Lihat lebih banyak

Apa Perbedaan Web2 dan Web3? Begini Penjelasannya

9 mins
Oleh Eduard Banulescu
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Dengan munculnya beberapa perusahaan teknologi besar yang turut serta memasuki industri Web3, sektor itu pun semakin sering menjadi bahan pembicaraan. Tapi, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Web3? Apa bedanya dengan web2 yang merupakan generasi internet yang kita gunakan saat ini?

Dalam panduan ini, kita akan mendiskusikan tentang detail-detail yang perlu kamu ketahui antara web2 vs web3, termasuk perbedaan di antara keduanya. Kami juga akan mencoba memprediksi seperti apa tampilan web3 dan melihat bagaimana sektor tersebut akan secara intrinsik terkait dengan teknologi kripto dan blockchain.

Apa itu Web1 atau Web 1.0?

web2 vs web3

Internet merupakan inovasi teknologi yang tentunya sudah tidak diragukan lagi telah mengubah dunia. Namun, sebelum sampai di titik itu, internet harus melalui proses evolusi. Tahap perintis evolusi internet disebut sebagai Web 1.0.

Dalam berbagai aspek, Web 1.0 merupakan bentuk Internet yang kurang maju. Web 1.0 pada dasarnya adalah metode untuk menyampaikan konten dan menampilkan informasi tentang apa yang sekarang kita sebut situs web.

Use Case Web1 dan Contohnya

Secara perlahan-lahan, situs web seperti MySpace atau LiveJournal, memungkinkan lebih banyak pengguna reguler untuk menghasilkan konten mereka sendiri. Namun, tidak ada batasan yang jelas antara Web 1.0 dan Web 2.0. Lagi pula, itu bukan istilah resmi, dan tidak ada inovasi teknologi yang terlihat menonjol dan memisahkan keduanya.

Namun, secara garis besar, Web 1.0 melibatkan lebih sedikit campur tangan perusahaan. Contohnya seperti iklan yang sangat jarang dan dilarang di banyak situs web. Internet saat itu juga sebagian besar terdiri dari halaman yang statis dan beroperasi di server web yang hosted oleh ISP. Sedangkan, informasinya biasanya mereka dapatkan dari sumber pusat. Sehingga, kewenangan untuk mengubah konten yang diterbitkan jauh lebih sedikit. Selain itu, desain situs webnya juga tidak bisa kita ubah secara signifikan.

Tahukah Kamu?

Selama era Web 1.0, situs web biasanya dibuat hanya untuk dibaca.

Kekurangan Web1

Era yang disebut Web 1.0 ini hanya memungkinkan sedikit keterlibatan publik. Keterlibatan tersebut merujuk pada konten yang ditambahkan di Internet dan juga mengubah desain halaman web.

Sebagai contohnya, tidak ada halaman web seperti Wikipedia yang mendorong partisipasi publik. Selain itu, blog pribadi juga jauh lebih populer sebelum era Facebook dan Twitter muncul. Namun, jenis konten yang dapat pengguna tambahkan umumnya terbatas.

Berikutnya, yang terakhir, pengguna hanya dapat mengunduh aplikasi yang mereka gunakan di Web 1.0. Dalam hal ini, mereka tidak bisa melihat bagaimana aplikasi itu bekerja atau mengubahnya. Kode sumbernya juga jarang tersedia untuk umum.

Apa itu Web2 atau Web 2.0?

web2
Web2 adalah tahap internet yang lebih interaktif dari Web1

Web 2.0 atau web2 adalah istilah yang mulai digunakan di era dot-com bubble. Hadirnya Web2 dimaksudkan untuk merepresentasikan transisi ke era Internet yang lebih canggih.

Campur tangan perusahaan di Web 2.0 juga lebih banyak. Sebab, tidak seperti situs Web 1.0, Web 2.0 justru seringkali punya rencana yang dapat menghasilkan pendapatan untuk penggunanya. Mereka juga memungkinkan interaksi pengguna yang lebih besar dengan platform mereka. Sebagian besar perusahaan baru yang paling populer bahkan masih bisa tetap eksis bahkan setelah pasar anjlok.

Use Case Web2 dan Contohnya

Situs web yang disebut “Web 2.0” ini lebih canggih daripada Web 1.0. Misalnya, pengguna situs ini dapat mengubah desainnya dengan lebih detail. Selain itu, banyak aplikasi di web versi baru ini yang menggunakan kode sumber terbuka. Hal ini berarti bahwa siapa pun yang tahu cara menggunakan teknologi dengan tepat dapat melihatnya, mempelajarinya, dan bahkan memodifikasinya.

Meskipun banyak perusahaan yang mendominasi Internet dalam Web 2.0, situs baru mereka dapat memberi pengguna keleluasaan yang lebih untuk mengungkapkan pendapat mereka. Situs seperti Amazon, misalnya; mengizinkan pengguna untuk menambahkan ulasan pada produk yang dijual di situs tersebut. Wikipedia juga mengizinkan siapapun untuk mengubah entri di situs mereka yang tampak seperti ensiklopedia. Selain itu, orang-orang juga dapat berbicara satu sama lain dalam setting publik yang lebih luas daripada di platform yang sebelumnya melalui situs media sosial yang lebih baru, seperti halnya Facebook dan Twitter.

Kekurangan Web2

Meskipun ada beberapa kelebihan dalam transisi dari Web 1.0 ke Web 2.0 ini, kita masih bisa menemukan kekurangan yang ada didalamnya.

Pertama-tama, elemen korporat yang membantu namun juga berpotensi menghambat evolusi Internet. Di satu sisi, platform dengan pembiayaan yang besar seperti Twitter atau Facebook dapat berinvestasi dalam mengembangkan ide-ide mereka. Tapi, di sisi lain, mereka sekarang punya kewenangan untuk menyensor informasi yang mereka anggap bertentangan dengan pedoman komunitas.

Selain itu, server yang digunakan oleh berbagai aplikasinya juga tidak mudah digunakan pengguna awam. Ditambah lagi, bila pasar mengalami keadaan yang buruk, mereka juga akan secara finansial mempengaruhi orang-orang yang mata pencahariannya bergantung pada sektor itu.

Lalu, yang terakhir, layanan pembayarannya juga mengharuskan penggunanya untuk mematuhi pedoman tertentu. Penyedia layanan dapat secara sepihak memilih untuk menolak pembayaran, jika mereka merasa bahwa standar tersebut terpenuhi.

Singkatnya, Web 2.0 memberikan kita lebih banyak cara untuk menggunakan teknologi. Tapi, karena mereka disediakan oleh perusahaan tertentu, maka kita juga harus mematuhi kebijakan dan peraturan yang mereka tetapkan.

Apa itu Web3 atau Web 3.0?

web3

Memang benar bahwasanya web3 atau Web 3.0 adalah dua kata kunci yang sering masuk dalam berita teknologi baru-baru ini. Namun, sebenarnya ada alasan yang tersendiri yang membuat kita mempercayai hype yang muncul di sekitarnya. Web 3.0 sendiri menjanjikan bentuk Internet yang lebih kuat, lebih aman, dan terdesentralisasi. Di samping itu, Web 3.0 merupakan iterasi dari Internet yang nantinya akan menjadi versi yang lebih maju dari apa yang kita sebut Web 2.0 sekarang ini.

Selain itu, istilah web3 sendiri sering kali digunakan untuk membahas sejumlah besar aplikasi online yang berbeda. Banyak orang juga menganggap bahwa co-founder Ethereum, yaitu Gavin Wood, adalah yang pertama kali menggunakan istilah “web3” pada tahun 2014. Namun, kebanyakan orang juga setuju bahwa elemen yang akan membuat semua aplikasi web3 bekerja sama adalah penggunaan teknologi blockchain yang digunakan untuk membuat mereka terdesentralisasi.

Kamu juga bisa memahami Web 3.0 dengan membandingkannya dengan versi Internet saat ini. Untuk sekarang ini, pengguna internet umumnya mengakses informasi yang hosted pada server perusahaan pihak ketiga. Kemudian, aplikasi baru pun dibuat dan ditambahkan ke server perusahaan lain dengan cara yang serupa, seperti halnya Google Cloud atau Amazon Web Services (AWS). Sedangkan web3 idealnya akan memungkinkan pengguna internet untuk mengembangkan dan memelihara dApps (decentralized apps) mereka sendiri.

Tentunya, lebih umumnya lagi, web3 juga digunakan di media-media populer untuk menunjukkan bentuk teknologi internet futuristik. Terkait hal ini, kamu mungkin sudah pernah mendengar tentang berbagai perusahaan yang mempersiapkan kedatangan internet generasi baru yang lebih baik itu. Namun, jangan sampai salah prediksi, karena apabila benar-benar akan diwujudkan, maka teknologi blockchain akan memainkan peran yang paling besar dalam proses pembuatannya.

Fitur-fitur Web3

Sama seperti Web 2.0 yang menawarkan tingkat kecanggihan yang lebih besar dari halaman statis Web 1.0, Web 3.0 tentunya juga harus merepresentasikan adanya kemajuan teknikal di dalamnya. Tapi, apakah sudah ada yang muncul?

Untuk menjawabnya, kita bisa mengacu pada aplikasi online yang menganut prinsip web3 dan yang sudah cukup banyak tersedia saat ini. Tapi, meskipun adopsi massal itu bagaimanapun juga mustahil dapat terjadi dalam waktu semalam, kita sudah bisa melihat beberapa aplikasi ini dan menggunakannya sebagai template untuk tampilan Internet dalam waktu dekat

Sementara itu, fitur utama web3 sendiri berkaitan dengan penggunaan fitur berbagi data sebagai alternatif dari kepemilikan data. Dalam hal ini, teknologi blockchain memungkinkan semua pengguna untuk memverifikasi informasi dan berkontribusi pada informasi yang disimpan di blockchain.

Di samping itu, web3 juga nantinya akan mencakup aspek-aspek metaverse yang sering kali masuk dalam cerita fiksi. Kemudian, ada pula grafik 3D yang lebih canggih, serta augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) yang akan digunakan untuk aplikasi di web3.

Berikutnya, yang berpotensi jadi paling penting, yaitu web3 akan menggunakan teknologi smart contract. Singkatnya, fitur ini dapat membantu menciptakan bentuk Internet yang trustless dan sangat mengurangi kebutuhan akan perantara pihak ketiga.

Use Case Web3 dan Contohnya

Kebanyakan orang sudah menerima bahwa agar sebuah aplikasi dapat dikategorikan sebagai aplikasi yang dioptimalkan untuk web3, mereka perlu memanfaatkan potensi teknologi blockchain. Artinya, semua cryptocurrency, dApps yang menggunakan kripto, proyek DeFi, non-fungible token (NFT), DAO, dll, juga termasuk dalam kategori itu.

Dengan kata lain, proyek kripto yang menganut konsep desentralisasi sendiri sudah siap untuk menyambut realisasi web3. Hal ini sudah bisa kita lihat di proyek seperti Bitcoin, marketplace NFT, platform media sosial dengan dukungan kripto, seperti Steemit; game play-to-earn, atau platform move-to-earn, seperti Sweatcoin.

Manfaat yang Bisa Dibawa oleh Web3

Ada banyak manfaat yang akan muncul ketika kita membahas peralihan Web 2.0 ke Web 3.0. Tapi, siapakah yang akan menerima manfaat utamanya? Apakah ada yang dirugikan dari perkembangan teknologi semacam ini?

Jika perubahan yang diusulkan itu diadopsi dalam skala besar, maka hal tersebut akan menguntungkan pengguna internet biasa. Pasalnya, Web3 secara teknis berarti bahwa setiap pengguna dapat berkontribusi dalam pembangunan Internet. Hal ini juga berarti bahwa sebagian besar kewenangan perusahaan teknologi besar akan berkurang dan dibagikan ke seluruh populasi yang ada.

Di samping itu, Web3 juga punya lebih sedikit dampak negatif terhadap lingkungan. Sehingga, ini akan menjadikannya sebagai model yang berkelanjutan dan akan meningkatkan konektivitasnya. Kemudian, smart contract dapat membantu membuat Internet menjadi sistem yang trustless. Penggunaan AI dan web semantik akan membantu manusia memanfaatkan daya teknologi modern dengan lebih baik dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan manusiawi (human error).

Apakah Web3 Akan Sukses?

web2 vs web3

Namun, meskipun ada yang diuntungkan, tentunya ada juga pihak-pihak yang akan dirugikan dengan kemunculan Web 3.0 ini. Andaikata rencana desentralisasi yang sejati berhasil diterapkan, maka ini akan mempengaruhi perusahaan-perusahaan teknologi besar yang sudah sangat diuntungkan ketika Internet beralih ke pendekatan yang lebih komersial di Web 2.0.

Terkait hal ini, sudah ada beberapa pemimpin penting perusahaan teknologi yang sudah mengindikasikan kurangnya optimisme mereka terhadap Web 3.0. Contohnya seperti pendiri Tesla, Elon Musk, yang pernah mengklaim bahwa baginya, web3 terlihat seperti taktik pemasaran. Kemudian, mantan CEO Twitter, Jack Dorsey, juga percaya bahwa desentralisasi tidak mungkin dilakukan. Dorsey mengklaim bahwa perusahaan teknologi besar tidak akan membiarkan diri mereka kehilangan kendali atas kewenangan yang mereka punya saat ini.

