Lihat lebih banyak

Terbongkar! Bank Diam-diam Pantau Media Sosial Nasabah, DeFi Jadi Solusi Privasi? Begini Pendapat Para Ahli

3 mins
Oleh Josh Adams
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Beberapa bank terkemuka telah memperbarui kebijakan privasi mereka untuk memantau profil media sosial pelanggan.
  • Pemerintah Inggris tengah menginvestigasi bank-bank ternama lainnya yang menutup rekening berdasarkan pandangan politik nasabah.
  • DeFi, yang dibangun di atas teknologi blockchain, menawarkan sistem keuangan yang tahan sensor. Sehingga, semakin menarik bagi pengguna yang mengincar privasi dan inklusivitas.
  • promo

Sejumlah bank secara diam-diam telah mengubah kebijakan mereka untuk memungkinkan pemantauan profil media sosial para pelanggan. Tak ayal, perubahan ini pun menimbulkan ancaman serius terhadap privasi pengguna bank dan memberikan alasan tambahan untuk mempertimbangkan alternatif yang terdesentralisasi.

Menurut laporan Daily Telegraph pada tanggal 23 Juli, bank-bank besar telah mengubah kebijakan privasi mereka. Bank-bank terbesar di jalan utama (high street) Inggris dan beberapa bank lainnya menyisipkan bahasa yang tersembunyi ke dalam kebijakan privasi mereka yang memungkinkan pengumpulan informasi dari akun media sosial. Padahal dulunya, bank-bank ini sempat mengeklaim untuk menghindari pemantauan semacam itu di situs-situs seperti Facebook dan Twitter.

Bank Pantau Profil Media Sosial Nasabah

Bank-bank high street kini harus menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengungkapkan aksi pemantauan yang mereka lakukan terhadap nasabah. Terutama setelah Nigel Farage, mantan pemimpin Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP), menemukan bahwa bank eksklusif Coutts menutup rekeningnya. Apa alasannya? Ternyata, karena sang tokoh pro-Brexit ini punya pandangan yang tidak selaras dengan nilai-nilai bank tersebut.

Hal yang lebih mengejutkan, terdapat sebuah berkas dokumen yang disusun tentang Farage. Isinya meliputi contoh-contoh unggahannya di Twitter. Farage sendiri adalah sosok kontroversial di Inggris, yang memelopori kampanye berkepanjangan selama bertahun-tahun agar Inggris keluar dari Uni Eropa (UE).

Sementara itu, pemerintah Inggris kini tengah menginvestigasi tiga bank lainnya, yakni Metro Bank, Yorkshire Building Society, dan American Express, atas dugaan penutupan rekening berdasarkan pandangan politik pelanggan.

Namun, penutupan rekening bank tersebut nyatanya tidak selalu terjadi karena alasan politik. Pasalnya, ada pula pengguna crypto exchange Coinbase yang melaporkan bahwa Bank of America telah menutup akun mereka. Menurut dugaan, mungkin karena ingin menghindari tindakan berisiko tinggi.

Terungkapnya fakta bahwa sejumlah bank ini melakukan pengawasan terhadap nasabah mereka kemudian memberikan sejumlah alasan tambahan bagi beberapa orang untuk mempertimbangkan protokol decentralized finance (DeFi). Sebab, dari segi privasi, mereka mungkin menganggap DeFi sebagai pilihan yang lebih baik.

Seperti yang kita ketahui, DeFi sendiri dibangun di atas teknologi blockchain dan dirancang sebagai sistem yang “trustless.” Sistem ini mengandalkan smart contract untuk mengotomatisasi dan mengeksekusi transaksi dan perjanjian keuangan tanpa memerlukan perantara tepercaya.

Number of unique addresses that either bought or sold a Decentralized Finance (DeFi) asset worldwide from December 2017 to January 9, 2023.
Jumlah alamat unik yang memperdagangkan aset DeFi | Sumber: Statistica

DeFi: Alternatif yang Tahan Sensor, dengan Lebih Banyak Pilihan Privasi

Tak hanya itu, DeFi juga dirancang agar tahan sensor. Transaksi dan interaksi dalam lingkungan DeFi biasanya bersifat permissionless, artinya pengguna dapat berpartisipasi tanpa perlu persetujuan atau intervensi dari entitas pusat mana pun.

Sejumlah sumber mengungkapkan kepada BeInCrypto bahwa mereka prihatin dengan perubahan kebijakan bank-bank tersebut. Lebih lanjut, mereka juga berterus terang mengungkapkan bahwa perubahan kebijakan ini menyoroti manfaat dari DeFi.

Terkait hal ini, Elena Nadolinski, CEO Iron Fish Foundation, meyakini bahwa pengungkapan terbaru ini akan memperkuat jalur DeFi menuju masa depan keuangan yang terdesentralisasi, inklusif, dan berfokus pada privasi.

“Orang-orang semakin sering menggunakan DeFi sebagai alternatif atau pelengkap untuk kebutuhan perbankan mereka. Bertransaksi menggunakan USD, dan bahkan mendapatkan imbal hasil (yield) dalam USD (atau aset yang dipatok ke USD) kini menjadi sangat mudah. Bahkan untuk orang-orang di luar Amerika Serikat,” ujar Nadolinski.

Namun, seiring dengan pertumbuhan sektor decentralized finance, tekanan bagi industri ini untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma keuangan juga semakin meningkat. Saat ini, DeFi menghadapi tekanan yang semakin tinggi untuk mengatasi aksi pencucian uang dan berperilaku seperti bank-bank tradisional.

Faktanya, ada sebuah RUU bipartisan baru di AS yang akan menuntut investor besar dalam protokol DeFi untuk bertanggung jawab dalam pemantauan keuangan. Di bawah undang-undang ini, kita tidak akan dapat menghindari tanggung jawab terkait pencucian uang hanya karena kita adalah seorang investor dan bukan kepala dari sebuah dana atau crypto exchange.

Sementara itu, para pejabat AS juga telah berulang kali mengecam DeFi karena memungkinkan para penjahat mencuci hasil keuntungan ilegal mereka.

Bagaimana pendapat Anda tentang efek perubahan kebijakan privasi bank terhadap DeFi? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan Web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori