Saham Circle Internet Group (CRCL) turun pada Selasa setelah Open Standard meluncurkan Open USD (OUSD), stablecoin dolar yang didukung oleh lebih dari 140 perusahaan, termasuk Visa, Mastercard, dan Coinbase, yang menargetkan pasar yang saat ini dipimpin oleh token USD Coin (USDC) dari Circle.
Peluncuran ini menyatukan jaringan pembayaran, bank, dan perusahaan kripto di balik satu token. Langkah ini hadir saat USDC dari Circle dan USDT dari Tether menguasai sebagian besar pasar stablecoin.
Mengapa USDC dari Circle Menghadapi Tekanan
Open USD membidik para pengguna perusahaan yang mendorong adopsi USDC. Bisnis bisa mencetak dan menukar token ini secara gratis, dan mitra akan tetap menyimpan penghasilan dari cadangannya setelah dipotong biaya kecil.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan kabar terbaru secara langsung
Model seperti itu langsung mengenai cara Circle menghasilkan uang. Laporan mereka mencatat bahwa pada 2024, 99% pendapatan Circle berasal dari bunga cadangan.
Pada tahun itu, Circle membayar Coinbase sebesar US$908 juta untuk mendistribusikan USDC. Kini Coinbase justru bergabung dengan pesaing yang mengizinkan mitra menyimpan penghasilan bunga cadangan tersebut.
Saham Circle turun hampir 15% setelah berita ini, menyentuh level terendah hari itu. Saham ini juga memperpanjang tren penurunan usai reli saham Circle dari US$50 ke US$129 dalam enam minggu awal tahun ini.
Risiko yang lebih besar adalah soal distribusi. Circle naik daun karena USDC menyalip Tether untuk transfer korporasi. Tapi para pendukung Open USD kini adalah jaringan yang sebenarnya paling banyak memproses aliran dana besar itu.
Meskipun demikian, Circle masih punya beberapa keunggulan. USDC milik Circle memegang status regulasi di AS dan Eropa dan memiliki likuiditas exchange yang mendalam.
Konsorsium Mendukung Open USD
Open Standard akan mengelola token ini melalui dewan independen yang berisi para mitra. Zach Abrams memimpin perusahaan ini sebagai CEO sementara. Ia merupakan co-founder Bridge, perusahaan stablecoin yang diakuisisi Stripe seharga US$1,1 miliar pada 2025 lalu.
Para pendukungnya berasal dari sektor keuangan dan teknologi, mulai dari BlackRock dan BNY hingga Google dan Shopify. Banyak di antara mereka yang sudah mengelola stablecoin sendiri atau membangun perusahaan infrastruktur stablecoin, mirip dengan integrasi pembayaran stablecoin terbaru Mastercard.
Stripe menghubungkan langsung bisnis pembayarannya ke token ini.
“Open USD akan menjadi stablecoin default untuk bisnis yang berjalan di Stripe…” baca sebuah kutipan dalam pengumuman itu, mengutip Will Gaybrick, presiden teknologi dan bisnis di Stripe.
Circle, Tether, dan PayPal tidak ikut serta dalam inisiatif ini. Saat ini USDT dari Tether memimpin dengan sekitar US$185 miliar dan USDC dari Circle menyusul di kisaran US$74 miliar.
Terlepas dari semua itu, sejarah menunjukkan bahwa model konsorsium kurang menjanjikan. Visa, Mastercard, dan Stripe pernah mendukung stablecoin Libra milik Facebook pada 2019, namun mereka mundur hanya dalam hitungan bulan akibat tekanan regulasi.
Open USD akan mulai berjalan akhir tahun ini di Plasma dan beberapa chain lain yang memang dibangun khusus untuk pembayaran stablecoin.
Waktu peluncuran ini krusial bagi Circle, karena perjanjian berbagi pendapatan USDC dengan Coinbase akan habis masa berlakunya pada Agustus mendatang.