Agar Web 3.0 bisa menjadi kenyataan, kita memerlukan adopsi teknologi blockchain dengan skala yang lebih besar. Apabila tren baru-baru ini yang sangat positif terus berlanjut, kita mungkin bisa menyaksikan sebagian dari perubahan tersebut diterapkan dalam waktu dekat.

Web2 vs. Web3: Perbedaan Utama

Blockchain Scalability
Perbedaan Web2 dan Web3

Kita bisa memahami web3 secara lebih baik melalui perbandingan dengan web2 yang akan digantikannya. Untuk itu, mari kita lihat beberapa perbedaan utama di antara keduanya.

Desentralisasi

Di Web 3.0, jaringan terdesentralisasi akan memastikan bahwa setiap individu memiliki kendali atas data online mereka. Hal ini juga berarti bahwa kewenangan yang ada di dalamnya akan disamaratakan. Dengan begitu, yang mendukung jaringan satu individu atau institusi tertentu. Di samping itu, semua orang yang terlibat dalam operasi blockchain akan mendapat tanggung jawab dan reward yang sesuai.

Privasi

Pengguna Internet modern sangat memperhatikan privasi. Apalagi, berbagai outlet berita dalam beberapa tahun terakhir ini sudah membedah berbagai kebocoran data yang terjadi. Web3 sendiri mengklaim bahwa mereka akan menawarkan tingkat privasi yang lebih tinggi. Sebab, penyimpanan data pribadi yang terdistribusi akan menawarkan kontrol yang lebih besar kepada individu atas data mereka.

Di samping itu, mereka yang mendukung inovasi tersebut juga percaya bahwa privasi yang web3 tawarkan bisa memungkinkan pengguna untuk tidak terlalu bergantung pada perusahaan pihak ketiga dalam mengelola data mereka. Tapi, ada juga yang mengkritik gagasan ini. Karena, bagaimanapun juga, yang mengklaim bahwa gagasan bahwa semua informasi tersedia untuk umum di blockchain justrubertentangan dengan konsep privasi yang lebih maju untuk penggunanya.

Trustless dan Permissionless

Demikian pula, penggunaan smart contract dapat membuat internet trustless. Artinya, individu tidak perlu menaruh kepercayaan mereka pada aktor pihak ketiga. Contohnya, seperti perdagangan yang bisa dieksekusi secara otomatis berdasarkan fitur yang dienkripsi dalam smart contract.

Internet juga akan menjadi permissionless. Setiap pengguna bisa memvalidasi transaksi, atau melakukan penambangan, di blockchain. Kemudian, setiap pengguna juga bisa memakai fitur seperti membeli atau menjual tanpa perlu meminta izin dari pihak ketiga.

Konektivitas yang Lebih Luas

Ditambah lagi, web3 juga akan membuat Internet di masa depan mempunyai konektivitas yang jauh lebih luas. Penggunaan data semantik juga seharusnya bisa membantu menciptakan cara baru untuk mengatur, menggunakan, dan menemukan informasi. Dan semua ini dapat meningkatkan pengalaman pengguna.

Haruskah Kita Bersiap Menyambut “Internet Generasi Baru”?

Pengembangan web3 sendiri masih dalam tahap awal. Jadi, kita masih belum bisa memperkirakan dengan pasti bagaimana hasilnya. Ada beberapa aspek yang hampir pasti akan terjadi, tapi ada juga yang sangat diharapkan, yaitu seperti desentralisasi penuh yang pastinya akan menghadapi berbagai kendala.

Meskipun demikian, setiap individu pastinya sudah berekspektasi akan adanya sejumlah besar perubahan dalam hal bagaimana kita berinteraksi di Internet dalam sepuluh tahun ke depan. Periode ini akan menjadi masa-masa yang menyenangkan dan penuh dengan peluang.

Untuk mendapatkan informasi terbaru tentang web3 dan teknologi lainnya di industri blockchain, kamu hanya perlu bergabung dengan grup Telegram BeInCrypto. Di dalamnya, kamu bisa mendapat informasi terkait perkembangannya dan berkesempatan untuk melakukan interaksi dengan mereka yang sependapat denganmu.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa itu web2 vs web3?

Apa kegunaan web3?

Apa itu perusahaan web3?

Apa saja hal yang membedakan Web 3.0?

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan Web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori