Uni Emirat Arab telah membangun salah satu kerangka regulasi paling jelas untuk exchange aset kripto. Otoritas Regulasi Aset Virtual (VARA) Dubai yang menerbitkan lisensi, sedangkan Otoritas Regulasi Jasa Keuangan Abu Dhabi mengawasi platform yang beroperasi di Abu Dhabi Global Market. Kejelasan ini menarik perhatian platform internasional yang mencari otorisasi resmi, daripada beroperasi di zona abu-abu regulasi.
Pada pekan lalu, tanggal 12 Februari 2026, platform trading fokus perpetuals, Flipster, bergabung dalam daftar yang terus bertambah dengan mengamankan persetujuan prinsip dari VARA melalui entitas lokalnya, Flipster FZE. Ini menjadi lampu hijau besar pertama secara regulasi untuk exchange ini di UEA, sehingga membuka jalan bagi dimulainya trading spot yang teregulasi, lalu kemungkinan produk lain akan menyusul setelah lisensi penuh terbit.
BeInCrypto berbincang dengan Benjamin Grolimund, General Manager di Flipster FZE, untuk mendalami keputusan ini: mengapa UEA menjadi pasar pertama Flipster yang teregulasi, upaya internal yang dilakukan untuk memperkuat standar kepatuhan, serta bagaimana hal ini mencerminkan arah kompetisi exchange di tahun 2026.
Membangun di Dalam Kerangka yang Sudah Ditetapkan
Mengantongi persetujuan prinsip menandakan komitmen Flipster untuk membangun kehadiran jangka panjang di UEA, menurut Grolimund. Memang, kejelasan regulasi di UEA menjadi faktor utama dalam keputusan mereka.
Grolimund melihat bahwa daripada bersikap reaktif terhadap aset kripto, Dubai membentuk otoritas pengawas khusus dengan ekspektasi yang jelas bagi para pelaku. Ia menuturkan kepada BeInCrypto:
“UEA menggabungkan kejelasan regulasi dengan ambisi ekonomi. Kejelasan ini sangat penting. Kepastian regulasi adalah keunggulan kompetitif, terutama bagi exchange yang ingin ekspansi jangka panjang.”
Faktor geografis juga ikut berperan. UEA menghubungkan pusat keuangan utama Asia dan Eropa, sehingga exchange mendapat basis teregulasi untuk melayani banyak pasar sekaligus. Bagi platform yang ingin ekspansi lintas wilayah, posisi ini menawarkan keunggulan operasional.
Grolimund menambahkan:
“Ada juga orientasi jangka panjang dalam pembangunan infrastruktur digital di Timur Tengah. Aset digital menjadi bagian dari upaya diversifikasi ekonomi yang lebih luas, bukan dianggap tren sesaat. Lingkungan seperti ini mendukung pertumbuhan berkelanjutan, bukan sekadar ekspansi akibat volatilitas.”
Institusionalisasi Kesiapan
Melangkah dari persetujuan prinsip menuju otorisasi penuh membutuhkan disiplin operasional melebihi sekadar pengembangan produk.
Mempersiapkan aktivitas diawasi di UEA berarti harus meresmikan struktur tata kelola, menyempurnakan metodologi penilaian risiko, serta memperjelas jalur pelaporan yang selaras dengan ekspektasi VARA. Sistem pemantauan ditingkatkan, kontrol onboarding diperkuat, dan tanggung jawab dipetakan di seluruh tim produk, engineering, hukum, dan kepatuhan.
“Pertumbuhan di bawah pengawasan membutuhkan kejelasan tanggung jawab,” ujar Grolimund.
Menurutnya, beroperasi di UEA berarti mengintegrasikan kepatuhan regulasi ke dalam proses inti, bukan hanya sekadar lapisan eksternal. Struktur akuntabilitas diperjelas, kontrol risiko diperkuat, dan kerangka pelaporan diselaraskan sejak awal prosesnya.
Flipster juga membangun kehadiran fisik di Dubai, memindahkan talenta dari kantor global dan merekrut secara lokal. Ia menegaskan, lisensi tidak dianggap sekadar struktur formalitas semata.
“Ada perusahaan yang menganggap lisensi hanya pencapaian ekspansi semata. Kami justru memandangnya sebagai titik awal membangun sesuatu yang kokoh.”
Performa di Bawah Pengawasan
Persetujuan prinsip memungkinkan Flipster FZE melangkah ke trading spot sebagai aktivitas berlisensi awal di UEA. Ketika lisensi regulasi jadi standar di exchange global, perbedaannya kini makin terletak pada bagaimana platform beroperasi saat pengawasan berjalan.
Flipster membangun infrastrukturnya untuk para trader aktif, memprioritaskan likuiditas dalam dan eksekusi efisien di pasar perpetual futures. Grolimund menegaskan, masuk ke yurisdiksi teregulasi tidak mengubah fondasi ini, namun meningkatkan standar di sekitarnya.
“Masuk ke pasar teregulasi tidak mengubah fokus kami pada performa,” papar dia. “Justru hal ini menantang kami menjaga kecepatan dan ketajaman produk sembari tetap menjalankan tata kelola yang lebih kuat.”
Daripada memandang kepatuhan sebagai sesuatu yang terpisah, ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah mengintegrasikan tata kelola ke dalam inti operasional. Mesin matching, sistem likuiditas, dan kontrol risiko mesti berjalan dalam jalur eskalasi serta struktur pelaporan yang sudah jelas.
“Kecepatan tanpa struktur tidak akan bertahan lama,” tegas Grolimund.
Dari Siklus ke Struktur
Melihat gambaran besar, Grolimund menerangkan, UEA diharapkan menjadi pasar regulasi dasar dalam strategi ekspansi Flipster selama beberapa tahun ke depan. Prioritas utama mereka sekarang adalah bergerak dari persetujuan prinsip ke otorisasi penuh dan mempertahankan operasional di bawah pengawasan VARA.
Langkah ini mencerminkan penyesuaian secara lebih luas di sektor exchange. Seiring berkembangnya rezim regulasi yang lebih terstruktur, lisensi kini menjadi persyaratan dasar, bukan lagi pembeda. Perbedaannya kini ada pada apakah sebuah platform mampu mempertahankan likuiditas dan kualitas eksekusi saat berada di bawah pengawasan.
“Investasi kami di UEA mencerminkan pendekatan yang akan kami terapkan untuk setiap pasar yang kami masuki,” tutur Grolimund.