Lihat lebih banyak

Apa Itu CBDC? Pengertian Mata Uang Digital dan Cara Kerjanya

8 mins
Diperbarui oleh Hanum Dewi
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Perkembangan teknologi blockchain memiliki potensi untuk implementasi pada sektor keuangan, apalagi melihat tingginya minat masyarakat Tanah Air masuk ke pasar aset kripto. Bank Indonesia (BI) saat ini sedang melakukan kajian mengenai mata uang digital bank sentral, atau central bank digital currency (CBDC).

Teknologi blockchain yang merupakan pembentuk cryptocurrency memang sangat penting untuk pengembangan industri keuangan. Sebab, teknologi distributed ledger dalam blockchain bisa mempermudah, mempermurah, mempercepat proses settlement. Saat ini, teknologi transfer keuangan yang paling murah dan cepat hadir melalui layanan RTGS pada perbankan. Baca lebih lanjut mengenai CBDC dan cara kerjanya dalam artikel ini.

Pengertian CBDC

CBDC adalah singkatan dari Central Bank Digital Currency, yaitu mata uang digital yang diterbitkan dan dikendalikan bank sentral suatu negara. Konsep mata uang digital ini mirip dengan mata uang kripto atau cryptocurrency, hanya saja harganya mengacu pada mata uang kartal negara tersebut. Masyarakat dapat menggunakan uang digital sebagai alat pembayaran yang sah. Maka, secara sederhana CBDC adalah bentuk digital dari uang kertas dan uang koin suatu negara.

Apa bedanya CDBC ini dengan cryptocurrency seperti Bitcoin, Ethereum, dll.? CDBC menggunakan private blockchain, identitas pengguna terikat dengan akun bank miliknya. Lalu CDBC berfungsi sebagai alat pembayaran seperti biasa dan Bank Sentral dapat mengatur jumlah pasokan dan jaringannya. Sedangkan cryptocurrency menggunakan public blockchain, dapat menggunakan identitas anonim, dan bertujuan spekulasi. Sistem pembayaran cryptocurrency tergantung regulasi di tiap negara. Kemudian, tidak ada otoritas yang mengatur mata uang kripto, selain pasar jaringan kripto tersebut.

Di Tanah Air, Bank Indonesia akan mengeluarkan uang digital atau rupiah digital. Sebagai pengatur kebijakan moneter, sangat mungkin BI melarang transaksi anonim menggunakan CDBC, seperti yang terjadi pada beberapa cryptocurrency. Dalam merumuskan Rupiah Digital sebagai CDBC, BI harus memperhatikan aspek legalitasnya karena UU No.7 Tahun 2011 tentang Mata Uang hanya mengatur mata uang yang berbentuk rupiah. Sementara itu, perlu ada perubahan atau penambahan terkait definisi rupiah digital, macam rupiah, ciri-ciri, hingga keamanan informasi data rupiah digital.

Cara Kerja CBDC

Mata uang virtual bank sentral bekerja dengan cara yang sama seperti mata uang fiat konvensional. Ini seperti sistem pembayaran digital yang memungkinkan pengguna mengirim dan menerima uang secara instan di mana saja. Namun, mata uang virtual yang didukung bank sentral bukan hanya alat pembayaran tetapi juga menyimpan nilai mata uang fiat.

Apa yang membedakan CBDC dari metode pembayaran digital? Ini hanyalah hubungan antara mata uang dan teknologi blockchain. Bank sentral memanfaatkan teknologi ledger terdistribusi untuk membuat token digital yang mewakili nilai uang fiat.

Metode yang berjalan dalam mata uang digital adalah pegging, yang mengikat token ke uang fiat pada 1:1. Akibatnya, setiap CBDC menunjukkan nilai satu unit mata uang fiat. Karena koin ini sangat bergantung pada mata uang fiat, nilainya bergantung pada kebijakan moneter negara.

Potensi CBDC sebagai Uang Digital

Menurut Bank Indonesia dan International Monetary Fund (IMF), CBDC memiliki beberapa potensi manfaat, termasuk:

  • Meningkatkan efisiensi sistem pembayaran: CBDC dapat berguna untuk melakukan transaksi secara cepat dan murah, baik secara domestik maupun internasional. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dan mengurangi biaya transaksi.
  • Memperkuat stabilitas keuangan: Mata uang digital ini dapat membantu memperkuat stabilitas keuangan dengan menyediakan mata uang yang aman dan terpercaya. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko krisis keuangan.
  • Meningkatkan inklusi keuangan: Lalu, uang digital dapat membantu meningkatkan inklusi keuangan dengan menyediakan akses ke layanan keuangan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak memilikinya. Caranya, adalah dengan membuat akses bagi masyarakat agar lebih mudah menjangkau mata uang digital ini.
  • Melindungi konsumen dari penipuan dan pencurian identitas: CBDC dapat membantu melindungi konsumen dari penipuan dan pencurian identitas dengan menggunakan teknologi yang aman dan terpercaya. Salah satu penerapannya adalah dengan menggunakan teknologi blockchain atau teknologi lain yang dapat memastikan keamanan data.

Dampak ke Industri

Mari kita andaikan antarbank sentral penerbit mata uang digital menjalin kesepakatan dalam pemrosesan transaksi lintas negara dengan menggunakan CBDC melalui mekanisme swap. Maka, ketergantungan terhadap sistem SWIFT dengan US Dollar sebagai mata uang utamanya dalam pemrosesan transaksi keuangan lintas negara akan makin berkurang. Hal ini tentu memberi keuntungan tersendiri bagi DJPb dalam melakukan pembayaran terhadap tagihan-tagihan dalam valuta asing jika menggunakan Rupiah digital. Terutama, keungtungannya dari sisi kecepatan pemrosesan dan efisiensi biaya transfer karena transaksi langsung mengalami proses antar Bank Sentral (direct swapping digital currency).

Jika Indonesia menerapkannya, rupiah digital kemungkinan bakal akan menjadi kompetitor e-wallet lainnya seperti OVO, DANA dan Gopay. Penerapan CBDC di Indonesia pun lebih cocok menggunakan mekanisme hybrid dan melakukan pembatasan jumlah nominal e-wallet sehingga tetap menjaga eksistensi bank konvensional. Kemudian, bila dibandingkan dengan e-money saat ini, CBDC lebih aman mengingat berbasis blockchain dan dapat dilacak karena melekat pada akun perorangan. Namun, masyarakat tentu perlu menyesuaikan kondisi, seperti proses konversi mata uang digital negara lain dan pihak yang berwenang melakukan penerbitan e-wallet.

Risiko CBDC

Mata uang digital berpotensi meningkatkan efisiensi, keamanan, dan aksesibilitas sistem keuangan. Namun, ada juga beberapa potensi risiko yang terkait dengan CBDC, seperti:

  • Risiko keamanan siber: dapat rentan terhadap serangan siber, yang dapat menyebabkan kerugian finansial atau pelanggaran data.
  • Risiko inflasi: Jika CBDC tidak dikelola dengan baik, hal itu dapat menyebabkan inflasi.
  • Masalah privasi: dapat digunakan untuk melacak kebiasaan belanja orang, yang dapat meningkatkan masalah privasi.
  • Gangguan pada sistem keuangan: Jika diadopsi secara luas, mereka dapat mengganggu sistem keuangan tradisional, termasuk bank dan pemroses pembayaran.
  • Kontrol pemerintah: Bank sentral dapat menggunakan CBDC untuk melacak dan mengontrol pengeluaran masyarakat, yang dapat menjadi ancaman terhadap kebebasan individu.

Potensi risiko CBDC masih perlu eksplorasi lebih lanjut, dan sejumlah negara masih mempertimbangkannya dengan cermat sebelum menerapkan kebijakan tersebut.

Contoh Proyek CBDC yang Sudah Berjalan di Dunia

Menurut data dari atlanticcouncil, sudah ada 130 negara, mewakili 98% dari PDB global, sedang menjajaki CBDC. Pada Mei 2020, hanya 35 negara yang mempertimbangkan CBDC. Tertinggi baru 64 negara berada dalam fase eksplorasi lanjutan (pengembangan, percontohan, atau peluncuran).

Lalu, 19 dari negara-negara G20 kini berada dalam tahap lanjutan pengembangan CBDC. Dari jumlah tersebut, 9 negara sudah dalam uji coba. Hampir setiap negara G20 telah membuat kemajuan yang signifikan dan menginvestasikan sumber daya baru dalam proyek-proyek ini selama enam bulan terakhir.

Sebagai contoh, dua negara awal yang sudah meluncurkan digital currency secara resmi yaitu Jamaica dengan JAM-DEX dan Bahama dengan Sand Dollar. Selain itu, 12 negara sudah mengembangkan dan menguji CBDC di lapangan secara riil dalam bentuk pilot seperti China, Prancis, Kanada, Nigeria dan Arab. Situs ini memantau perkembangan CDBC di dunia.

Sejumlah negara di dunia sedang mengembangkan dan menguji CBDC sebagai mata uang digital dari bank sentral
Sejumlah negara di dunia sedang mengembangkan dan menguji CBDC sebagai mata uang digital dari bank sentral

Contoh implementasi CBDC adalah e-CNY atau Digital Yuan. PBOC (Bank Sentral China) mengoperasikan dan mengadopsi model manajemen terpusat dan sistem operasional dua tingkat. Digital Yuan merupakan substitusi utama dari kas dalam peredaran (M0) dan akan berdampingan dengan fisik RMB dan mengutamakan untuk melayani permintaan pembayaran ritel domestik.

e-CNY memiliki karakteristik antara lain kredit legal tanpa batas, penggabungan akun yang dinamis, anonimitas yang dapat mengikuti kendali bank sentral dan tanpa bunga serta biaya pertukaran. Peredaran e-CNY menggunakan proses dua tahap yang mentransfer e-CNY dari PBOC ke bank komersial. Kemudian bank akan mendistribusikan mata uang langsung ke konsumen. Masyarakat atau pengguna pun dapat melakukan proses transaksi secara online dan offline.

IMF Managing Director Kristalina Georgieva menyimpulkan sejumlah pelajaran berharga dari pengalaman berbagai negara dalam mengembangkan CBDC. Pertama, strateginya harus sesuai dengan lanskap ekonomi keuangan masing-masing negara (not one size fits all). Selanjutnya, kestabilan sistem keuangan dan perlindungan privasi menjadi poin penting dalam mendesain CBDC. Terakhir, kebijakan yang komprehensif serta seluruh pemangku kepentingan perlu mendukung pengembangan CBDC.

Perkembangan Rupiah Digital

Bank Indonesia melihat dari sisi moneter tidak akan ada perbedaan dengan kondisi saat ini di masyarakat. Menurut BI, mata uang digital mirip seperti menggunakan uang kartal (Uang kertas dan logam) dan Uang yang dalam rekening. Rupiah digital juga nantinya memiliki kenyamanan seperti dalam penggunaan Digital Banking, Uang Elektronik, dan Dompet Elektronik. Central Bank Digital Currency (CBDC) memberikan kemudahan dalam transformasi digital dari sisi masyarakat. Sedangkan dari sisi Bank Sentral, pengelolaannya akan lebih mudah karena secara terdesentralisasi.

Bank Indonesia hingga saat ini masih terus mengkaji dan melakukan asesmen guna melihat potensi mata uang digital dengan perekonomian Indonesia. CBDC dapat berimplikasi pada perbedaan desain dan pemilihan arsitektur serta mitigasi risiko seperti halnya teknologi Blockchain yang ada pada Cryptocurrency.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan tiga aspek utama terkait penerbitan CBDC. Pertama, pentingnya penerbitan CBDC sebagai salah satu mandat bank sentral dalam proses penciptaan uang digital. Hal ini mencerminkan pilar kedaulatan suatu negara dan sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Kedua, distribusi CBDC melalui sistem wholesale dan/atau ritel dengan mengadopsi Distributed Ledger Technology (DLT).

Ketiga, terdapat tiga prasyarat penerbitan CBDC. Prasyarat ini terdiri dari pengembangan conceptual design yang pertama. Lalu, membangun infrastruktur yang mengintegrasikan sistem pembayaran dengan pasar uang secara Integrated, Interconnected, Interoperability (3I). Selanjutnya, harus ada sinergi bersama bank sentral lainnya mengembangkan platform digital CBDC terbaik yang mendukung ekspansi transaksi antar negara. Ke depan, Bank Indonesia terus mendorong inisiasi pengintegrasian sistem pembayaran antar negara utamanya regional ASEAN+5. Saat ini, sudah terjalin kerjasama dengan Thailand dan Malaysia melalui dukungan penerapan QR Cross Border dan Local Currency Settlement (LCS).

Bank Indonesia meluncurkan white paper digital rupiah sebagai pedoman CBDC Indonesia
Bank Indonesia meluncurkan white paper digital rupiah sebagai pedoman CBDC Indonesia

Whitepaper Rupiah Digital

Bank Indonesia pada Pertemuan Tahunan 2022 merilis white paper Digital Rupiah yang menguraikan rumusan CBDC Indonesia dengan mempertimbangkan asas manfaat dan risiko. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut proyek pengembangan rupiah digital sebagai satu-satunya alat pembayaran digital yang sah di Indonesia bernama Proyek Garuda.

Whitepaper ini menjelaskan konfigurasi desain Digital Rupiah yang terintegrasi dari ujung ke ujung, fitur desain Digital Rupiah yang memungkinkan pengembangan model bisnis baru. Selain itu, dokumen juga membahas arsitektur teknologi Digital Rupiah, serta dukungan perangkat regulasi dan kebijakan terhadap implementasi desain Digital Rupiah.

Dalam white paper rupiah digital, BI menjelaskan bahwa desain CBDC memainkan peran instrumental bagi keberhasilan implementasinya. BI meyakini bahwa perkembangan mata uang digital bank sentral di masa depan bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan.

Desain rupiah memprioritaskan beberapa hal berikut, yaitu:

  1. Kepentingan publik dengan bank sentral; mendukung inklusi keuangan melalui fitur offline di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar);
  2. Berbiaya rendah dan pemanfaatan granularitas data;
  3. Aspek integrasi, interoperabilitas, dan interkoneksi dari rupiah digital.

Adapun roadmap rupiah terdiri dari 3 tahap. Pertama, wholesale CBDC (w-CBDC) untuk model bisnis penerbitan, pemusnahan, dan transfer antar bank dengan rupiah digital. Kedua, akan diperluas menjadi pengembangan model bisnis operasi moneter dan pasar uang. Ketiga, integrasi W-CBDC dengan retail CBDC (r-CBDC) secara end-to-end.

Kesimpulan

CBDC atau mata uang digital bank sentral menjadi sebuah bentuk mata uang di masa depan. Menggunakan teknologi blockchain, CBDC bisa memberikan banyak manfaat meskipun tetap ada risikonya. Sebagian besar negara-negara di dunia ini sedang mengeksplorasi untuk penerapan uang digital ini dan sudah ada beberapa yang meluncurkannya resmi. Indonesia sendiri sedang dalam tahap eksplorasi dan Bank Indonesia juga telah menerbitkan white paper yang menjadi fondasi bagi perkembangan Rupiah Digital.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa itu mata uang digital?

Apa itu CBDC?

Apa bedanya CDBC ini dengan cryptocurrency seperti Bitcoin, Ethereum, dan mata uang kripto lain?

Apa yang membedakan CBDC dari metode pembayaran digital?

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

foto-profil-hanum.png
Hanum Dewi
Hanum Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik. Melengkapi kemampuan menulisnya, dia juga selalu mengikuti tren dan perkembangan terbaru di industri cryptocurrency, DeFi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori