Semakin banyak analis yang menyoroti pasar kredit privat sebagai pemicu potensial bagi guncangan finansial berikutnya, karena mulai muncul tanda-tanda keretakan.
Dulu, kredit privat dipandang sebagai alternatif yang tangguh dibandingkan pinjaman tradisional, namun kini sedang menghadapi tekanan besar dari investor yang ingin keluar.
Kredit Privat Menghadapi Penarikan Rekor dan Modal Terkunci
Tanda-tanda tekanan awal sudah mulai terlihat. Pada kuartal I 2026, investor meminta penarikan dana lebih dari US$20 miliar. Kekhawatiran investor pun meningkat karena portofolio kredit privat memiliki eksposur yang besar terhadap perusahaan software. Segmen ini semakin terancam oleh disrupsi berbasis AI.
“Kredit privat tumbuh menjadi US$3,5 triliun dengan melakukan satu hal yang bank tidak lakukan lagi sejak 2008. Mereka meminjamkan uang ke perusahaan yang lebih berisiko, membebankan bunga lebih tinggi, dan memberitahu investor bahwa mereka bisa menarik dana setiap kuartal. Uang terus mengalir. Semua senang. Sekarang uangnya ingin keluar, tapi pintu keluar terbatas,” posting Crypto Rover.
Tetapi, banyak dana tidak bisa memenuhi permintaan penarikan itu secara penuh. Pengelola aset besar seperti BlackRock, Apollo Global Management, dan Blue Owl, sudah menerapkan batasan penarikan.
Perusahaan seperti Ares Management dan Morgan Stanley juga mengambil langkah serupa, sehingga menyoroti tekanan yang lebih luas di seluruh industri. Selain itu, Morgan Stanley memproyeksikan tingkat gagal bayar di sektor ini akan naik dari 5% menjadi 8% dalam satu tahun ke depan.
“Tidak seperti subprime mortgage, kredit privat sebagian besar tidak diatur, menilai sendiri asetnya dari dalam, dan tidak diperdagangkan di pasar publik. Tidak ada orang di luar dana ini yang tahu pasti berapa nilai pinjaman di dalamnya saat ini, dan itulah asal mula dari setiap krisis besar,” lanjut posting tersebut.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Indeks CDS Mengundang Perbandingan dengan Tahun 2008
Di tengah tekanan ini, S&P Dow Jones Indices meluncurkan indeks CDX Financials. Ini adalah produk credit default swap (CDS) yang terhubung langsung dengan dana kredit privat. Indeks baru tersebut mencakup 25 entitas keuangan di Amerika Utara. Bank-bank besar berencana mulai menjual derivatif ini minggu depan.
CDS adalah derivatif keuangan yang memungkinkan investor melakukan lindung nilai atau bertaruh terhadap risiko peminjam gagal membayar utangnya. CDS memegang peran besar dalam Krisis Keuangan 2008:
- Investor membeli CDS dalam jumlah besar untuk utang hipotek
- Ketika gagal bayar meningkat, penjual CDS tidak mampu menanggung kerugian
- Kerugian pun meluas ke seluruh sistem keuangan
“Instrumen tersebut tidak bisa menahan kerusakan. Justru memperparahnya. Kredit privat memang sektor berbeda dan skalanya lebih kecil. Tapi polanya sama: ekspansi pesat, ujian stres pertama, lalu jawabannya di Wall Street ialah membangun derivatif baru di sekitarnya,” ujar analis Mario Nawfal.
Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran semakin besar atas ketahanan pasar kredit privat. Belum jelas apakah sektor ini mampu bertahan menghadapi gelombang penarikan dana yang terus-menerus tanpa menjalar ke sistem keuangan yang lebih luas.


