalam pendanaan terbaru bagi Blockchain.com yang menilai valuasi perusahaan itu menjadi sekitar US$14 miliar.

Elizabeth Stark mengatakan bahwa Baillie Gifford adalah investor yang berorientasi jangka panjang. “Jadi mereka benar-benar cocok untuk apa yang kami coba capai.”

Adapun jajaran investor dalam putaran pendanaan terbaru Lightning Labs di antaranya termasuk Brevan Howard Asset Management, Goldcrest Capital, Kingsway, Moore Strategic Ventures, Vlad Tenev (CEO Robinhood), NYDIG, dan Alan Lane (CEO Silvergate).

Didukung Co-Founder Twitter Jack Dorsey

Sebelumnya, ide mempermudah para pengguna untuk mengirim Bitcoin tanpa proses yang mahal dan memakan waktu dalam menyelesaikan transaksi telah mengumpulkan pendanaan dalam putaran Seed Round dan Seri A.

Pendanaan senilai US$2,5 juta dalam Seed Round pada Maret 2018 diikuti sejumlah investor termasuk Jack Dorsey (co-founder Twitter & CEO Block Inc.), Charlie Lee (kreator Litecoin), Kevin Hartz (co-founder Eventbrite), dan Vlad Tenev (co-founder & CEO Robinhood), bersama dengan The Hive, Digital Currency Group, dan lainnya.

Elizabeth Stark waktu itu mengatakan bahwa ada ribuan relawan yang membantu menemukan gangguan dalam versi awal Lightning Network yang open-source. Impiannya adalah pengguna akan benar-benar mulai menggunakan Bitcoin sebagai mata uang alih-alih komoditas berkat Lightning protocol.

Pada April 2018, dia sempat menegaskan bahwa narasi industri cryptocurrency kembali ke Bitcoin, bukan blockchain.

Kemudian pada Februari 2020, Lightning Labs mengantongi US$10 juta dalam putaran pendanaan Seri A yang dipimpin Craft Ventures.

Para investor yang berpartisipasi di antaranya termasuk David Heller (mantan co-head of securities di Goldman Sachs) hingga Ribbit Capital yang diketahui memiliki portofolio investasi dari Robinhood sampai di Indonesia lewat Ajaib dan Bank Jago.

Jack Dorsey waktu itu mengatakan bahwa internet membutuhkan mata uang asli. “Dengan Bitcoin dan Lightning, kita beroperasi di persimpangan antara teknologi dan keuangan untuk membangun infrastruktur finansial jenis baru.”

Sekilas tentang Lightning Network

Elizabeth Stark mengatakan bahwa Lightning Network ibarat Visa untuk Bitcoin. Namun, tidak ada satu perusahaan pun yang mengatur payments protocol ini.

Lightning Labs mengembangkan software open-source Lightning Network Daemon (LND). Ini merupakan implementasi lengkap dari node Lightning Network yang dapat diskalakan. 

Secara singkat, Lightning Network awalnya dijelaskan dalam whitepaper yang ditulis oleh Joseph Poon dan Tadge Dryja pada Februari 2015. Testnet-nya kemudian dirilis pada Mei 2016.

Lalu implementasi pertama Lightning Network yaitu LND dirilis pada Januari 2017. Transaksi nyata pertama di dunia melalui Lightning Network lantas terjadi pada Desember 2017.

Ada beberapa pihak yang telah merilis Lightning node di mainnet, termasuk di antaranya LND yang dikembangkan Lightning Labs, c-lightning dari Blockstream, dan Eclair dari Acinq.

Dengan hitungan dapat menangani 500 TPS (transaksi per detik) pada tiap-tiap saluran pembayaran, Blockstream memperikrakan Lightning Network dapat menangani 40 juta TPS atau lebih dari 1.000 kali kapasitas Visa.

Padahal sebelumnya, Bitcoin diperkirakan hanya memiliki kapasitas pemrosesan transaksi per detik rata-rata antara 3,3 TPS hingga 7 TPS.

Adapun Lightning Network telah digunakan oleh negara El Salvador, perusahaan Bitcoin & payments app bernama Strike, fitur tips di Twitter, CashApp yang dimiliki Block Inc., hingga crypto exchange Kraken.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.

Ikuti Penulis