Major League Baseball (MLB) resmi menunjuk Polymarket sebagai mitra exchange prediction market eksklusif mereka pada 19 Maret. Mereka menandatangani kontrak multiyears dengan nilai dilaporkan bisa mencapai US$300 juta, bersamaan dengan perjanjian perdana dengan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Pengumuman ini muncul hanya dua hari setelah negara bagian Arizona mengajukan dakwaan pidana pertama terhadap Kalshi, rival Polymarket. Langkah ini mengubah olahraga kebanggaan Amerika itu menjadi dukungan terbesar yang pernah ada bagi industri berbasis kripto yang kini tengah menghadapi tekanan hukum.
Kesepakatan Polymarket MLB Tempatkan Bisbol di Belakang Aset Kripto dalam Pertarungan Federal vs Negara Bagian
Komisioner MLB Rob Manfred dan Ketua CFTC Michael Selig menandatangani nota kesepahaman (MOU), yang menjadi perjanjian pertama antara regulator federal dan liga olahraga profesional.
Perjanjian tersebut menetapkan kolaborasi berbagi informasi dan diskusi rutin tentang integritas pasar terkait dunia bisbol.
Manfred menjelaskan bahwa yurisdiksi federal CFTC menjadi pembeda utama dari taruhan olahraga yang diatur oleh negara bagian.
Pembedaan ini sangat penting. Lebih dari 20 gugatan sipil dan perintah penghentian dari negara bagian mempertanyakan apakah prediction market termasuk dalam regulasi perjudian.
Pada 17 Maret, Arizona semakin memperkeruh suasana dengan menuntut Kalshi dengan 20 dakwaan pidana ringan, menyebutnya sebagai operasi perjudian ilegal.
Ketua CFTC, Selig, langsung merespons dengan menyampaikan bahwa penuntutan pidana ini “sangat tidak tepat” dan hanyalah “sengketa yurisdiksi.” Ia juga menambahkan bahwa lembaganya “memperhatikan kasus ini dengan seksama.”
Langkah MLB ini memberi sinyal kuat. Dengan menandatangani kesepakatan bersama CFTC dan Polymarket secara bersamaan, liga ini seolah-olah menegaskan bahwa prediction market seharusnya tunduk pada hukum derivatif federal, bukan komisi perjudian negara bagian.
Sebuah Platform Kripto Masuk ke Arus Utama
Polymarket berjalan di atas blockchain Polygon dan mentransaksikan seluruh perdagangannya menggunakan USDC, stablecoin yang diterbitkan oleh Circle. Pengguna memperdagangkan saham hasil ya/tidak dengan harga mulai dari US$0,01 hingga US$1,00, di mana harga mencerminkan estimasi probabilitas dari kerumunan pengguna.
Pada tahun 2025, platform ini mencatat volume perdagangan global sebesar US$33,4 miliar. Di bulan Oktober tahun itu, Intercontinental Exchange (ICE), operator New York Stock Exchange, berinvestasi sebesar US$2 miliar di Polymarket dengan valuasi mencapai US$9 miliar.
Lewat kerja sama dengan MLB, Polymarket dan broker-brokernya mendapatkan akses eksklusif ke logo, merek, dan data resmi liga yang didistribusikan oleh Sportradar. Platform ini juga memperoleh peluang promosi di seluruh ekosistem digital MLB dan berbagai acara liga.
Sumber yang diwawancarai Front Office Sports menyatakan nilai kerja sama ini bisa mencapai US$300 juta selama tiga tahun, walau sumber lain memperkirakan nilai awalnya lebih dekat ke US$150 juta dengan opsi perpanjangan kontrak.
MLB mengikuti jejak National Hockey League (NHL), Major League Soccer (MLS), dan Ultimate Fighting Championship (UFC) yang telah lebih dulu meresmikan kemitraan dengan prediction market.
National Football League (NFL), National Basketball Association (NBA), PGA Tour, dan National Collegiate Athletic Association (NCAA) belum menandatangani kerja sama serupa.
Tombol Kill Switch di Syarat dan Ketentuan
Kerja sama ini juga memuat klausul pembatalan jika pengadilan menyatakan prediction market melanggar aturan negara bagian. Klausul ini menjadi pengakuan terbuka atas ketidakpastian hukum yang masih menyelimuti industri ini.
MLB dan Polymarket sepakat membatasi pasar yang berisiko integritas, termasuk pasar yang berbasis pada satu pitching, keputusan manajer, dan kinerja wasit.
Polymarket juga akan menerapkan kontrol integritas dalam rulebook khusus wilayah AS, agar standar yang sama berlaku di seluruh broker-nya.
“Integritas adalah fondasi utama dari kerja sama ini. Bukan sesuatu yang kami pikirkan belakangan,” terang Ari Borod, presiden bidang olahraga Polymarket (ESPN)
Ironi ini sulit diabaikan.
Pada musim panas lalu, MLB sempat memperingatkan para pemainnya agar tidak menggunakan prediction market, karena dianggap melanggar aturan taruhan olahraga. Tapi sekarang, liga justru mendapat pemasukan untuk melegitimasi platform yang sebelumnya mereka larang.
Sebuah rancangan undang-undang bipartisan di Kongres AS mengusulkan larangan kontrak event terkait olahraga kecuali ada izin khusus dari negara bagian, serta melarang prediction market terkait pemilihan umum sama sekali.
Di sisi lain, survei terbaru Ipsos menemukan bahwa 61% warga AS menilai kontrak event prediction market lebih mirip perjudian dibanding investasi.
Keberhasilan taruhan MLB ini sangat bergantung pada pertarungan hukum yang nampaknya akan berujung di Mahkamah Agung.
Perbedaan putusan pengadilan federal di berbagai negara bagian telah menimbulkan perpecahan yurisdiksi yang biasa diputuskan oleh Mahkamah Agung AS.
Sampai saat itu tiba, Polymarket kini mendapat restu dari dunia bisbol, dukungan regulator federal, serta klausul penghentian kontrak untuk jaga-jaga jika suatu saat dibutuhkan.