Bitcoin berhasil pulih ke kisaran US$82.500 usai sempat tergelincir di bawah US$80.000 pekan lalu.
Namun, pemulihan alias rebound ini akan menghadapi ujian besar pada Rabu (21/10), ketika data terbaru persediaan minyak AS berpotensi kembali memantik kekhawatiran inflasi yang sebelumnya memicu aksi jual.
Kondisi Makro Sangat Berdampak pada Pasar
Bitcoin ambruk ke US$79.770 pada hari Kamis (15/10) ketika investor bereaksi terhadap laporan inflasi AS lainnya yang mengkhawatirkan. Harga konsumen pada September naik 3,7% secara tahunan, melampaui ekspektasi sebesar 3,6%.
Data harga produsen dan penjualan ritel yang lebih kuat turut meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat kembali menaikkan suku bunga. Tekanan ini menyebar ke berbagai pasar keuangan.
Saham teknologi mengalami kerugian besar, sementara investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Namun, pada Senin, kondisi mulai membaik. Harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun sehingga meredakan sebagian kekhawatiran inflasi.
Trader juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 87% bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah pada 28 Oktober. Meski demikian, pemulihan ini masih memiliki kelemahan.
ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$228 juta pekan lalu. Permintaan institusional belum menunjukkan pembalikan tren yang meyakinkan.
Harga Minyak Bisa Menentukan Arah Bitcoin Selanjutnya
Menurut analis Bitunix, laporan persediaan minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pada Rabu merupakan salah satu katalis utama yang perlu diperhatikan.
Penurunan persediaan minyak yang lebih besar daripada perkiraan dapat mendorong harga energi naik, memperkuat kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan tekanan terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, kenaikan persediaan yang tidak terduga dapat menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran mengenai pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Bagi Bitcoin, US$80.000 masih menjadi level support terdekat. Jika harga menembus level ini secara berkelanjutan, BTC berpotensi kembali menguji level terendah pekan lalu.
Adapun aksi pemulihan ke atas US$84.000–US$85.000, terutama jika disertai arus masuk ETF yang lebih kuat, akan menjadi bukti yang lebih meyakinkan bahwa permintaan beli kembali meningkat.
Mengapa Sejumlah Altcoin Justru Mampu Bertahan di Tengah Aksi Jual Kripto?
Pelemahan pasar tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Hanya 40% dari 300 aset kripto yang dipantau Bitunix mencatat kenaikan pekan lalu, dengan median imbal hasil sebesar −2,03%. Namun, beberapa token berkapitalisasi lebih kecil justru mengalami kenaikan tajam.
Basic Attention Token (BAT) melonjak 99,43%, didukung oleh minat terhadap ekosistem peramban Brave yang terus berkembang. Ekosistem tersebut melaporkan 128 juta pengguna bulanan dan lebih dari 200.000 pendaftaran Brave Rewards Card.
Aktivitas trading spekulatif mungkin turut memperbesar reli ini. Open interest futures BAT melonjak 60% hanya dalam satu hari, sementara tingkat pendanaan (funding rate) tetap negatif. Kondisi tersebut berpotensi memicu short squeeze.
Sementara itu, token penskalaan Ethereum, ZK dan STRK, masing-masing naik lebih dari 40%, mencerminkan minat selektif terhadap teknologi zero-knowledge.
Kenaikan ini tidak serta-merta menandakan pemulihan pasar secara luas ataupun peningkatan adopsi.
Peristiwa Penting yang Bisa Mempengaruhi Harga Bitcoin sebelum November
- 21 Oktober: “Laporan persediaan minyak mentah AS.”
- 23 Oktober: Data aktivitas bisnis AS dan angka sentimen konsumen.
- 27–28 Oktober: “Pertemuan kebijakan Federal Reserve”
- 29 Oktober: “Laporan PDB kuartal tiga AS dan inflasi PCE bulan September”
Pemulihan Bitcoin memberi ruang bagi pembeli untuk mempertahankan level US$80.000. Namun, apakah level support tersebut mampu bertahan sepanjang pekan ini akan bergantung pada perkembangan ekspektasi inflasi dan kembalinya permintaan beli yang lebih kuat.











