Jamie Dimon seharusnya merasa puas dengan kondisi pasar AS saat ini setelah JPMorgan mencatatkan kuartal terbaik sepanjang sejarah. Tapi, ia mengaku tidak mau menyentuh S&P 500 atau obligasi jangka panjang pada harga sekarang.
Kepala eksekutif JPMorgan Chase memberikan beberapa peringatan saat tampil di The Master Investor Podcast bersama Wilfred Frost. Komentarnya datang hanya beberapa hari setelah perusahaan mencatatkan laba kuartal terbesar dalam sejarah perbankan AS.
Empat Peringatan dari Puncak Wall Street
Sepanjang podcast itu, Frost mengajukan beberapa pertanyaan kepada sang CEO mengenai pandangannya tentang saham dan obligasi, dan Dimon pun melontarkan beberapa peringatan yang perlu diperhatikan oleh investor umum.
Terkait S&P 500 secara khusus, Frost bertanya apakah Dimon tertarik menjadi pembeli di level saat ini. Dimon tidak menjawab secara langsung tentang indeks tersebut dan menjelaskan bahwa ia memilih trading berdasarkan nama saham, bukan keseluruhan pasar. Dia menegaskan bahwa baru-baru ini belum membeli saham apa pun. Ketika Frost bertanya apakah pasar sudah memperhitungkan semua hasil sempurna, Dimon menilai skenarionya memang terlihat bagus, tapi tidak sempurna.
Gabungan dari jawaban tersebut menunjukkan bahwa sang CEO melihat ruang kesalahan yang sangat kecil pada harga saat ini, tanpa adanya pembeli S&P 500 dari pihak kepala eksekutif JPMorgan sendiri.
Frost lalu bertanya secara langsung apakah Dimon akan membeli obligasi pemerintah jangka panjang. Dimon menjawab tanpa ragu.
“Secara pribadi, tidak. Saya tidak akan membeli.”
Dimon menjadikan suku bunga sebagai alasan dirinya enggan membeli obligasi. Bahkan jika inflasi turun ke 2%, ucapnya, yield Treasury 10-tahun seharusnya berada di kisaran 4% hingga 4,5%. Ia menambahkan, suku bunga jangka pendek seharusnya berada sekitar 3,25% hingga 3,5%, dan menurutnya pasar sudah mendekati level-level tersebut. Jadi, menurut dia, potensi kenaikan harga sudah sangat terbatas.
Dimon juga mengaitkan risiko obligasi dengan defisit pemerintah yang melonjak. Ia mengingatkan bagaimana inflasi AS pernah naik dari 3,5% ke 11% sepanjang era 1970-an, di saat defisit juga membengkak. Dimon menunjukkan seruan Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk meneliti lagi cara penghitungan data inflasi. Peluang kenaikan suku bunga The Fed versi Warsh pun menjadi sangat hawkish pada Juni lalu.
Pada akhirnya, Dimon menyoroti rangkaian risiko lain. Ini termasuk perang di Ukraina, ketegangan dengan Iran, peningkatan belanja militer global, serta hubungan AS dan Cina. Ia mengibaratkannya seperti lempeng tektonik yang dapat bergeser dan saling bertubrukan secara tiba-tiba.
“Risiko-risiko itu mungkin lebih besar daripada yang dipikirkan kebanyakan orang.”
Meski begitu, Dimon mengakui bahwa ancaman-ancaman ini belum tentu akan menjadi krisis nyata. Ia menyebut ekonomi global kini lebih tangguh dan tidak terlalu bergantung pada energi. Dia mencontohkan bagaimana pasar mampu menyerap gejolak harga minyak akibat perang Iran di awal tahun ini. Meski tetap ada ketahanan, terang Dimon, resiliensi ini tidak serta-merta meniadakan kemungkinan terjadinya titik balik secara tiba-tiba.
Rekor Laba, Kata-Kata Penuh Kehati-hatian
JPMorgan mencatat laba bersih sebesar US$21,2 miliar pada kuartal kedua tahun 2026, naik 41% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi laba kuartalan tertinggi yang pernah diumumkan bank mana pun di AS.
Pendapatan trading saham melonjak 86% secara tahunan menjadi US$6 miliar. Kinerja ini ikut mendorong musim laba bank yang mencetak rekor baru di lima lender terbesar AS.
Dimon menggambarkan suasana saat ini hampir ideal untuk bank. Ia menyebut volume trading yang tinggi dan harga aset yang melambung, namun ia tetap menegaskan bahwa masa keemasan ini tidak akan bertahan selamanya.
Skeptisisme Dimon juga sejalan dengan suara lain di pasar pada tahun ini.
Peter Schiff berpendapat peringatan crash pasar obligasi selanjutnya kemungkinan justru akan bermula dari Treasury, bukan Bitcoin (BTC). Kepala eksekutif JPMorgan sendiri kini justru menjauh dari saham dan obligasi yang kini berada di rekor tertingginya.
Ini menimbulkan pertanyaan bagi aset berisiko secara umum, termasuk aset kripto. Apakah sikap hati-hati Wall Street akhirnya akan memengaruhi pergerakan harga?









