Persaingan untuk menjadi penguasa di dunia perpetual futures on-chain sudah sangat padat, namun hanya sedikit pendatang baru yang langsung hadir dengan audiens yang sudah ada.
PerpTools, sebuah platform perpetual futures yang baru diluncurkan dan dibangun oleh tim di balik DEXTools, telah berhasil mengumpulkan pendanaan awal sebesar US$3 juta yang dipimpin oleh DEXForce dan Orderly. Yang lebih penting, platform ini masuk pasar dengan sesuatu yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun oleh pesaingnya – yakni akses langsung ke basis pengguna DEXTools yang sudah terdiri dari lebih dari 30 juta trader.
Alih-alih meminta pengguna untuk pindah dari satu platform ke platform lain, PerpTools diintegrasikan langsung ke dalam lingkungan DEXTools. Bagi trader yang sudah pakai DEXTools untuk menemukan token, analitik, dan eksekusi, langkah masuk ke perpetuals ini dibuat agar terasa alami.
Pentingnya Integrasi DEXTools
Waktunya juga cukup menarik. Perpetual futures masih menjadi salah satu sudut trading aset kripto yang paling aktif dan kompetitif, dengan platform seperti Hyperliquid mencuri perhatian dengan menggabungkan kecepatan, likuiditas, dan pengalaman pengguna yang lebih mulus dibanding exchange terdesentralisasi lama.
PerpTools jelas ikut berlomba di trek yang sama, namun mereka memulai balapannya dari posisi yang berbeda.
Bukannya hadir sebagai protokol mandiri yang berusaha menarik atensi dari nol, tim memasarkan PerpTools sebagai lapisan infrastruktur dan perkakas yang langsung terhubung ke ekosistem trading yang jauh lebih besar.
Distribusi seringkali menjadi masalah tersulit di DeFi. Banyak produk punya teknologi yang bagus tapi tetap saja kesulitan mendapatkan pengguna yang konsisten dan cukup banyak. PerpTools melewati masalah tersebut dengan langsung hadir di dalam platform yang sudah dikenal oleh para trader.
Terlihat Awal yang Menunjukkan Permintaan Nyata
Menurut timnya, PerpTools sudah berhasil mencatat volume trading hampir US$150 juta selama masa private beta. Performa internal mereka pantau melalui dashboard khusus dan tumpukan alat analitik yang melacak koneksi wallet, aktivitas trader, trading yang dieksekusi, pemakaian API, serta strategi yang dijalankan.
Angka-angka private beta ini memang tidak menjamin pengguna akan bertahan jangka panjang, namun setidaknya mengindikasikan ada permintaan nyata terhadap akses perps terintegrasi di lingkungan DEXTools. Untuk sebuah produk trading baru, hal ini menunjukkan minat lebih dari sekadar rasa penasaran, dan memberikan sinyal bahwa pengguna siap mencoba platform di kondisi sungguhan sebelum peluncuran mainnet publik yang dijadwalkan pada akhir kuartal kedua 2026.
DEXTools Ingin Jadi Lebih dari Sekedar Platform Analitik
Bagi DEXTools, peluncuran ini menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk berkembang dari sekadar platform analitik menjadi stack trading on-chain yang lebih lengkap.
Javier Palomino Fernández, CEO sekaligus co-founder DEXTools, dalam siaran pers menjelaskan bahwa perusahaannya awalnya membangun platform demi memberikan trader visibilitas lebih dalam terhadap aktivitas on-chain serta melihat PerpTools sebagai perpanjangan alami dari misi tersebut ke dalam pasar futures.
Jika pengguna sudah mengandalkan DEXTools untuk membaca pasar, maka ada alasan kuat untuk juga memberdayakan mereka agar bisa trading di tempat yang sama. Hal ini akan membawa DEXTools makin jauh dari sekadar interface pendamping, dan makin mendekati peran sebagai pusat utama bagaimana trader menemukan, menganalisis, dan mengeksekusi peluang pasar.
Infrastruktur, Likuiditas, dan Keunggulan Orderly
Evgen Tokarev, CEO PerpTools, menggambarkan produk ini sebagai jawaban atas masalah umum di trading aset kripto, seperti alat yang terpisah-pisah, biaya yang tidak transparan, dan analitik yang kurang dapat diandalkan. Solusinya, platform ini menggabungkan eksekusi, analitik, otomatisasi, dan likuiditas dalam satu tempat sehingga trader tidak perlu repot menggabungkan semua fungsi tersebut sendiri-sendiri.
Mitra infrastrukturnya juga sangat berpengaruh di sini. PerpTools dibangun di atas layer likuiditas milik Orderly, sehingga bisa mendapatkan akses ke order book yang dalam serta penyelesaian yang cepat tanpa perlu membangun seluruh struktur pasar dari awal.
Ran Yi, CEO dan co-founder Orderly Network, menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan membawa penyelesaian transaksi dalam waktu sub-detik dan kondisi likuiditas yang lebih kuat ke trading perpetuals terdesentralisasi, sambil tetap menjaga transparansi on-chain. Dalam kategori perps yang begitu kompetitif, hal ini bisa menjadi penentu utama. Kualitas interface memang penting, tapi kualitas eksekusi jauh lebih penting.
Langkah Selanjutnya untuk PerpTools
Roadmap mereka tidak berhenti di sekadar perdagangan futures standar. Timnya menuturkan peluncuran publik nanti juga akan disertai program airdrop besar bagi pengguna awal dan penyedia likuiditas. Fitur-fitur berikutnya direncanakan mencakup copy trading, otomatisasi berbasis aturan, dan integrasi pasar prediksi, bersamaan dengan peluncuran token PERP.
Pada akhirnya, PerpTools menjadi upaya DEXTools untuk tampil sebagai platform trading yang makin lengkap di saat batas antara analitik, eksekusi, dan otomasi kian menipis. Apakah PerpTools mampu menyaingi platform seperti Hyperliquid akan sangat bergantung pada kualitas likuiditas, retensi trader, serta seberapa efektif mereka mengubah audiens besar DEXTools menjadi pengguna aktif perps.
Tetapi di pasar di mana banyak exchange baru harus berjuang keras meraih perhatian, PerpTools justru sudah memulainya dari posisi yang sangat berbeda.