Lihat lebih banyak

Mengenal Layer 0, Akankah Jadi Solusi Trilema Blockchain?

6 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Selama 3 tahun terakhir, ekosistem mata uang kripto telah mengalami pertumbuhan eksplosif dalam proyek-proyek baru dan inovatif. Nah, saat ini muncul konsep baru bernama Layer 0, yang digadang-gadang bisa membuat industri kripto bisa lebih berkembang lagi. Bahkan, bisa membuat orang percaya bahwa ada solusi untuk trilema blockchain

Meski muncul belakangan, Layer 0 berdiri di belakang Layer 1, yang berfungsi sebagai infrastruktur bagi pengembang. Layer 1 sendiri di dalam blockchain memiliki fungsi untuk membangun dan meluncurkan aplikasi terdesentralisasi atau Dapp. Aplikasi di dalam blockchain ini mengikuti aturan konsensus yang mendasari blockchain host mereka.

Layer 0 berbeda dengan Layer 1 di blockchain Ethereum dan Solana, yang mendukung pengembangan inovasi tanpa batas dalam produk berbasis crypto. Untuk menuju hal tersebut, infrastruktur blockchain perlu selalu meningkat secara konstan, sehingga bisa mendukung aplikasi yang aman, scalable, dan terdesentralisasi. 

Bagaimana Layer 0 dapat mendorong pengembangan inovasi hingga menjadi solusi bagi trilema blockchain? Mari simak penjelasan tentang Layer 0 dalam artikel ini. 

Ingin mendapatkan ulasan menarik terkait proyek blockchain terbaru? Bergabunglah dengan Komunitas Trading BeInCrypto di Telegram: baca ulasan dan analisis blockchain, tanyakan dan dapatkan jawaban atas semua pertanyaan kamu dari trader PRO. Gabung sekarang!

Mengenal Layer dalam Blockchain

Sebelum menyelami lebih dalam apa itu Layer 0, mari pahami dulu lapisan atau layer-layer dalam blockchain. Penting untuk memahami bagaimana layer ini bekerja sebelum kita dapat menjelaskan apa itu Layer 0.

Layer 1

Blockchain dan protokol dapat terbagi menjadi beberapa lapisan. Layer 1 adalah lapisan blockchain yang tidak bergantung pada blockchain lain untuk berfungsi. Ethereum, Bitcoin, Litecoin, Ripple, dan Solana adalah contoh ideal dari blockchain Layer 1. Jaringan ini bekerja dengan jaringan mereka sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Pada blockchain Layer 1, pengembang lain dapat membuat aplikasi. Ini membuat jenis pengembang ini bergantung pada blockchain. Oleh karena itu, semua aplikasi yang berjalan di blockchain tidak termasuk dalam kategori Layer 1.

Layer 2

Pengembang telah lama mencoba memecahkan masalah skalabilitas. Mereka dapat membangun solusi skalabilitas Layer 2 untuk itu. Ini adalah protokol yang berjalan di atas blockchain yang ada dan memastikan lebih banyak transaksi dapat diproses. Hasilnya adalah transaksi dapat divalidasi lebih murah dan lebih cepat.

Polygon adalah solusi skalabilitas Layer 2 populer yang berjalan di blockchain Ethereum. Solusi ini memastikan bahwa transaksi diproses dengan cepat di sidechain Polygon. Setelah itu, jawaban transaksi tersimpan di blockchain Ethereum. Oleh karena itu, Polygon tidak dapat bekerja secara independen di luar Ethereum dan sepenuhnya bergantung pada blockchain layer 1 ini.

Trilema Skalabilitas Blockchain

Menyambung sebelumnya, trilemma skalabilitas adalah serangkaian keputusan mendasar antara desentralisasi, kecepatan/skalabilitas, dan keamanan. Pengembang harus mengambil keputusan saat merancang blockchain dan membuat aturan untuk tata kelola on-chain. Dalam pengembangan blockchain, pengembang mau tak mau hanya bisa memilih dua dari tiga aspek tersebut dan mengorbankan satu. Makanya, orang menyebut kondisi ini trilema.

Dalam hal ini, contoh utamanya adalah Bitcoin. Ketika blockchain yang ia miliki telah mengoptimalkan desentralisasi dan keamanan, Bitcoin pun telah menawarkan skalabilitas.

Namun, yang paling penting yaitu, saat ini tidak ada satu pun kripto yang mampu memaksimalkan ketiga fitur tersebut. Dengan kata lain, cryptocurrency memprioritaskan dua atau tiga di antaranya dan mengorbankan fitur yang lainnya.

Sangat sulit, jika bukan tidak mungkin, untuk mencapai desentralisasi sempurna tanpa mengorbankan skalabilitas, dan sebaliknya. Ini terutama berlaku pada blockchain monolitik yang membuat semua fungsi penting, seperti eksekusi transaksi, konsensus, dan ketersediaan data. Apalagi karena pengelolaannya oleh satu jaringan, maka akan meningkatkan kemungkinan kemacetan dan membuatnya jauh lebih sulit untuk skalabilitas.

Solusi untuk trilemma skalabilitas adalah mendelegasikan tanggung jawab utama untuk 3 fungsi ini ke blockchain independen yang berbeda. Desain ini memastikan bahwa rantai eksekusi dapat bekerja optimal untuk menangani dapp TPS tinggi, seperti DEX atau game play-to-earn tanpa mengkhawatirkan desentralisasi. 

Blockchain kedua kemudian dapat bekerja secara optimal untuk desentralisasi dan berfungsi sebagai lapisan konsensus akhir untuk rantai eksekusi. Sehingga, memungkinkan penarikan dan melabuhkan datanya.

Dalam hal skalabilitas, jaringan layer 0 dapat membantu skala blockchain dengan meningkatkan tingkat transaksi. Sementara kecepatan transaksi biasanya diukur dalam TPS (transaksi per detik), tingkat transaksi melihat jumlah total transaksi yang dapat ditangani jaringan pada satu waktu.

Permasalahan dalam Layer 1

Karena permintaan Dapps meningkat dan lebih banyak modal mengalir ke ruang untuk mendukung pengembangan, jaringan Layer 1 mulai terbebani. Jaringan ini sekarang berjuang untuk memenuhi kebutuhan pengembang dan pengguna akhir. Parahnya, banyak yang memiliki pandangan berlawanan tentang Dapps yang seharusnya memprioritaskan skalabilitas, keamanan dan desentralisasi.

Pembangunan jaringan Layer 1 menggunakan arsitektur monolitik. Ini berarti bahwa lapisan eksekusi, konsensus, dan ketersediaan data semuanya berfungsi dalam satu jaringan blockchain. Desain bertumpuk ini memberi tekanan pada sistem dan menghasilkan berjubelnya kebutuhan akan blockchain yang terdiri dari desentralisasi untuk keamanan, atau skalabilitas untuk desentralisasi.

Selain itu, banyak masalah juga muncul karena pengembang Dapp memiliki kurangnya kontrol atas infrastruktur dasar yang mereka bangun. Naiknya biaya gas di jaringan Ethereum membuat penggunaan semua Dapp Ethereum terlalu mahal. Sementara downtime tak terduga di jaringan Solana juga membuat semua Dapp di Solana kelimpungan.

Pengembang Dapp juga harus berkompromi dalam cara mereka mendesain dapp mereka agar tetap kompatibel dengan jaringan Layer 1 ini. Namun, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi mekanisme konsensus yang berbeda atau bereksperimen secara bebas dengan model insentif token. Sebab, konsensus adalah fungsi utama dari lapisan infrastruktur Layer 1. 

Ketergantungan yang berlebihan pada Layer 1 dan pertukaran yang sulit karena trilemma skalabilitas hanya dapat sembuh dengan menciptakan infrastruktur dasar baru. Nah, infrastruktur dasar ini memberdayakan pengembang untuk meluncurkan blockchain independen mereka sendiri yang dapat secara optimal bekerja untuk berbagai aspek trilemma skalabilitas.

