Lihat lebih banyak

Temuan FBI Ungkap Aplikasi Kripto Palsu Gondol Dana Nasabah Sebesar US$42,7 Juta

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • FBI melaporkan sekitar US$42,7 juta dana masyarakat berhasil dibawa kabur oleh oknum nakal, dengan menggunakan modus aplikasi kripto palsu.
  • Hasil identifikasi FBI menyebutkan sekitar 244 nasabah menjadi korban penipuan aktivitas jahat tersebut.
  • FBI pun mendorong lembaga keuangan dan juga investor yang merasa dirugikan untuk segera menghubungi Pusat Pengaduan Kejahatan Internet ataupun kantor FBI yang ada di wilayahnya.
  • promo

Federal Bureau of Investigation (FBI), sebuah badan federal yang ada di bawah yurisdiksi Amerika Serikat (AS), memperingatkan tentang ancaman aplikasi kripto palsu yang berpotensi merugikan konsumen. Setidaknya, sejauh ini, sekitar US$42,7 juta dana masyarakat berhasil dibawa kabur oleh oknum nakal tersebut dengan menggunakan modus aplikasi kripto palsu.

Hasil identifikasi FBI menyebutkan, sekitar 244 nasabah menjadi korban penipuan aktivitas jahat tersebut.

Para penipu menggunakan modus dengan cara menghubungi calon korban dan mengklaim bahwa mereka memiliki produk kripto yang sah dan terdaftar di negara setempat. Setelah itu, penipu akan mengarahkan calon korbannya untuk mengunduh aplikasi kripto palsu, yang pada akhirnya akan menjadi jalan masuk bagi penipu untuk melancarkan aksi berikutnya.

Oleh karena itu, FBI pun mendorong lembaga keuangan dan juga investor yang merasa dirugikan untuk segera menghubungi Pusat Pengaduan Kejahatan Internet ataupun kantor FBI yang ada di wilayahnya.

Aksi yang dilakukan oleh para penipu itu secara tidak langsung juga mencederai kredibilitas pelaku keuangan yang sah. Pasalnya, tidak jarang para pelaku kejahatan melakukan imitasi atas merek, logo, atau bahkan produk dengan pelaku usaha yang terdaftar dan tercatat.

28 Orang Menjadi Korban Hanya dalam 5 Bulan

Dalam kurun waktu 5 bulan, yakni sekitar 22 Desember tahun lalu sampai dengan 7 Mei 2022, FBI mencatat penjahat siber sudah berhasil melakukan tipu daya terhadap 28 korban dan membawa kabur dana nasabah sekitar US$3,7 juta.

Sepertinya, para penjahat tersebut memanfaatkan ketidakjelasan regulasi terkait kripto, yang pada akhirnya membuat arus informasi menjadi tersendat. Sampai saat ini, banyak negara yang masih belum bisa menentukan kejelasan pandangan terkait kripto—apakah masuk dalam golongan komoditas atau instrumen investasi, seperti saham. Sehingga, ketika pelaku kejahatan membuat aplikasi yang mirip dengan lembaga keuangan tertentu dan menawarkan iming-iming imbal hasil dari produk kripto tertentu, banyak korban langsung terpikat.

“13 dari 28 korban yang mencoba menarik dana dari aplikasi, mengaku menerima email yang menyebutkan bahwa mereka harus membayar pajak atas investasi yang dimilikinya. Pun sudah melakukan pembayaran pajak, para korban tetap tidak bisa menarik dananya kembali,” tulis laporan FBI.

Sementara, antara tanggal  4 Oktober 2021 sampai 13 Mei 2022, aksi penjahat dunia maya berhasil menggasak US$5,5 juta dari 4 korbannya. Pelaku kejahatan menggunakan nama entitas YiBit1, dengan modus yang sama dengan pelaku lainnya, yakni membuat aplikasi palsu.

YiBit sendiri merupakan bursa kripto yang tercatat dan terdaftar, namun sudah ditutup pada tahun 2018 lalu.

Sebelumnya, di periode 1 hingga 26 November 2021, penjahat siber yang beroperasi di bawah nama perusahaan Supayos alias Supay2 menipu dua korban dengan menginstruksikan targetnya untuk mengunduh aplikasi Supay dan membuat beberapa setoran dalam bentuk aset kripto ke dalam dompet yang sudah terhubung dengan akun Supay.

Supay sejatinya merupakan perusahaan pertukaran mata uang di Australia. FBI berkeyakinan bahwa para penjahat sengaja menggunakan nama yang sama dengan lembaga keuangan resmi untuk terlihat kredibel.

Investor Menghadapi Pencurian Langsung dan Penipuan Kripto

Masalah keamanan bagi industri kripto bukanlah hal sepele. Perkembangan bisnis kripto yang sepenuhnya mengandalkan koneksi digital sudah sepatutnya juga dibentengi dengan sistem keamanan yang canggih.

Tidak dapat dimungkiri, melonjaknya kapitalisasi pasar kripto di 2021 lalu menjadi gula-gula bagi pelaku kejahatan untuk masuk dan juga “menikmatinya”. Umumnya metode yang digunakan adalah dengan mencurinya secara langsung lewat peretasan, atau menggunakan skema tertentu untuk menipu calon korban agar menyerahkan aset kripto.

Di Australia, kejahatan yang melibatkan kripto juga terjadi secara masif. Polisi Federal Australia mengatakan penipuan aset kripto telah meroket selama pandemi. Selain itu, Pengawas Konsumen Australia menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kerugian sebesar 172% antara Januari dan November tahun lalu, dengan total dana yang hilang mencapai US$109 juta.

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori