Arthur Hayes mengatakan rencana The Fed untuk membantu Jepang mempertahankan yen akan mencetak likuiditas dolar baru, dan dia berpendapat likuiditas ini akan mendorong Bitcoin (BTC) reli.
Hayes adalah co-founder BitMEX dan kini mengelola kantor keluarga Maelstrom. Dia dikenal karena prediksi ekonomi makro yang menghubungkan kebijakan The Fed dan Treasury langsung ke harga aset kripto.
Bagaimana Aksi Penyelamatan Yen Menjadi Likuiditas Dolar
Mekanisme yang dia jelaskan memang nyata, meskipun skalanya belum bisa dipastikan. Mekanisme ini berjalan lewat Foreign and International Monetary Authorities (FIMA) Repo Facility, yaitu program The Fed yang memungkinkan pemerintah asing menjaminkan US Treasury mereka sebagai kolateral untuk pinjaman dolar jangka pendek, alih-alih menjual US Treasury itu langsung.
Menkeu Scott Bessent mengungkap Jepang memegang US$1,143 triliun dalam bentuk US Treasury. Dalam skenario Hayes, Tokyo melakukan repo sebagian dari cadangan tersebut untuk mendapat dolar, lalu menjual dolar itu untuk membeli yen, dan kemudian menginvestasikan yen ke obligasi serta saham domestik.
Neraca keuangan The Fed bertambah untuk mendanai setiap pinjaman ini, yang secara fungsional mirip seperti mencetak uang, meski The Fed menyebutnya sebagai fasilitas pinjaman, bukan quantitative easing (QE).
Hayes meyakini dolar-dolar ini tidak akan hanya beredar terbatas. BTC, menurut pandangannya, merupakan salah satu aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas di pasar.
Mengapa Neraca The Fed Penting untuk Bitcoin
Selama pandemi, neraca keuangan The Fed naik dari sekitar US$4,2 triliun menjadi hampir US$8,9 triliun pada awal 2022, meningkat lebih dari US$4,6 triliun akibat pembelian aset, menurut riset Federal Reserve.
Selama periode tersebut, harga Bitcoin bergerak dari di bawah US$10.000 ke rekor tertinggi mendekati US$69.000 pada November 2021. Hayes menganggap periode ini sebagai pola acuan.
Ada satu lapisan tambahan. Yen adalah mata uang utama termurah di dunia untuk pendanaan, sehingga trader meminjam yen dengan biaya rendah untuk membeli aset lain. Sebuah lonjakan mendadak yen memaksa trader menutup posisi mereka dengan cepat, dan hal ini pernah menekan saham dan aset kripto sekaligus pada Agustus 2024.
Hayes menilai penyelamatan via FIMA memungkinkan unwind terjadi secara bertahap. Sebaliknya, kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang tajam justru berisiko mengulangi guncangan tahun 2024, dan dia bilang jalur FIMA lebih bersahabat untuk BTC.
Dari Sisi Administrasi Masih Sesuai, Sejauh Ini
Bessent meminta The Fed untuk menaikkan batas pinjaman FIMA yang saat ini US$60 miliar. Permintaan ini muncul hanya beberapa hari setelah AS dan Jepang sama-sama melakukan intervensi untuk menopang yen. Ia menyebut fasilitas ini penting sebagai penyangga dan berharap batas pinjamannya bisa dinaikkan dalam beberapa bulan ke depan.
Tidak semua orang sepakat FIMA adalah alat yang tepat. Brad Setser, mantan pejabat Treasury, berpendapat fasilitas ini dibuat sebagai penyangga pinjaman di saat pasar mengalami tekanan, bukan untuk membiayai intervensi mata uang.
Penambahan batas ini juga harus mendapat persetujuan dari Federal Open Market Committee (FOMC). Ketua The Fed, Kevin Warsh, belum menentukan jadwalnya. Hayes menilai ekspansi ini hampir pasti terjadi, namun The Fed belum menyatakan demikian.
Newsletter Hayes sendiri mengungkapkan bahwa Maelstrom sudah memiliki posisi long pada Bitcoin, Ether (ETH), dan Ethena (ENA). Aset-aset inilah yang menurut dia akan terdorong oleh likuiditas tambahan ini.