Apa itu Blockchain Layer 0?

Layer 0 (L0) adalah jenis protokol yang memungkinkan pengembang untuk meluncurkan beberapa blockchain Layer 1 dan mengutamakan interoperabilitas. Perancangan protokol ini dapat masing-masing melayani tujuan tertentu dan memenuhi 1 atau 2 dimensi trilemma skalabilitas, dan tidak harus dengan ketiganya.

Dengan lapisan 0, berbagai jaringan Layer 1 nantinya dapat berkomunikasi satu sama lain sehingga pengguna akhir dapat memiliki pengalaman menggunakan satu blockchain. Padahal, mereka sebenarnya menggunakan banyak blockchain.

Jaringan Layer 0 memiliki kit pengembangan perangkat lunak atau SDK yang memungkinkan pengembang meluncurkan blockchain mereka sendiri. Hal itu bernama Layer 1 atau L1 atau sidechain, yang terhubung ke mainchain L0 tetapi beroperasi secara independen.

Konsep ini adalah sebuah infrastruktur untuk meluncurkan blockchain baru seperti jaringan Bitcoin atau jaringan Ethereum. Contoh Layer 0 termasuk Polygon, Cosmos dan Polkadot. Setiap L0 hadir dengan implementasi dan pendekatan uniknya sendiri bagi pengembang untuk meluncurkan blockchain mereka sendiri.

Layer 0 memungkinkan berbagai lapisan blockchain saling berkomunikasi

Bagaimana Cara Kerja Layer 0?

Tiga komponen utama dari protokol Layer 0 adalah:

Main Chain: Yang biasanya berfungsi sebagai blockchain utama tempat data transaksi dari berbagai jaringan L1 dicadangkan.

Sidechains: Blockchain layer 1 independen yang memiliki kumpulan node validatornya sendiri dan dapat menjalankan mekanisme konsensusnya sendiri. Jaringan ini tidak bergantung pada main chain untuk keamanan, tetapi akan sering berbagi keamanan main chain karena biasanya yang terbesar dan paling terdesentralisasi.

Berbagi keamanan dapat terjadi dengan berbagai cara. Misalnya, meminta pengguna untuk mempertaruhkan token L0 untuk menjadi validator di L1. Artinya, mereka dapat kehilangan taruhan L0 dan taruhan L1 mereka jika mereka mencoba mengirimkan transaksi penipuan.

Dalam kasus lain, L1 secara berkala akan membagikan status jaringannya, catatan terakhir saldo akun dan riwayat transaksi. Pada saat yang sama, L0 menyimpan cadangan di jaringan yang lebih aman jika kode di L1 pernah disusupi.

Cross-chain transfer protocol: Mekanisme yang memungkinkan token dan bentuk data lainnya untuk mengalami transfer antar jaringan dengan cara yang aman dan trustless.

Kesimpulan Layer 0

Teknologi Blockchain terdiri dari beberapa lapisan atau layer. Secara populer diskusi yang ada biasanya tentang Layer 1 dan Layer 2, sementara ada lapisan lain yang mungkin jauh lebih penting: Layer 0. 

Blockchain Layer 0 menangani komunikasi antar blockchain. Ini meningkatkan interoperabilitas dan memastikan bahwa pengembang dapat dengan mudah, cepat, dan mudah mengatur lingkungan blockchain baru. Keuntungannya adalah, teknologi ini memungkinkan pengembang untuk lebih fokus pada fungsionalitas aplikasi dan proyek mereka.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu Layer 0 kripto?

Apa contoh proyek kripto layer 0?

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

foto-profil-hanum.png
Hanum Dewi
Hanum Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik. Melengkapi kemampuan menulisnya, dia juga selalu mengikuti tren dan perkembangan terbaru di industri cryptocurrency, DeFi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori