Penurunan mingguan emas yang paling tajam dalam lebih dari empat dekade mengguncang pasar global dan memaksa para pelaku pasar untuk mempertimbangkan ulang apa itu “safe haven” di tengah situasi ekonomi makro saat ini.
Logam mulia yang selama ini dianggap sebagai lindung nilai di kala ketidakpastian justru menjadi korban pertama dari penjualan besar-besaran yang didorong oleh likuiditas. Hal ini memicu pertanyaan ke mana aliran modal akan bergerak selanjutnya.
Keambrukan Emas Menandai Reset Global yang Didukung Likuiditas di Pasar Dunia
Harga emas mengalami penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari 40 tahun, meskipun masih ada ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.
Secara ideal, situasi geopolitik biasanya mendukung kenaikan harga, tapi sepertinya ada faktor yang lebih mendalam terjadi di balik layar. Para analis menyoroti bahwa perdagangan yang terlalu ramai sekarang sedang berbalik arah dengan cepat.
“Emas baru saja mengalami pekan terburuk sejak 1983. Saat perang masih berlangsung. Itu gila. Seharusnya ini adalah momen emas. Logikanya begini: Emas di US$5.500 bukan karena alasan keamanan. Tapi diperdagangkan untuk spekulasi. Dan kondisinya sudah terlalu ramai,” ujar Nic Puckrin, founder Coin Bureau.
Puckrin menjelaskan, bank sentral mulai mengakumulasi emas secara agresif setelah aset Rusia dibekukan tahun 2022, hingga memicu gelombang pembelian besar-besaran. Hal tersebut mendorong arus dana ETF ke rekor tertinggi karena investor ramai-ramai masuk ke perdagangan ini.
Namun, situasi ini sekarang berbalik. Seiring tekanan geopolitik yang semakin intens dan perang membuat bank sentral harus menggunakan cadangan dibandingkan menambahnya, beberapa pelaku utama — termasuk negara minyak di Teluk yang menghadapi hambatan ekspor — bisa jadi berubah dari pembeli menjadi penjual.
Di tengah kondisi ini, likuiditas jadi prioritas utama. Ketika institusi yang telah mendorong reli harga emas justru butuh dana tunai, mereka akhirnya harus melepas aset yang sempat mereka kumpulkan. Puckrin menyebut, inilah alasan kenapa emas, yang sempat menjadi salah satu aset paling kuat di siklus sebelumnya, kini justru jadi yang pertama tertekan.
Pergeseran ini menandakan dinamika pasar yang lebih luas: saat likuiditas menipis, bahkan aset yang biasanya jadi lindung nilai pun ikut terjual.
Penurunan harga emas begitu cepat, sekitar US$600 hanya dalam beberapa hari, menggambarkan betapa cepat sentimen dapat berubah di tengah kondisi jual paksa.
Pusat tekanan ini adalah pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik tajam dalam beberapa pekan terakhir. Imbal hasil 10-tahun melonjak di tengah kekhawatiran inflasi, sinyal hawkish dari bank sentral, dan tekanan unwinding leverage.
Para analis memperingatkan, kenaikan lebih lanjut dapat memicu likuidasi besar-besaran lintas kelas aset dan memaksa investor institusi cepat-cepat mengurangi risiko portofolio mereka.
Tekanan ini sudah terlihat dari data sentimen. Menurut Kobeissi Letter, sentimen bearish di kalangan investor ritel melonjak hingga 52%, tertinggi sejak pertengahan tahun 2025.
Sentimen Bearish Mencapai Puncak saat Modal Berotasi ke Aset Alternatif
Pemburukan yang terjadi, salah satu pergeseran tercepat dalam beberapa tahun terakhir, menempatkan kondisi saat ini sejalan dengan ekstrem bear market di masa lalu.
Di tengah situasi ini, beberapa analis memperingatkan bahwa institusi besar sedang melepas aset sekarang, kemungkinan demi mengumpulkan tunai karena ada sesuatu yang mulai bermasalah di bawah permukaan.
Walaupun pandangan seperti ini masih sangat spekulatif, kekhawatiran semakin besar bahwa pasar kini lebih banyak digerakkan oleh masalah likuiditas ketimbang faktor fundamental. Di tengah gejolak, perhatian mulai beralih ke mana modal akan mengalir berikutnya.
“Family office tidak lagi membuang waktu pada saham dan obligasi biasa,” terang Jake Claver, seorang profesional family office.
Claver menuturkan bahwa mereka sekarang beralih ke kesepakatan privat, pasar perbatasan, dan aset digital. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa investor institusi sudah mulai menata ulang portofolio untuk kondisi imbal hasil yang berbeda.
“Di sanalah sebenarnya imbal hasil tinggi bersembunyi,” komentar dia.
Kripto, khususnya, kembali diperbincangkan. Chad Steingraber berpendapat setelah emas anjlok, “rotasi modal akan mulai bergerak ke kelas aset lain,” juga menambahkan bahwa kripto “masih undervalued.”
Walau masih volatil, sebagian pihak kini mulai melihat aset digital sebagai calon penerima manfaat setelah tekanan jual paksa mulai reda.
Saat ini, tema utama tetap likuiditas. Pasar terlihat berada di fase “jual dulu, baru rotasi,” di mana aset dilepas demi mengumpulkan kas sebelum tren baru muncul dengan jelas.
Belum pasti apakah ini awal dari reset sistemik yang lebih dalam atau hanya siklus repricing tajam saja.
Yang jelas, kehancuran emas yang sangat drastis ini telah meruntuhkan salah satu pilar utama psikologi pasar, dan menandakan bahwa di era seperti sekarang, tak ada aset yang benar-benar kebal saat likuiditas menjadi prioritas.