Hedge Fund yang Lakukan Short USDT Kian Banyak, CTO Tether: Terjadi Serangan Terkoordinasi

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Dalam sebulan terakhir ada lebih banyak hedge fund tradisional yang telah mengeksekusi perdagangan untuk melakukan short pada Tether.

  • Perdagangan ini bernilai ratusan juta dolar AS dalam notional value, kata Leon Marshall selaku Head of Institutional Sales di Genesis.

  • Fenomena ini terjadi setelah runtuhnya algorithmic stablecoin UST yang turut memicu efek domino pada koin LUNA.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

Para short seller telah meningkatkan taruhan mereka terhadap Tether USD (USDT) di tengah aksi jual market cryptocurrency secara luas, yang meragukan kesehatan keuangan sejumlah perusahaan kripto.

WSJ pada hari Senin (27/6) melaporkan bahwa dalam sebulan terakhir ada lebih banyak hedge fund atau dana lindung nilai tradisional yang telah mengeksekusi perdagangan untuk melakukan short pada Tether melalui Genesis Global Trading Inc., salah satu broker kripto terbesar untuk investor profesional.

Perdagangan ini bernilai ratusan juta dolar Amerika Serikat (USD) dalam notional value, kata Leon Marshall selaku Head of Institutional Sales di Genesis.

“Telah ada lonjakan nyata dalam minat dari hedge fund tradisional yang memantau Tether dan berupaya untuk melakukan short padanya,” jelas Leon Marshall yang menolak untuk menguraikan data lebih spesifik.

Genesis, yang tidak mengambil pandangan terkait Tether, mengatakan bahwa berbagai short trade hampir secara eksklusif dilakukan oleh hedge fund tradisional di AS dan Eropa, sementara sejumlah perusahaan kripto terutama yang berbasis di Asia dengan senang hati memfasilitasi sisi lain dari transaksi-transaksi ini.

Kehancuran Terra-LUNA-UST Jadi Momentum bagi Hedge Fund

Masih menurut Genesis, sejumlah investor telah bertaruh melawan Tether setidaknya selama 12 bulan. Namun, lebih banyak hedge fund tertarik untuk melakukan short terhadap USDT setelah runtuhnya algorithmic stablecoin TerraUSD (UST) yang turut memicu efek domino pada native token Terra (LUNA).

USDT merupakan stablecoin dolar AS yang dirilis Tether dengan market cap atau kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Saat ini, market cap USDT mencapai sekitar US$66 miliar, sementara market cap USD Coin (USDC) yang berada di peringkat kedua sekitar US$55 miliar. 

Market cap USDT mulai merosot hingga ke titik saat ini, setelah kehancuran spektakuler Terra-LUNA-UST pada pekan kedua Mei 2022. Sebelum momen itu, market cap USDT berada di atas US$80 miliar. Menariknya, market cap USDC yang sebelumnya berada di kisaran US$48 miliar justru mulai melonjak sejak tragedi ini.

Tether USD sempat kehilangan patokannya 1:1 (yang mengharuskan setiap 1 USDT setara dengan US$1) selama keruntuhan UST dan LUNA. USDT sempat diperdagangkan di level US$0,95 pada 12 Mei lalu. Hal ini dinilai mencerminkan kekhawatiran para investor tentang nilai asetnya dan apakah Tether akan siap untuk dikonversi menjadi uang tunai dalam kepanikan market.

Bila dipantau berdasarkan historical data yang disediakan CoinMarketCap, harga 1 USDT masih berada di kisaran US$0,99 sampai saat ini. Hal ini jelas kontras bila dibandingkan dengan historical data USDC yang lebih sering menampilkan angka bahwa 1 USDC setara dengan US$1.

2 Faktor yang Dorong Hedge Fund Lakukan Short pada USDT

Head of Institutional Sales di Genesis menjelaskan setidaknya ada 2 faktor utama yang mendorong para hedge fund melakukan short pada USDT. 

Pertama, beberapa hedge fund melakukan short pada USDT sebagai taruhan pada kondisi ekonomi yang lebih luas. Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi tinggi dalam 40 tahun terakhir.

