Singapura Tegaskan Akan Bersikap Brutal & Keras terhadap Perilaku Buruk Industri Kripto

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Pemerintah Singapura kian mengeraskan hatinya kepada industri kripto, terutama setelah berbagai insiden yang memperparah kondisi pasar kripto beberapa waktu lalu.

  • Sopnendu Mohanty, salah seorang petinggi MAS, menegaskan bahwa Singapura tidak menoleransi perilaku market kripto yang buruk.

  • Dalam konteks uang digital, pemerintah Singapura nampaknya lebih menunjukkan ketertarikan terhadap konsep CBDC, alih-alih kripto.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

Pemerintah Singapura dikabarkan akan memberikan sikap tegas terhadap perilaku buruk dalam industri kripto. Hal ini menandai perubahan besar dalam sikap mereka. Para pelaku industri kripto di wilayah ini menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Sopnendu Mohanty, Chief Fintech Officer (CFO) Otoritas Moneter Singapura (MAS), mempertanyakan nilai dari proyek kripto yang diajukan oleh pihak swasta dan mengatakan bahwa dia mengharapkan sebuah alternatif yang didukung negara akan diluncurkan dalam 3 tahun mendatang.

“Kami telah dipanggil oleh banyak pemain cryptocurrency karena tidak ramah. Respon saya adalah, ‘Ramah untuk apa? Ramah untuk ekonomi riil atau ramah untuk ekonomi yang tidak nyata?’” Jelas Sopnendu Mohanty kepada FT pada hari Kamis (23/6).

Dia menegaskan bahwa Singapura tidak menoleransi perilaku market yang buruk. Jika seseorang atau sejumlah pihak telah melakukan hal buruk, “Kami [Singapura akan] brutal dan keras tanpa henti.”

Iklim Peraturan Kripto Singapura Memburuk?

Crypto crash baru-baru ini telah memukul banyak pemain mulai dari Terra-LUNA-UST, Celsius Network, hingga Three Arrows Capital (3AC). Perlu diingat, perusahaan di balik proyek blockchain Terra yaitu Terraform Labs (TFL) yang dipimpin Do Kwon mengaku markas mereka di Singapura. 3AC juga menjelaskan bahwa kantor mereka berada di Singapura.

Pukulan telak dalam market kripto akhir-akhir ini pun turut mengeraskan sikap para pejabat Singapura terhadap industri ini. Padahal, sebelumnya banyak bisnis kripto memilih markas di negara-kota itu karena dinilai memiliki lingkungan peraturan yang dianggap ramah dan pajak yang rendah.

Sinyal ini sebenarnya dapat tercermin dari keputusan Binance yang pada Desember 2021 bermaksud menarik pengajuan permohonan lisensi kripto mereka di Singapura.

Tidak hanya itu, dalam konferensi Crypto Bahamas yang berlangsung pada akhir April 2022, co-founder 3AC, Su Zhu, sempat mengatakan bahwa mereka akan keluar dari Singapura menuju Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), karena lingkungan peraturan yang memburuk. “Energi di industri aset digital Dubai adalah listrik saat ini,” jelas Su Zhu.

CFO MAS mengatakan bahwa Singapura telah memberlakukan ‘proses due diligence atau uji tuntas yang sangat lambat’ dan ‘sangat kejam’ untuk melisensikan bisnis kripto.

Baru-baru ini, Singapura telah memberikan lisensi ke sejumlah pemain untuk mengoperasikan bisnis kripto, termasuk Crypto.com, Genesis, dan Sparrow. Menariknya, komentar Sopnendu Mohanty menunjukkan bahwa sejumlah bisnis kripto mungkin akan menghadapi masa depan yang tidak pasti di Singapura.

Singapura Lebih Tertarik dengan Model CBDC

Pada hari Selasa (21/6) kemarin, MAS Singapura bersama-sama meluncurkan ‘centre of excellence’ (COE) untuk bekerja pada pengembangan central bank digital currency (CBDC) atau yang dikenal sebagai mata uang digital bank sentral.

Dipimpin oleh Mojaloop Foundation dan didukung Temasek, kelompok ini berharap untuk menerapkan mata uang digital dalam sistem yang memungkinkan pembayaran internasional berbiaya rendah. Inisiatif ini mencoba menyatukan ekosistem fintech untuk menjelajahi bagaimana teknologi mata uang digital bank sentral dan software open-source Mojaloop dapat mendorong inklusi dalam skala besar.

Sebagai informasi, Temasek merupakan sovereign wealth fund (SWF) dana kekayaan negara Singapura. Sedangkan Mojaloop Foundation adalah organisasi nirlaba yang mengelola software open-source gratis Mojaloop yang dirancang sebagai sistem pembayaran seluler untuk membantu melayani market yang tidak memiliki rekening bank.

Adapun ‘Sponsor Members’ dari Mojaloop Foundation termasuk Bill & Melinda Gates Foundation, Google, MAS Singapura, Ripple, hingga The Rockefeller Foundation.

Sopnendu Mohanty mengatakan bahwa taruhan terbaik dari pihaknya adalah bahwa mata uang digital akan diintegrasikan ke dalam platform ini dalam beberapa tahun ke depan. Di menambahkan bahwa produk tersebut tidak akan eksklusif untuk Singapura semata, tetapi juga akan tersedia bagi bank sentral lainnya.

“Kami terus fokus pada infrastruktur ekonomi masa depan, yang dapat didasarkan pada aset digital,” jelas CFO MAS Singapura itu.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.

Ikuti Penulis