Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, telah menghabiskan US$600 juta untuk membeli mayoritas saham sebuah konglomerat pertanian di Amerika Selatan, sehingga menambah kepemilikan lahan dalam strategi cadangan yang sebelumnya sudah mencakup miliaran dolar emas dan Bitcoin (BTC).
Langkah ini terjadi setelah audit bersih dari KPMG, salah satu dari empat perusahaan akuntansi terbesar dunia. Tapi, cadangan buffer milik Tether sendiri kini turun 40%, sehingga memunculkan pertanyaan soal lindung nilai aset langka mereka.
Lahan Pertanian Bergabung dengan Emas dan Bitcoin dalam Campuran Cadangan
Tether mengakuisisi sekitar 70% saham Adecoagro, sebuah perusahaan agribisnis yang terdaftar di Nasdaq dan mengelola lebih dari 200.000 hektare lahan di Argentina, Brasil, dan Uruguay. Kesepakatan ini berkembang menjadi sekitar US$600 juta pada September 2025, setelah sebelumnya membeli saham senilai US$100 juta di tahun 2024.
Para analis menyebut akuisisi ini sebagai langkah diversifikasi, mengikuti logika yang sama seperti kepemilikan emas dan Bitcoin oleh Tether. Pihak Tether sendiri menyatakan aset-aset itu sebagai lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan inflasi. Selain itu, mereka juga berencana memakai energi terbarukan dari lahan pertanian itu untuk mendukung Bitcoin miner.
Ardoino menjelaskan Tether sebagai “mungkin pemilik lahan terbesar di Amerika Selatan,” sembari menuturkan bahwa perusahaan agribisnis tersebut mengelola ratusan ribu domba dan sapi serta memproduksi susu dan beras. Dia melihat kepemilikan ini berdasarkan logika yang sama dengan kepemilikan emas dan Bitcoin Tether — yakni sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan sistem, bukan sebagai investasi konvensional.
“Inilah saat ketika kami memikirkan stabilitas dunia yang harus didukung oleh aset nyata dan berwujud,” ujar dia, seraya menambahkan bahwa Tether harus tetap menjadi “perusahaan yang mampu bertahan dalam skenario terburuk.”
Bisnis Tether Juga Mencakup Surat Utang AS
Di sisi lain, Tether tetap menjadi salah satu pemegang surat utang pemerintah AS terbesar di dunia. Paparan terakhirnya tercatat sekitar US$141 miliar, menurut attestation kuartal pertama tahun 2026. Artinya, perusahaan ini mempertaruhkan aset langka yang bernilai tinggi. Meski begitu, mayoritas neraca perusahaan masih berpatok pada mata uang yang berusaha mereka lindungi.
Audit penuh pertama KPMG mengonfirmasi cadangan Tether melebihi kewajiban sebesar US$6,8 miliar di akhir 2025. CEO Tether Paolo Ardoino menyebut hasil itu sebagai audit bersih, opini terkuat dari auditor. Tapi, Tether belum menerbitkan laporan keuangan audit secara rinci.
Attestation Tether pada bulan Juni, berupa snapshot cadangan triwulanan yang diulas oleh BDO, menyatakan buffer tersebut tinggal US$4,1 miliar. Itu berarti penurunan sekitar 40% dalam enam bulan, kebanyakan akibat kerugian belum terealisasi pada emas dan bitcoin.
Padahal, aset inilah yang dimaksudkan untuk melindungi neraca Tether. Kepemilikan lahan pertanian juga menambah tantangan, sebab lahan tidak mudah dijual dengan cepat jika Tether sewaktu-waktu membutuhkan dana tunai.
Belum jelas apakah strategi aset langka Tether pada akhirnya memperkuat posisi mereka atau justru menambah risiko baru. Laporan lengkap KPMG, yang masih belum dipublikasikan, mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut setelah tersedia untuk umum.









