Peter Schiff memilih peringatan 55 tahun Amerika memutus keterkaitan dengan emas untuk menyampaikan pendapat tegas. Keputusan di tahun 1971 itu, menurutnya, menjadi alasan mengapa dolar menghadapi masalah saat ini.
Schiff merupakan anggota pendiri Euro Pacific Asset Management. Ia menyampaikan argumen tersebut di podcast akhir pekannya. Washington, menurutnya, saat itu gagal memenuhi standar emas, dan sekarang dunia mulai meninggalkan dolar.
Mengapa Tahun 1971 Masih Mewarnai Perdebatan Dolar
Presiden Richard Nixon menutup konvertibilitas dolar ke emas pada 15 Agustus 1971. Pemerintah asing tidak lagi bisa menukar dolar dengan emas. Nilai tukarnya waktu itu adalah US$35 per ons.
“Saya telah menginstruksikan Menteri Connally untuk sementara waktu menangguhkan konvertibilitas dolar menjadi emas atau aset cadangan lainnya… dolar Anda akan tetap bernilai sama besok seperti hari ini,” ujar Richard Nixon dalam pidatonya pada 15 Agustus 1971 tersebut.
Nixon menyebut langkah itu hanya sementara. Tapi, kenyataannya sudah berjalan selama 55 tahun.
Janji soal nilai uang ternyata makin memburuk. Data harga resmi menunjukkan, satu dolar pada tahun 1971 kini hanya bisa membeli barang senilai sekitar 12 sen saja. Harga kebutuhan konsumen sudah melonjak 718% sejak Agustus tahun itu.
Schiff menyebut kebijakan tersebut adalah bentuk gagal bayar, bukan sekadar masalah teknis. Menurutnya, catatan Federal Reserve menjanjikan emas. Washington langsung menghentikan pembayaran itu.
Pergerakan harga emas sendiri bercerita. Emas ditutup pada Senin di level US$4.418, naik 0,94%. Angka itu sekitar 126 kali dari harga emas tahun 1971. Dolar terlihat lemah, bukan sepenuhnya rusak. Pada Senin, dolar turun ke level terendah tiga bulan terhadap mata uang lain .
“Kita meninggalkan emas di tahun 1971. Sekarang dunia pun mulai meninggalkan dolar,” tutur Schiff dalam podcastnya.
Ikuti kami di X untuk memperoleh berita terbaru secara langsung
Indeks dolar versi Federal Reserve secara keseluruhan hanya turun 1,8% dalam setahun terakhir.
De-Dollarization Menjadi Ujian Berikutnya
Klaim Schiff yang lebih besar adalah bahwa tahun 1971 hanya menyelesaikan separuh masalah. Dolar memang kehilangan nilainya selama dekade 1970-an. Namun, dunia tetap memegang dolar sebagai cadangan.
Kebiasaan tersebut memang menguntungkan banyak pihak. Amerika bisa membeli lebih banyak daripada yang diproduksi. Washington pun mudah berutang tanpa batasan keras.
Utang negara per 13 Agustus telah mencapai US$39,93 triliun. Sekitar US$65 miliar lagi akan membuat nilainya menyentuh US$40 triliun.
“Dunia sedang melakukan de-dollarization. Dunia telah mulai meninggalkan standar dolar. Ini adalah proses yang sudah dimulai. Memang belum selesai, tapi menurut saya dampaknya bagi ekonomi akan sangat besar,” terang Schiff.
Ia memperkirakan rumah tangga akan merasakan dampaknya terlebih dahulu. Impor jadi lebih mahal jika defisit perdagangan berakhir. Standar hidup akan turun jika suatu negara hanya bisa membelanjakan sesuai penghasilannya.
Tim riset BeInCrypto pernah menjalankan tes tabungan mata uang selama 55 tahun mengenai hal ini. Emas ternyata menjadi pelindung terbaik jangka panjang. Tapi, dolar tetap unggul dalam hal likuiditas.
Permintaan Emas Kini Jadi Pertanyaan Bank Sentral
Pendapat Schiff pun menghadirkan sesuatu yang bisa diuji. Jika dunia memang mulai meninggalkan dolar, tindakan bank sentral akan terlihat jelas.
Dari sisi emas, data mendukung. Bank sentral membeli 289 ton emas di kuartal kedua tahun ini, menurut data World Gold Council. Jumlah tersebut naik 62% dibanding tahun sebelumnya.
Namun, kuartal pertama tampak jauh berbeda. Pembelian emas turun drastis menjadi hanya 56,5 ton. Sejumlah pemerintah bahkan sempat menjual emas demi mendapat uang tunai ketika krisis energi terjadi.
Strategis senior Jeff Currie membangun kerangka berpikir atas perubahan tersebut. Currie, yang dulu mengepalai riset komoditas di Goldman Sachs dan kini menjadi penasihat Carlyle Group, menilai permintaan emas akan melemah drastis jika bank sentral jadi penjual terpaksa. Target harga emas jangka panjang menurut perhitungannya adalah US$10.000 per ons.
Separuh dari dolar belum benar-benar berkurang. Pangsa dolar AS terhadap cadangan dunia justru naik menjadi 57,13% pada kuartal pertama, data IMF menunjukkan. Tiga bulan sebelumnya, angkanya masih di 56,42%.
Euro memiliki pangsa 20,03% dari cadangan. Renminbi dari Cina hanya di bawah 2%. Analisis BeInCrypto sebelumnya terkait data pangsa cadangan dolar mengungkapkan bahwa perubahan nilai mata uang, bukan aksi jual, yang mendorong sebagian besar penurunan sebelumnya.
Bitcoin juga belum menggantikan peran ini. Harga Bitcoin mendekati US$63.517 sebulan terakhir bergerak cenderung datar. Sementara harga emas naik saat Bitcoin stagnan.
Karena itu, bank sentral justru sedang gencar membeli emas. Mereka juga belum menjual dolar AS. Argumen Schiff yang sudah 55 tahun kini bergantung pada apakah kedua garis itu akhirnya akan bersilangan.