Kedua, hedge fund lainnya prihatin dengan kualitas dari aset yang mendukung USDT. Terkait hal ini, pihak Tether mengatakan bahwa mereka mempertahankan jumlah aset cadangan yang setara dengan stablecoin mereka, yang mencakup surat berharga (commercial paper) atau pinjaman jangka pendek dari sejumlah perusahaan, deposito bank, logam mulia, obligasi pemerintah, dan token digital.

Sebelumnya, muncul tuduhan dari beberapa short seller bahwa mereka percaya sepertiga dari kepemilikan aset yang mendukung USDT seperti commercial paper mereka didukung oleh pengembang properti Cina, Evergrande, yang terlilit utang.

Sebagai respon atas hal tersebut, Tether mengatakan bahwa rumor itu sepenuhnya salah dan menambahkan bahwa mereka telah mengurangi kepemilikan commercial paper dalam portofolio mereka.

Seorang juru bicara Tether mengatakan bahwa pihaknya tidak akan berkomentar lebih lanjut tentang bagaimana hedge fund mencari-cari peluang untuk menghasilkan return berdasarkan rumor tersebut.

Sebagai informasi, regulator AS, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC), sempat menyatakan bahwa Tether telah menyesatkan para pengguna, terhitung sejak Juni 2016 hingga Februari 2019.

Klaim menyesatkan yang dimaksud CTFC adalah ‘Tether memiliki cadangan dolar AS yang cukup untuk mendukung setiap stablecoin yang beredar’. Akhirnya pada Oktober 2021, Tether setuju untuk membayar US$41 juta dalam penyelesaian meski mereka tidak mengakui atau menyangkal telah melakukan kesalahan.

CTO Tether: Terjadi Serangan Terkoordinasi

Dalam waktu yang berdekatan setelah laporan WSJ diterbitkan, Chief Technology Officer (CTO) crypto exchange Bitfinex yang merangkap sebagai CTO Tether, Paolo Ardoino, mengatakan bahwa telah terjadi serangan terkoordinasi dari hedge fund yang mencoba melakukan short pada USDT.

“Beberapa hedge fund mencoba menyebarkan kepanikan lebih lanjut di market setelah keruntuhan UST & LUNA. Ini benar-benar tampak dari awal sebagai sebuah serangan terkoordinasi, dengan gelombang FUD [Fear, Uncertainty, & Doubt] baru, para buzzer, dan lain sebagainya,” jelas Paolo Ardoino di Twitter.

Dia menguraikan alat-alat yang digunakan untuk menyerang Tether, seperti sejumlah trading pair USDT/USD perp (perpetual contract). Bagi CTO Tether, ini merupakan vektor serangan sempurna yang menawarkan taruhan asimetris. Kemudian, alat lainnya yang dipakai untuk menyerang USDT adalah spot short selling, hingga DeFi pools yang tidak seimbang.

“Sasarannya adalah menciptakan tekanan yang cukup, dalam miliaran [dolar AS], menyebabkan banyak arus keluar untuk merusak likuiditas Tether dan akhirnya membeli kembali token-token dengan harga yang jauh lebih rendah,” terangnya.

Paolo Ardoino menyebut hedge fund ini percaya dan membantu semua FUD yang disebarkan dalam beberapa bulan atau tahun terakhir. Mereka percaya bahwa Tether tidak didukung 100%, memiliki eksposur ke perusahaan properti Evergrande, hingga memiliki 85% paparan terhadap commercial paper Cina.

“Mereka percaya bahwa semua narasi yang disebarkan beberapa pesaing melalui jaringan troll terkoordinasi,” tambahnya.

Dia mengklaim bahwa Tether mengurangi eksposur commercial paper dari sekitar US$45 miliar menjadi sekitar US$8,4 miliar, serta berencana untuk menghapusnya secara penuh dalam beberapa bulan mendatang.

“Semua commercial paper yang kedaluarsa telah dimasukkan ke dalam tagihan obligasi pemerintah Treasury AS, dan kami akan melakukannya hingga eksposur commercial paper kami menjadi 0,” tegas CTO Tether.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.

Ikuti Penulis