Timur Tengah dan Afrika Utara kini sedang berkembang diam-diam menjadi laboratorium paling berpengaruh di dunia untuk tokenisasi emas, properti, dan saham. Selain itu, para regulator di kawasan ini secara sengaja tengah mempersiapkan landasan untuk hal tersebut.
Pada tahun 2026, MENA akan ikut merumuskan kerangka kerja tokenisasi bersama para pelaku industri, sehingga cadangan emas, properti mewah, dan akses pasar saham akan berpindah ke on-chain.
Keunggulan Regulasi MENA: Membangun Dengan Industri, Bukan Melawannya
Dalam ruang X yang diselenggarakan oleh BeInCrypto, para eksekutif dari MEXC, OKX Ventures, ChangeNOW, dan Zoomex sepakat pada satu hal: filosofi regulasi di MENA adalah hal yang membedakannya dari seluruh pusat keuangan besar lainnya di dunia.
Vugar Usi Zade, COO MEXC sekaligus penduduk Dubai selama 14 tahun, menjelaskan perbandingan ini secara gamblang. Regulator Eropa baru bertindak setelah munculnya skandal Cambridge Analytica sebelum mereka merancang GDPR. Mereka juga menunggu bertahun-tahun sebelum mengeluarkan MiCA. Sebaliknya, regulator Timur Tengah sejak awal melibatkan para pemimpin industri dalam proses konsultasi.
Hasil dari pendekatan ini sudah bisa langsung terlihat. Uni Emirat Arab memperbolehkan perusahaan membayar gaji dengan aset kripto secara legal. Dubai Multi Commodities Centre (DMCC) sedang membangun infrastruktur emas dan perak yang ditokenisasi untuk skala institusi. Selain itu, Departemen Pertanahan Dubai secara terbuka menargetkan akan men-tokenisasi 30% dari seluruh pasar properti di emirat ini dalam satu dekade ke depan.
“Di Timur Tengah, mereka tidak hanya membangun kerangka kerja untuk bisnis saja. Saat ini, di UEA, Anda sudah bisa membayar gaji dengan aset kripto. Ini diterima secara legal untuk membayar talenta. Bersamaan dengan itu, Departemen Pertanahan Dubai juga sedang meluncurkan properti fraksional, dan mereka memperkirakan dalam satu dekade ke depan, sekitar 30% dari seluruh pasar properti mereka akan ditokenisasi,” ujar Vugar Usi Zade kepada BeInCrypto.
Ambisi global inilah yang jadi pembeda utama. Dubai tidak sekadar men-tokenisasi properti hanya untuk pembeli lokal, tapi mereka sedang membangun infrastruktur agar bisa menarik dana internasional. Tokenisasi inilah yang memungkinkan kepemilikan properti secara fraksional dan lintas batas.
Bagi investor ritel, upaya tokenisasi di MENA kini menawarkan manfaat yang nyata. Usi Zade menjelaskan bahwa 40 juta pengguna MEXC — yang mayoritas asli pengguna kripto — kini mulai beralih ke emas, perak, dan saham AS yang ditokenisasi, bukan karena penasaran dengan dunia TradFi, melainkan untuk mengurangi risiko dari volatilitas pasar kripto.
Dulu, untuk mengakses kelas aset tersebut, investor butuh infrastruktur yang terpisah: akun broker untuk saham, relasi bank untuk eksposur emas, serta agen properti dan tim hukum untuk real estate. Dengan tokenisasi, semua bisa diakses melalui satu platform saja.
Ray Xiao, Direktur Investasi OKX Ventures, menyoroti kemitraan exchange ini dengan Ondo Finance sebagai contoh nyata implementasinya. Berkat kerjasama tersebut, ada lebih dari 100 saham dan ETF AS yang sudah on-chain, sehingga pengguna ritel bisa membeli saham fraksional Apple maupun Tesla pada pukul 10 malam di hari Minggu, di luar jam bursa, tanpa perlu akun broker.
Bagi pelaku institusi, Xiao menerangkan bahwa alasan mereka lebih bersifat operasional. Jika KKR atau Apollo melakukan tokenisasi dana ekuitas swasta, smart contract akan otomatis mengelola cap table, membagikan dividen, dan menangani kepatuhan KYC. Keuntungan efisiensi ini saja sudah cukup jadi alasan, tanpa perlu meyakini blockchain secara ideologis.
“Nilai utama dari tokenisasi terletak pada fraksionalisasi, pemrograman, dan likuiditas global 24/7,” terang Xiao kepada BeInCrypto.
OKX Ventures juga aktif menjalin kemitraan dengan platform seperti Centrifuge dan Securitize, yang menghadirkan struktur kredit swasta dan ekuitas swasta yang ditokenisasi untuk audiens yang sudah terbiasa dengan aset kripto, sehingga pilihan aset kini semakin luas — tak hanya emas dan saham publik.
Self-Custody: Fitur Unggulan yang Tidak Bisa Ditiru oleh Keuangan Tradisional
Pauline Shangett, Chief Strategy Officer ChangeNOW, mengidentifikasi keunggulan aset dunia nyata yang ditokenisasi yang tak bisa ditandingi oleh broker atau bank mana pun: self-custody (penyimpanan mandiri).
Shangett mengaku awalnya cukup skeptis dengan aset dunia nyata yang ditokenisasi (RWA), dan menganggap antusiasme sebelumnya hanya bersifat oportunistik jangka pendek. Tapi pasar bearish saat ini justru membuktikan hipotesis tersebut. Ketika altcoin anjlok dan treasury aset digital menjual aset yang dibeli saat harga tertinggi, investor Web3 kini beralih ke komoditas dan saham yang ditokenisasi sebagai penyimpan nilai yang sejati, dan platform non-kustodian memungkinkan mereka menyimpan aset itu langsung di wallet sendiri tanpa risiko pihak ketiga.
“Anda tidak perlu lagi mempercayakan aset pada broker ataupun bank,” tutur Shangett. “Cukup simpan saja di wallet dan portofolio Anda sendiri.”
Hal ini sangat penting terutama di pasar-pasar yang akses ke broker Barat sangat terbatas atau penuh kerumitan hukum. Tokenisasi tidak hanya membuat akses ke emas dan saham jadi lebih murah — di beberapa wilayah MENA dan sekitarnya, tokenisasi membuatnya bisa diakses siapa saja.
Fernando Lillo Aranda, Direktur Marketing Zoomex, menyoroti tantangan yang masih harus dihadapi industri: meyakinkan para trader Web2 tradisional agar percaya dan nyaman menitipkan aset dunia nyata yang ditokenisasi di exchange terpusat. Menurutnya, membangun rasa percaya itulah tantangan komunikasi dan produk yang akan menentukan platform mana yang bisa memenangkan gelombang pengguna berikutnya.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya
Ada tiga perkembangan utama yang bakal menentukan seberapa cepat ambisi tokenisasi di MENA terwujud. Pertama, seberapa cepat program properti fraksional Departemen Pertanahan Dubai bisa berjalan — target 30% ini baru menjadi komitmen kebijakan, belum jadi kenyataan di pasar.
Kedua, apakah infrastruktur tokenisasi emas milik DMCC berhasil menghadirkan likuiditas yang cukup dalam sehingga bisa menarik dana institusi.
Ketiga, secepat apa kemitraan exchange seperti OKX-Ondo Finance bisa berkembang hingga mencakup kelas aset yang lebih luas, termasuk komoditas, pendapatan tetap, dan kredit swasta.
Seperti yang pernah terang CEO BlackRock, Larry Fink, pada akhirnya semua akan ditokenisasi. Di MENA, sekarang pertanyaannya bukan lagi “apakah akan”, melainkan “seberapa cepat” dan “siapa yang membangun infrastruktur yang kelak dipakai oleh dunia.”