Satu hari setelah mencatat kerugian satu sesi terbesar dalam sejarahnya, KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 11% pada hari Kamis, menandai salah satu pembalikan paling dramatis yang pernah terjadi di indeks tersebut.
Tidak ada ekonomi besar lain yang lebih terhubung secara erat dengan ketidakstabilan Timur Tengah selain Seoul — dan minggu ini membuktikannya.
Reli KOSPI dan KOSDAQ
Dua indeks saham utama Korea Selatan — KOSPI berkapitalisasi besar dan KOSDAQ yang didominasi sektor teknologi — merupakan salah satu pasar paling aktif di Asia dan menjadi barometer utama sentimen investor ritel Korea.
Hingga pertengahan pagi, KOSPI telah naik ke level 5.682 — dari penutupan hari Rabu di 5.093 — setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 5.715. KOSDAQ juga pulih di atas level 1.000, meningkat lebih dari 11%. Fitur pembatas untuk sisi pembelian (buy-side sidecar) aktif di awal perdagangan — sangat berbeda dengan sidecar penjualan dan penghentian perdagangan penuh pada Rabu. Nilai won menguat tajam, turun dari level tertinggi semalam di 1.505 dan diperdagangkan dekat 1.461.
Pemicu utamanya: harga minyak mulai stabil, dengan Brent bertahan di US$81,40 dan WTI di US$74,66, serta adanya laporan kontak jalur belakang antara Washington dan Teheran yang mendongkrak sentimen di pasar Asia. Wall Street sendiri juga ditutup menguat pada hari Rabu, dengan Nasdaq naik 1,29%, dipimpin oleh Tesla (+3,44%), Amazon (+3,95%), dan Nvidia (+1,66%).
Samsung Electronics dan SK Hynix — yang sebelumnya telah turun sebanyak 21% dan 22,75% dari puncaknya akhir Februari — berhasil pulih 13–15% di awal perdagangan. Investor asing, yang telah menjual dua saham ini secara besar-besaran saat kepanikan melanda, kini kembali menjadi pembeli bersih sebesar lebih dari 710 miliar won hingga pertengahan pagi. Investor ritel pun menambah 600 miliar won lagi bersama mereka.
Mengapa Korea Jatuh Lebih Dalam dibanding Negara Lain
Besar dan cepatnya penurunan dan pemulihan ini mencerminkan kondisi struktural. Dalam dua sesi tanggal 3–4 Maret, KOSPI dan KOSDAQ anjlok masing-masing 18,43% dan 17,97% — menjadi performa terburuk dan kedua terburuk di dunia. Pasar Jepang turun 6,57%, Taiwan 6,46%, dan Shenzhen Composite milik Cina hanya 3,76%. Indeks saham AS nyaris tidak terdampak, gabungan turun kurang dari 0,35%.
Korea mengimpor lebih dari 70% kebutuhan energinya dari Timur Tengah dan menjalankan ekonomi ekspor yang sangat sensitif terhadap gejolak harga komoditas. Ketika serangan AS-Israel ke Iran membuat pasar khawatir Selat Hormuz tertutup, risiko global terkonsentrasi dengan sangat kuat di Seoul. Penurunan KOSPI 12,06% pada hari Rabu bahkan melampaui penurunan 12,02% yang tercatat sehari setelah peristiwa 9/11 — rekor yang sudah bertahan selama 25 tahun.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya
Analis bersikap optimistis dengan hati-hati, tapi mereka mengingatkan bahwa ke depannya semuanya sangat bergantung pada situasi geopolitik. Seorang analis berpendapat bahwa pemblokiran Hormuz secara berkepanjangan justru akan merugikan Iran. Tindakan itu bisa memotong pendapatan valuta asing Teheran dan sekaligus mengundang respons militer lanjutan. Analis lain menyoroti pentingnya adanya mediator sebagai titik balik utama. Pada level indeks saat ini, dia menyatakan, “alasan untuk membeli sangat kuat.”
Mirae Asset menetapkan target pemulihan KOSPI dalam waktu dekat di 5.800. Kiwoom Securities pun menyoroti bahwa aksi jual dua hari itu sudah benar-benar memperhitungkan seluruh risiko perang di harga saham.
Apa Artinya untuk Aset Kripto
Bagi pasar aset kripto, seperti telah BeInCrypto laporkan pada Rabu, basis investor ritel Korea menunjukkan ketahanan di tengah crash — dengan token-token yang baru listing di Upbit dan Bithumb sempat meroket dua digit meski bursa saham kolaps. Tapi reli pasar saham pada Kamis bisa dengan cepat membalikkan tren itu.
Dengan arus dana ritel dan asing kembali masuk ke saham lebih dari 1,3 triliun won hanya dalam satu sesi pagi, kekuatan pasar saham kembali jadi magnet utama. Volume trading aset kripto di Korea memang sudah turun lebih dari 80% selama reli 85% KOSPI sejak Presiden Lee terpilih, dan pemulihan berbentuk V di bursa saham kini mengancam menguras sisa aliran dana ke kripto yang sempat muncul saat kepanikan dua hari itu.
Nilai won pun bergerak dari 1.505 kembali ke kisaran 1.461. Pemulihan parsial ini mengurangi daya tarik aset digital dari sisi lindung nilai mata uang yang sebelumnya sempat mendongkrak minat. Efeknya sudah terlihat di data: Bitcoin naik 6,4% dalam denominasi dolar selama 24 jam terakhir, tapi hanya naik sekitar 5% di Upbit jika dihitung dalam won — lonjakan nilai won menyerap lebih dari satu persen dari kenaikan itu.
Jika risiko geopolitik terus mereda, KOSPI bisa bergerak mendekati target 5.800 dari Mirae Asset. Dana ritel Korea — yang selama ini dikenal paling sensitif dalam pergerakan besar pasar aset kripto — kemungkinan akan mengikuti saham, bukan aset digital.