Divergensi antara emas dan perak semakin melebar tajam bulan ini. Perak (XAG/USD) naik 15,47% dibandingkan kenaikan emas (XAU/USD) sebesar 6%, sedangkan harga minyak Brent turun di bawah US$99 akibat pembicaraan de-eskalasi yang terus berlangsung.
Gap ini bukan terjadi secara acak. Indikator eksklusif, arus opsi, dan struktur grafik semuanya mengarah ke arah yang sama, meskipun ada satu kekuatan struktural yang masih mempertahankan sisi bawah emas.
Tiga Kekuatan Memisahkan Emas dari Perak
Rasio emas-perak telah membentuk pola cup and handle terbalik sejak akhir Maret. Rasio ini sekarang menekan garis tren bawah pada handle-nya. Jika breakdown terjadi dengan jelas, keunggulan perak akan semakin besar, sementara jika pola tersebut kembali menembus batas atas, maka pengaturan yang condong ke perak menjadi netral.
Level handle terendah ada di sekitar 58, dan jika turun di bawah level tersebut maka akan terjadi penurunan tambahan sebesar 16%, yang berarti perak semakin unggul. Namun, jika berhasil kembali ke 68, maka keunggulannya kembali pada emas.
Solar Lag Model perak, yang melacak performa perak terhadap arus industri yang digerakkan permintaan solar dengan jeda 10 hari, telah menembus di atas nol untuk pertama kalinya sejak akhir 2025. Perpotongan tanggal 28 November sebelumnya menjadi titik awal reli perak selama beberapa minggu.
Real Yields Lag Model emas, indikator eksklusif BeInCrypto untuk mengukur pergerakan harga emas terhadap yield riil 10 tahun, justru bergerak berlawanan. Indikator ini mencapai puncak di 2,685 awal bulan, dan sekarang menunjukkan 0,308. Slope-nya mirip dengan penurunan pada Februari yang turun di bawah nol dan sempat menyentuh dasar di -3,497 saat emas mengalami koreksi.
Masih ada satu kekuatan struktural yang tetap mempertahankan nilai emas. Bank sentral sekarang menyimpan sekitar 38.666 ton emas, yang setara dengan 17% dari seluruh emas yang pernah ditambang, menurut data yang dikutip oleh The Kobeissi Letter. Bahkan jika emas kalah balapan terhadap perak, sisi bawah emas masih terlindungi oleh basis pembeli yang tidak mudah terpengaruh oleh rotasi ekonomi makro jangka pendek.
Jika dilihat secara keseluruhan, rasionya sedang mengerucut ke arah perak, industrial lag model perak sedang naik, dan premi moneter emas mulai memudar, tetapi permintaan bank sentral menjaga dasar harga emas tetap kokoh, bukan mendorongnya lebih tinggi. Skor sementara: tiga kekuatan untuk perak, satu kekuatan bertahan untuk emas.
Data posisi menunjukkan apakah trader opsi melihat divergensi ini dengan cara yang sama atau tidak.
Trader Opsi Memilih Posisi Long di Satu Aset, Tetap Seimbang di Aset Lain
Aktivitas opsi di iShares Silver Trust (SLV ETF), yaitu dana berbasis perak terbesar dan menjadi proxy utama trader untuk membuka posisi di perak tanpa futures, telah berubah sangat bullish sejak akhir Maret.
Rasio volume put-call, di mana nilai di bawah satu berarti panggilan lebih banyak daripada put, turun dari 0,77 pada 26 Maret ke 0,49 pada 21 April. Rasio open interest turun dari 0,60 ke 0,56 pada periode yang sama. Aktivitas call mendominasi aktivitas put, baik secara intraday maupun secara struktural.
Volatilitas tersirat SLV berada di 54,26% dengan IV Percentile sebesar 69%, artinya opsi memperkirakan pergerakan yang lebih tinggi dari rentang tahun lalu. Trader cenderung mengambil posisi long dan rela membayar mahal untuk rentang ini.
Ingin mendapatkan insight seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Posisi pada SPDR Gold Shares (GLD ETF), produk eksposur emas yang setara dengan dukungan fisik, terlihat berbeda. Rasio volume turun dari 1,35 pada 26 Maret menjadi 0,87, menandakan perubahan dari bearish ke agak bullish. Namun, rasio open interest hampir tidak bergerak dari 0,53 menjadi 0,54. Trader sudah berhenti memborong proteksi downside emas, tapi juga belum beralih ke akumulasi call secara agresif.
Dengan indikator dan posisi yang menunjukkan arah yang sama, grafik menjadi penentu selanjutnya.
Keputusan Emas vs Perak Bertumpu pada Dua Pola Invers
Harga perak (XAG/USD) pada grafik harian sedang membentuk pola inverse head and shoulders, yaitu pola pembalikan naik yang terdiri dari tiga titik terendah dengan bagian tengah sebagai yang terdalam. Kepala pola ini berada di dekat US$60, dan garis neckline berada di sekitar US$80. Volume beli pada bahu kanan sedikit lebih besar dari volume jual yang setara, sehingga ada konfirmasi kekuatan yang halus.
Jika harga menembus bersih zona US$80 hingga US$83, target kenaikan sebesar 43% akan aktif menuju sekitar US$115, mendekati level tertinggi sepanjang masa di US$121. Target kenaikan optimistis selanjutnya ada di US$133. Jika harga turun di bawah US$75, struktur pola melemah, turun ke bawah US$69 berisiko invalidasi, dan menembus US$60 akan mengakhiri skenario bullish.
Harga emas juga sedang membentuk pola yang sama, tapi dengan konfirmasi yang lebih lemah. Volume jual di bahu kanan lebih tinggi dari volume beli yang setara, kebalikan dari pola pada perak, sehingga menandakan kekuatan yang lebih lemah. Garis neckline berada di sekitar US$4.848, dan jika harga berhasil menembus level tersebut akan membuka potensi kenaikan 24% hingga US$5.934 dari neckline. Potensi kenaikan ini sekitar setengah dari target kenaikan perak.
Rasio emas-perak dari data sebelumnya juga memberi konteks penting, karena pola ini untuk saat ini lebih menguntungkan perak.
Dalam persaingan emas vs perak, perak kini membawa konfirmasi volume, arah opsi yang lebih jelas, serta potensi kenaikan yang lebih besar. Meski begitu, harga emas tetap punya fondasi kuat karena permintaan dari bank sentral. Jika perak berhasil melewati US$80, target ke US$115 terbuka lebar dan memperlebar keunggulan. Tapi jika gagal menembus dan turun ke bawah US$75, momentum bisa kembali berpihak pada emas.





